Media

Mat Kodak & Tops

Seorang fotografer UPI di Jakarta, Cassius kemasang, mempunyai gagasan mendirikan klub fotografer pada 1970 berdirilah "Tops". mereka berambisi menjadi wartawan foto yang profesional.
INILAH Indonesia (entah dinegara-negara lain): sepotong benda-mekanis jang bernama foto-toestel atau kamera, sekalipun disandang oleh seorang jang berpakaian tidak begitu rapi, dapat merupakan djimat bertuah melebihi sahnja setjarik undangan resmi. Terkadang bahkan mampu menggugupkan pendjaga pintu buat melupakan soal "bawa undangan atau tidak", sebab sang pemanggul kamera dianggap sebagai wartawan.

Demikianlah, dalam peresmian Djakarta Fair 1970. Menteri Penerangan Budiardjo terkedjut menjaksikan barisan "Mat Kodak" ini. Konon kemudian beliau mengingatkan supaja PWI menertibkan. Sebab tidak kurang dari 400 orang berlalu-lalang digerbang, bermain dengan lampu kedjut tanpa mengindahkan apakah orang bakal sering terkedjut. Dan orangpun bingung, dari suratkabar mana sadja mereka ini datang?

Djamal. Memang ada wartawan tulis djuga merangkap buat memotret, mendampingi para wartawan potret. Namun buat mentjapai angka 400 apalagi semua mengaku wartawan, tentulah mustahil adanja. Tapi inilah kenjataannja, orang terlalu mudah menganggap tiap penjandang kamera itu wartawan. "Tapi jang salah bukan penjandang alat potret itu", fotografer djago tua Djamal menjatakan pendapatnja. "Soalnja penerbit atau koran jang pertama-tama harus menjeleksi mereka". Djamal benar, pengamatannja pada tjara menerima seseorang tjalon pemotret disebuah surat kabar membuktikan betapa gampang memperoleh sebutan wartawan foto. Dibandingkan dengan tjara menerima seorang wartawan tulis, maka "surat kabar atau madjalah menerima fotografer, 60% disebabkan fototoestel-nja", kata Djamal.

Tidak puas pada sikap gampangan ini ditahun 1970 Taunus Cassius Kemasang, bekas fotografer UPI di Djakarta, mengetengahkan gagasan pada beberapa pemotret lainnja buat mendirikan sematjam klub fotografer. Pemotret seperti Leo Surjaningtyas, Lukman Setiawan, Johnny Litahalim, Djamal, memberikan sambutan baik. Maka dibulan Oktober 1970 berdirilah "Tops" dan setjara administratif dipimpin oleh Sidharta, wartawan Indonesia Raya.

Sombong. "Tops" berarti "mereka jang paling unggul". Adakah itu sebuah lambang kesombongan? "Betul. Ada itu kesombongan pada kita", Djamal mengangguk-angguk. "Hanja perlu difahami, kesombongan disini dalam artikata baik. Jaitu, kita berambisi mengisi bidang fotografi pers setjara profesional".

Apa itu profesional dalam pers-fotografi? Konon soalnja menjangkut sikap. Dan sikap bisa ada, djika seorang tjukup memiliki watak. Sedang watak bisa ada, djika orang mengenal kehidupan. Atau dalam kalimat Djamal: "Seorang pemotret tidak tjukup hanja menguasai segi teknis sadja. Seluruh aspek kehidupan ini perlu ia kenal. Mereka perlu mengetahui sosiologi, filsafat, dan lain-lain, dan bahkan sampaipun mengenai gastronomi atau ilmu masakan ada perlunja diketahui". Dengan begitu Djamal sudah tentu menuntut terlalu banjak terhadap seorang fotografer. Tapi ini mungkin perlu dalam djaman fotografer-fotografer "gampangan" dewasa ini.

Dengan mengetahui meski serba sedikit pelbagai pengetahuan umum maupun chusus dari rupa-rupa ilmu ini, maka lapanglah djalan bagi sang pemotret dalam menjelesaikan tugasnja: menterdjemahkan berbagai situasi kedalam bahasa fotografi. Inilah jang hendak dikedjar oleh pemotret-pemotret Tops. "To see for the millions" kata Djamal. "Melalui foto, seorang pemotret berbitjara buat sedjuta mata". Dan hal itu katanja, hanja mungkin ditjapai sedjauh sang pemotret mampu mengenal dan mengakui bahwa dimuka matanja ada hidup djutaan persoalan.

Tapi adakah "Tops" dapat menutup beajanja hanja bertopangkan kesempatan mengisi suratkabar atau madjalah? "Sudah djelas tidak", kata Sidharta. "Dalam rentjana djangka pandjang, "Tops" djuga akan berusaha dibidang foto iklan". Dalam ichtiar mengawinkan impian dengan kenjataan ini, setjara keras Djamal berkata "Saja tidak malu kalau harus memotret pengantin. Sekarang malahan kita ingin mentjari seorang tukang potret pasfoto jang djago". Hari-hari ini, Tops tengah merampungkan persiapan foto mengenai "tatahidup kota dan pembangunan" atas permintaan pemerintah DCI.

Diskusi. Setiap hari Minggu sore fotografi-fotografi jang ingin membedakan diri dari tukang-tukang foto bermerk "Press" didjalan-djalan itupun mengadakan diskusi dengan buku-buku perbandingan dari luar negeri. Sementara itu, buat membentuk tjiri bersama, pentjantuman nama mereka pada foto harus disertakan nama "Tops" djuga. Itu belum tentu mendjamin bahwa merek tersebut disukai, sebab hasil-hasil mereka nampaknja belum banjak jang menarik perhatian.
POKOK & TOKOH

Bertanding di lapangan golf

Raja minyak ibnu sutowo ikut turnamen indonesian open golf championship 1971, di rawamangun. ia tak sekadar bisa main. teknik permainannya sudah menyamai pemain prof. tapi tak berpotongan atlet.

KOLOM

Diperlukan Pendekatan Institusionil

Untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 6%,perlu ditingkatkan perbaikan organisasi, struktur pemerintahan dan perekonomian. perbaikan bidang ini sangat lambat.