Agama

Tadjdid nurcholis madjid

Pemikiran nurcholis majid tentang islam mengagetkan banyak pihak. nurcholis menyetujui sekularisa di dalam islam. maksudnya untuk menduniawikan nilai-nulai yang sudah bersifat duniawi.
AKAN diri Nurcholish Madjid (djabatan resmi: kedua kali Ketua Umum PB HMI), pernah ramai orang berbitjara. Bermula dari referat jang dibatjakannja pada malam Halal bihalal ormas-ormas pemuda Islam di Djakarta setahun lalu, jang kemudian dimuat teks lengkapnja misalnja di Indonesia Raya dan Mimbar Demokrasi, berbagai reaksi dan persetudjuan dan rasa terkedjut timbul dimana-mana. Begitu penting rupanja sampai baru-baru ini keluar sebuah pamflet jang menghimpunkan teks tersebut dengan bandingan-bandingannja, konon dari tokoh-tokoh muda pilihan.*

Tak heran. Referat itu sendiri, "Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat", bitjara dalam bahasa jang singkat dan umum, dan tidak mustahil hal itu turut memantjing kegegeran ala kadarnja. Kenapa? Nurcholish, setelah merasa tidak waktunja lagi mempertahankan idaman "persatuan umat" dengan membiarkan kebekuan berpikir, melontarkan beberapa istilah jang sensitip dikalangan Islam: sekularisasi, non-tradisionalisme, non-sektarianisme dan sematjam itu.

Tenggorokan. Maka bangkitlah Abdul Qadir Djailani, salah-satu tokoh dalam lingkungan pemuda Islam. Dalam chotbahnja dimasdjid Menteng Raja, seperti dalam tanggapannja jang diikutsertakan dalam terbitan pamflet, tokoh ini mengemukakan satu hadis jang meramalkan akan lahirnja "anak-anak muda jang masih mentah pikirannja", jang "mengutjapkan kata-kata Rasul, tetapi iman mereka tidak sampai melampaui tenggorokan". Kelandjutan hadis itu sudah diduga mendjadi maksud Qadir Djailani: satu sikap konfrontatip tanpa kurang barang sepeser. Dan sikap konfrontatip djuga dipertundjukkan di Jogja atau dimana-mana, sebutlah misalnja Ahmad Azhar MA tokoh penting Muhammadijah.

Dengan begitu setidak-tidaknja satu sukses telah ditjapai Nurcholish: satu shock, satu kedjutan, jang seperti dikatakannja dalam beberapa pidato, perlu dipukulkan kekepala umat jang konon lagi enak tidur-tiduran. Tapi djustru dari situ orang boleh mendapat djalan untuk menjerang. Paling tidak menilai referatnja bukan sebagai ulasan netral terhadap gedjala-gedjala psikologi-sosial jang tumbuh dikalangan Islam, tapi lebih sebagai satu taktik jang disusun dalam pidato didaktis seorang pemimpin. Nurcholish sendiri mengakui bahwa beberapa segi jang dikemukakannja tidak lain alat-alat shock-therapy, mengobati dengan tjara membikin kaget. Karena itulah sebabnja Ismail Hasan Metareuem mentjoba menerka bahwa hati Nurcholish sendiri sebenarnja "tidak sepenuhnja menjetudjui beberapa istilah jang dikemukakannja itu".

Haram. Pertama sekularisasi. "Dengan sekularisasi", demikian Nurcholish jang menjetudjui sekularisasi berkata, "tidaklah dimaksudkan penerapan sekularisme dan merobah kaum Muslimin mendjadi kaum sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai jang sudah semestinja bersifat duniawi". Maka fahamlah orang mengapa istilah jang diharamkan kalangan Islam itu djustru dibawanja kemana-mana. Tapi, lepas dari soal kedjut-kedjutan, tinggallah masalah lebih fundamentil: "menduniawikan nilai-nilai jang sudah semestinja bersifat duniawi" ternjata bukan hal jang terlalu djelas diterima kalangan Islam, seperti ditjerminkan para pembahas dalam pamflet itu. Sialnja, dalam sekian diskusi dan bahasan Nurcholish tidak terlalu tjemerlang memberi tjontoh mana nilai-nilai duniawi jang oleh orang Islam sudah diachiratkan.

