Diperlukan Pendekatan Institusionil
Angka pertumbuhan ekonomi jang relatif tinggi selama 1968 itu kemudian diterima dengan perasaan ragu-ragu dan diberi keterangan bahwa dalam tahun 1968 kebetulan iklim sangat baik sehingga panen padi mentjapai rekord. Akan tetapi mendjelang achir tahun jang lalu diumumkan angka-angka pendapatan nasonal tahun 1969, dan angka tersebut menundjukkan kenaikan produk domestik bruto sebesar 6,2%, meskipun iklim selama tahun tersebut tidak terlalu baik dan produksi padi hanja bertambah sedikit sadja. Angka-angka pendapatan nasional tahun 1970 belum tersedia tapi data-data produksi sudah mulai terkumpul dan perkiraan-perkiraan sementara menundjukkan bahwa djuga dalam tahun 1970 perekonomian telah berkembang dengan ketjepatan diatas 6%, bahkan mungkin mentjapai 7%.
Maka sibuklah para sardjana ekonomi, mulai dari jang ada dalam lingkungan dinding Universitas di Salemba 4, jang selalu kerdja lembur di Bappenas, sampai pada ahli-ahli Bank Dunia di Washington, meneliti dan membolak-balik lembaran-lembaran penuh angka-angka indikator ekonomi Indonesia, seperti seorang dokter jang setiap saat mengambil temperatur pasiennja untuk mejakinkan bahwa keadaannja benar-benar telah bertambah baik.
Jang membuat hati mereka berdebar-debar bukan sekedar kenaikan pendapatan per capita sebesar 3,5% setahun selama 3 tahun terachir ini, melainkan timbulnja pertanjaan: apakah tanda-tanda jang ada menundjukkan bahwa perekonomian Indonesia benar-benar sedang menudju "take-off" jang telah lama dinanti-nantikan itu? Sekarang masih terlalu pagi untuk bisa mendjawab pertanjaan itu, tapi djika ladju pertumbuhan perekonomian bisa dipertahankan seperti sekarang sampai achir dasawarsa ini, maka bolehlah dikatakan bahwa ekonomi Indonesia benar-benar telah meluntjur dan lepas dari landasan untuk mentjapai take-off. Dan kita mengetahui bahwa take-off itu hanja terdjadi satu kali sadja, dan sekali perekonomian telah mentjapainja maka proses pertumbuhan selandjutnja akan berlangsung seolah-olah otomatis. Dan, proses tersebut tidaklah bisa diputar surut (irreversible).
Bagi penduduk, pertambahan pendapatan nasional rata-rata 6% setahun berarti bahwa tingka hidup masjarakat rata-rata akan dua kali lipat dalam waktu satu generasi, atau dengan kata-kata lain anak-anak kita tingkat hidupnja rata-rata akan dua kali lebih tinggi dari kita.
Adakah tjukup alasan untuk merasa optimis? Ada, tapi ada pula alasan-alasan untuk chawatir dan prihatin. Hal-hal jang memberi harapan antara lain ialah adanja kenaikan dalam investasi, baik jang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta nasional dan asing, kenaikan dalam produksi beras akibat kemadjuan dalam teknologi "revolusi hidjau", dan terutama kenaikan dalam hasil ekspor jang antara 1967-1970 telah bertambah dengan rata-rata 15% setahun.
Kalau menteri Sumitro hampir setiap minggu memberi laporan tentang perkembangan ekspor dan djumlah devisa jang didjual dibursa valuta asing, hal itu dapatlah difahami mengingat betapa pentingnja ekspor dalam seluruh proses pembangunan sekarang ini. Ekspor sekurang-kurangnja mempunjai dwifungsi, jang pertama sebagai penghasil devisa untuk alat pembajar impor kita, jang kedua sebagai saluran pemasaran bagi kenaikan produksi dalam negeri.
Selama Indonesia belum memiliki industri sendiri jang bisa menghasilkan barang-barang modal, spareparts, dan bahan baku, selama itu peningkatan investasi dalam negeri selalu akan disertai kenaikan impor barang-barang tersebut. Oleh karena kemampuan mengimpor ditentukan oleh kapasitas ekspor, maka djelas bahwa ekspor sangat menentukan bagi ladju pertumbuhan ekonomi, walaupun untuk sementara kebutuhan devisa sebagian masih bisa dipenuhi dengan pindjaman luar negeri dan penanaman modal asing.
Dalam hubungan ini sangatlah menarik hasil studi Bank Pembangunan Asia jang antara lain mengatakan bahwa dalam dasawarsa 70-an ini prospek ekspor negara-negara Asia Tenggara adalah djauh lebih baik daripada dugaan semula. Hal itu disebabkan karena negara-negara Asia Tenggara letaknja paling dekat dengan pasaran-pasaran jang berkembang paling tjepat didunia sekarang ini, jaitu Djepang, Korea, Hongkong, Taiwan dan Australia. Tanpa perubahan kebidjaksanaan jang besar, menurut laporan tersebut, negara-negara Asia Tenggara akan bisa menaikkan ekspornja dengan 7-8% setiap tahun. Lebih-lebih lagi bagi Indonesia, dengan hasil ekspor minjak, kaju dan hasil mineral lainnja, harapan ekspornja tjukup tjerah.
Jang membuat kita prihatin adalah masalah-masalah institusionil dan jang berhubungan dengan sikap atau tingkah laku (behavior) pelaku-pelaku dalam perekonomian. Profesor Gunnar Myrdal dalam bukunja The Asian Drama pernah mengkritik para sardjana ekonomi bahwa mereka terlampau terpusat perhatiannja pada variabel-variabel makro seperti volume uang, modal, tabungan, dan sebagainja dan kurang memperhatikan segi-segi kelembagaan dan sikap perbuatan unit-unit ekonomi seperti si pengusaha, sang pedjabat padjak, kepala djawatan, penguasa setempat, dsb. Dalam masa stabilisasi antara 1966-1969 kebidjaksanaan pemerintah boleh dititikberatkan pada pengendalian satuan-satuan makro seperti volume uang, volume kredit, besarnja defisit anggaran, dsb, tapi dalam pembangunan sekarang hal itu tidak tjukup.
Ladju pertumbuhan ekonomi dimasa-masa jang akan datang tidak hanja ditentukan oleh besarnja dana untuk investasi, tapi lebih-lebih lagi oleh sikap pelaku-pelaku dibidang pemerintahan dan perekonomian pada umumnja. Untuk masa-masa jang akan datang, djika ladju pertumbuhan ekonomi ingin dipertahankan pada tingkat jang sekarang, lebih banjak perhatian harus ditudjukan pada perbaikan organisasi dan struktur lembaga-lembaga pemerintahan dan perekonomian, serta mentjiptakan iklim jang mendorong kegairahan usaha dan memupuk perbuatan-perbuatan jang menguntungkan pembangunan ekonomi. Sampai sekarang perbaikan dibidang ini sangat lambat. Pendekatan institusionil ini tidak mudah karena menjangkut bidang-bidang politik, sosial dan kulturil, akan tetapi harus ditackle kalau kita ingin berhasil mentjapai take-off dalam waktu jang tidak terlalu lama.
