Mus di kiss
Singlet. Di Jepang ketika itu, Mus mengangkat seperangkat gamelan naik pentas untuk mengiringi instrumen jazz dalam dua aransemen jang khas Indonesia, Es Lilin dan Badjing Lontjat. Sambutan segera menjelimuti mereka hangat-hangat, bahkan saja sampai "dicium", kata Mus Mualim menjeling. Tjiuman itu bagi Mus pertanda kelebihan The Indonesian Six pimpinannja disamping beberapa grup jazz jang lain, jang djuga memperoleh medali penghargaan jang sama. Musisi jang kini berusia 36 tahun itu mengaku disamping istrinya, Titiek Puspa, bahwa ia memang belum pernah dimahkotai hadiah, tapi ia telah tjukup puas dengan tulisan-tulisan para kritikus musik di Jepang, seperti jang dimuat pada harian Asahi Shimbun dan beberapa koran beroplah djutaan lainnja. "Jazz Amerika rutin, Eropa dinamis, tapi sesuatu jang baru telah lahir dari Indonesia," komentar mereka.
Pianis ini djuga mempunjai rasa kurang puas terhadap pertundjukan jazz jang diselenggarakan di Jepang maupun Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Menurut pendapatnja kebanjakan pemain musik jazz, egois sifatnja. "Lihat seperti grup Jepang jang mendjadi tuan rumah dalam Expo '70 tersebut, mereka hanja memakai singlet," katanja pula. "Lihat pula The German All Stars pada pertundjukannja di Taman Ismail sebulan jang lalu, mereka keluar dengan pakaian seenaknja. Penonton aplaus, kasi tepuk tangan, membungkuk pun mereka tak mau," tambahnja. Menurut pendapatnja egoisme sematjam ini dengan sendirinja bisa mengakibatkan hilangnja komunikasi antara penonton dengan para pemain. Dari sudut pertundjukan sifat itu akan mematikan musik jazz. Djadi kelemahan jang ada dewasa ini adalah karena "kesalahan musisi dan bukan karena jazz sebagai musik," katanja.
Montir. Dikediamannja, dimana orang suka bitjara tentang musik dan segala seluk beluknja, Mus djuga membenarkan bahwa tjiptaan musik zaman dahulu dan sekarang tak ada perbedaan mutu, melainkan hanjalah karena perbedaan lingkungan dan waktu. "Andaikata Ismail Marzuki lahir sekarang, dia tidak akan mentjiptakan lagu-lagu romantik perdjuangan, Beethovenpun akan mentjiptakan musik seperti Beatle", katanja. Mungkin sadja demikian, meskipun djuga bisa djadi mereka sama sekali tidak mentjipta. Tapi jang djelas, musisi dulu mentjipta dengan sungguh-sungguh, konsentrasi jang kuat, hingga "tjiptaan mereka tak terkalahkan - tetap abadi", kesannja pula.
Kini barangkali, ia sendiri tidak banjak berfikir kearah itu, karena kesibukannja sebagai Anggota Dewan Kesenian Djakarta lebih banjak kepada pemikiran bagaimana mengakomodir semua tjabang seni musik jang ada, dari serius sampai pop. Baru-baru ini dengan atjara Pop goes to TIM ia berkesempatan mendatangkan The Reynettes dari Filipina ke Teater Terbuka Pusat Kesenian Djakarta. Djuga ikut serta Sitompul Sisters dan The Disc dari ibukota, dua grup pop Indonesia. Dari sini barangkali gagasannja tentang bengkel musik pop akan segera dilaksanakan. Ide itu kemungkinan besar bisa djadi karena nampaknja ia seorang montir musik jang ahli.