Sebab tjontoh bedug dan kain sarung (jang duniawi) jang harus dipisahkan dari sahnja shalat jang uchrawi, itu kabarnja soal jang sudah dipetjahkan bapak-bapaknja Hamka dahulukala. Sedang soal kawin-mengawinkan korma jang konon memantjing komentar Nabi: "Kamu lebih tahu urusan duniamu", adalah semata soal teknis sematjam bila Muhammadijah mengganti perdukunan dengan poliklinik atau tahajul-mistik dengan keradjinan rakjat. Sehingga, orang bisa bertanja: apa jang baru dalam pikiran Nurcholish?

Menara. Jang baru sama sekali mungkin tak ada. Tapi Nurcholish setidaknja merangsang pemikiran kembali, untuk mendjawab soal mengapa umat Islam sekarang terkebelakang. Dan djawaban jang diharapkan tidaklah sekedar djawaban itu-itu sadja, misalnja "karena umat Islam meninggalkan adjaran Islam" titik. Sebab sudah galib dianggap orang bahwa "memegangi adjaran Islam" sadja belumlah mampu menjelesaikan soal. Masdjid-masdjid baru, sederhana dan praktis didirikan dimana-mana dengan menara-menaranja jang mendjulang tjantik, dan para muda berchotbah atau berdebat didalamnja, sedap dipandang. Namun apa jang mereka bintjangkan dan chotbahkan dan perdjuangkan tidaklah lebih dari sekitar Al-Islam ja'lu wala ju'la 'alaih. Islam tinggi dan tak ada jang lebih tinggi. Agaknja tidak terlalu banjak dari mereka jang mau menerima kenjataan populer seperti jang ditjatatkan Usep Fathuddien: bila orang Islam jang "penuh Qur'an Hadis" duduk dalam satu djabatan dan ingin mentjoba mempraktekkan rumusan-rumusan Qur'an Hadisnja, maka iapun mengalami "ketiadaan konsepsi jang applied jang ia perdjuangkan".

Dan memang itulah alasan terbesar bagi Nurcholish untuk bitjara. "Apa jang terdjadi sekarang", kata tokoh ini, "ialah bahwa umat Islam kehilangan kreativitas dalam hidup duniawi ini, sehingga mengesankan seolah-olah mereka telah memilih untuk tidak berbuat dan salah". Dan kesan itu benar adanja. Maka orangpun berbisik: diperlukan pimpinan baru. Pimpinan ini, jang agaknja masih harus dibiarkan mengkritik bapa-bapa mereka dan berdebat terus-menerus dengan saudara-saudara mereka, adalah mereka jang setelah memegangi Adjaran, tidak semata berangkat dari dalil-dalil seperti lazimnja, tetapi berdjalan hati lebar fikiran terbuka, berani memetjahkan problim-problim tanpa terus-menerus takut dibentak pak kijai. Djuga berani mengakui kemungkinan, bahwa kebenaran tidak selalu berasal dari rumah sendiri. Dan kemauan tadjdid, pembaruan, jang diteriakkan Nurcholish Madjid adalah menundjukkan naga-naga muntjulnja pemimpin seperti diharap. Walaupun untuk keseluruhan masalah umat Islam Nurcholish berkata: "Rasanja kita masih djauh dari keadaan jang menjenangkan itu".

* Pembaharuan Pemikiran Islam, dikumpulkan oleh Utomo Danandjaja, Islamic Research Centre Djakarta, 1971, 84 halaman.
POKOK & TOKOH

Bertanding di lapangan golf

Raja minyak ibnu sutowo ikut turnamen indonesian open golf championship 1971, di rawamangun. ia tak sekadar bisa main. teknik permainannya sudah menyamai pemain prof. tapi tak berpotongan atlet.

KOLOM

Diperlukan Pendekatan Institusionil

Untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 6%,perlu ditingkatkan perbaikan organisasi, struktur pemerintahan dan perekonomian. perbaikan bidang ini sangat lambat.