Telur busuk untuk sardono
Belum puas dengan tjara kampanje sematjam itu, Sardono memasang iklan radio jang memantjing sekali. Katanja: "ja, ja, saja tahu. Saja tahu Pemilu itu penting, tapi kesenianpun tidak kalah pentingnja dengan masalah politik. Mas tahu, Sardono W. Kusumo akan mementaskan Samgita? Samgita djelas merusak senitari tradisi. Senitari tradisi kita dalam bahaja....".
Telandjang. Reaksi dari iklannja itu memang bukan tidak ada. Kritik jang tadjam dilantjarkan setjara gentjar oleh empu-empu tari Djawa tradisionil di Sala. Bahkan bukan hanja kritik, tjemoohan, tjatji-maki dan djuga antjaman fisik datang bertubi-tubi. "A-susila", kata Pak Tandyo, Guru Konservatori Karawitan Surakarta itu tidak hanja puas dengan menjebutnja demikian. Ia meneruskan: "Masa penari puteri pakai pakaian begitu minim, bahkan nampak seperti telandjang. Sebagai karya seni ini malah dianggap merusak achlak!" Reaksi ini ditanggapi Sardono dengan mengemukakan pendapatnja: "Orang Djawa kan tjukup bidjaksana. Mereka bisa membedakan mana kesusilaan lahir, mana kesusilaan bathin".
Sikap antipati maupun simpati timbul sebagai reaksi rentjana Sardono. Sebuah statement dari seorang tokoh tari bekas anggota pimpinan Dewan Kesenian Surakarta (DKS), menuduh bahwa Samgita membahajakan. Isinja antara lain demikian: "Kubu-kubu pertahanan kesenian tradisionil di Sala masih kuat. Djangan sampai kena pengaruh kesenian Barat jang merusak keaslian dan keadiluhungan kesenian tradisionil ini". Ketua DPRDGR Sala segera memanggil Sardono untuk menanjakan kebenaran informasi jang kurang sedap didengar tentang Samgita-nja. Sardono telah datang memenuhi panggilan itu. Ia berdjalan meninggalkan tempat kediamannja didjalan Nonongan dan menudju ke tempat Soewondo SH, Ketua DPRDGR tersebut. Rambutnja masih gondrong dan penari itu tertawa dan berkata: "Saja bisa mengerti kalau orang melihat saja timbul image tentang hippies dan gandja, tjeking. Tjiri Sardono achir-achir ini tersebut menimbulkan image tentang Jesus Kristus pada Soewondo SH.
Busuk. Dan karena itu pulalah barangkali jang mendorong bekas anggota pimpinan DKS mengeluarkan statementnja tentang apa jang disebut-sebut sebagai "pengaruh kesenian Barat". Suatu statement jang sudah barang tentu tidak djelas hubungannja dengan telur jang kemudian dilemparkan kepementasan Samgita. Dan itulah peristiwa protes lempar terhadap seni jang kedua setelah peristiwa Rendra di Jogja, hampir 3 tahun jang lalu, ia pertama kali memperkenalkan teater Mini katanja. Beberapa penabuh gamelan Sardono urung naik pentas karena ngeri. Karena mangkelnja Sardono usul pada Pemerintah Daerah Surakarta untuk membentuk Dewan Pertimbangan Kesenian dimana Pemerintah Daerah bisa memperoleh informasi jang djelas dan bisa dipertanggungdjawabkan. Usul itu agaknja kurang menarik dan pementasannjapun tetap berlangsung dibawah teriakan-teriakan sinis jang amat mengganggu Samgita. Sementara sebagian besar penonton kelas belakang koor setjara kompak meneriakkan: "Por-no .... Por-no ...." dan seterusnja. Dan ketika koor mentjapai klimaksnja, sebuah telur busuk melajang.
Pelemparan telur itu tidak disebabkan karena pertundjukannja tidak bermutu, setidaknja menurut katjamata beberapa orang seniman jang datang dari Djakarta. Edi Sedyawati, anggota DKD berpendapat bahwa Sardono di Solo "lebih intens". Tapi seperti dikatakan Sardono sendiri: "Sala telah ketinggalan 15 tahun bila dibandingkan kota lain. Ia masih kota feodal, menutup diri terhadap ide-ide baru". Penari itu tidak terlalu subjektif dengan pendapatnja, karena memang demikian sebenarnja. Beberapa minggu jang lalu seorang pembantu TEMPO melaporkan bahwa kota Sala adalah kota jang paling sedikit petjandu batjaan-batjaan. Padahal, sebagaimana diketahui ide-ide baru selamanja dibawakan orang atau setidaknja dikabarkan lewat surat-surat kabar dan madjalah-madjalah. Drs Wisnuwardhana, salah seorang penari dari Jogja djuga seperti terbangun dari tidurnja ketika melihat reaksi masjarakat jang demikian fanatiknja, katanja: "Saja kira Sala lebih madju dari Jogja, tapi perkiraan itu terbukti meleset kini". Dan RH Prasmudji dari Laboratorium Kinetografi Indonesia djuga terkesiap dari impiannja serta bergumam: "Wah, beginilah kota kebudajaan Sala".
Polisi. Namun antjaman djuga tidak berhenti sampai disitu. Menghadapi sikap antipati jang begitu besar Sardono konon telah mentjoba melapor kekepolisian setempat. Tapi sial. Dikantor polisi itu terpantjang tulisan didinding: "Tidak melajani orang berambut pandjang". Terpaksa harus dihadapinja terus tantangan masjarakat setempat. Dalam diskusi jang diadakan malam berikutnja ia mengatakan: "Tidak ada pertentangan konsepsi. Jang ada hanjalah tidak adanja keterbukaan sikap". Mungkin begitu. Ketika Samgita dipentaskan pertama kali di Pusat Kesenian Djakarta, orang jang menentangnja mendapat kesempatan menjerang setjara langsung dalam diskusi jang diadakan setelah pementasan. Tapi dalam diskusi di Sala itu, hanja kawan-kawan dekatnja sadja jang hadir.
