Taksi-Meter
Petjat & skors. Tanpa ada jang melapor instansi jang menunggukan laporan itu sesungguhnja dengan gampang bisa menjelidiki sendiri dengan sekali-sekali mendjadi penumpang biasa. Dan disana ia akan mendapatkan pengalaman bahwa supir taxi menolak menggunakan taxi meter dan baru akan membawa penumpang kalau jang terachir ini bersedia membajar dengan tarif djam-djaman atau sekali djalan. Bahwa ketika tiba saat pembajaran, si supir tanpa berubah air muka menjatakan taxi-meternja matjet. Ataupun seperti jang dikatakan Kahar, supir sering mengakali penumpangnja, umpama dengan menutup taxi-meter dengan kertas berwarna hingga ketika sipenumpang menanjakan uang pembajaran supir langsung sadja menjebut djumlah jang tinggi. Untuk mentjek taxi-meter penumpang sudah terlalu lelah. Maka djadilah ia korban kesekian dari penjelewengan penggunaan taximeter. Belum lagi diselidiki berapa banjak penumpang di airport jang begitu butuh angkutan hingga mau bajar tinggi sesuai permintaan supir. Apakah dengan kenjataan ini semua orang dapat berteriak horee dan memastikan DCI telah gagal dengan djenis angkutan barunja itu? Ataupun berteriak horee dua tiga kali lagi karena DCI djuga gagal dengan bemo dan helitjaknja? (dua djenis angkutan untuk Daerah Bebas Betjak ini menetapkan tarif terendah Rp 75 padahalnja semestinja Rp 50).
Kegagalan-kegagalan ketjil tersebu diatas bukanah diluar dugaan. Bila penumpang begitu banjak sedang angkutan jang tersedia sangat terbatas, bukankah ini berarti membuka peluang bagi spekulasi. Dan sedjauh hal ini bisa dilakukan tanpa sanksi jang setimpal, tentu tidak ada alasan bagi setiap supir bemo, helitjak bahkan taxi (resmi) untuk tidak melanggar ketentuan-ketentuan jang berlaku. Dan sedjauh jang menjangkut supir taxi konon penjelewengan itu bukanlah sama sekali diluar pengetahuan madjikan mereka. Penertiban djuga konon bukan tidak dilakukan setjara kontinju. "Antara lain dengan menempatkan petugas chusus jang berkeliling mengadakan pengontrolan. Petugas-petugas itu gabungan Direksi dan DLLAD" kata Kahar. Tapi apa daja semua itu tidak mempan hingga terhadap supir-supir jang membandel dan begitu pintar melumpuhkan taxi-meter, dikenakan skorsing, bahkan pemetjatan. "Dan setiasupir jang dipetjat tidak bisa diterima lagi oleh perusahaan taxi lainnja. Karena pemetjatan itu dilaporkan pada perusahaan-perusahaan lain", Kahar menegaskan. Menurut keterangannja sampai sekarang dari seluruh perusahaan taxi sudah 100 orang supir jang dipetjat, bahkan Sri Medali jang baru punja 25 taxi sudah menskors 6 orang supir.
Mental. Ketjurigaan pada supir belakangan ini ternjata sudah merupakan hal jang tak dapat dihindarkan. "Mereka itu banjak ahli-ahli mesin", Kahar mentjoba menerangkan. "Mereka merubah mesin-mesinnja, meskipun alat-alat itu disegel. Sulit saja menerangkan setjara tehnisnja, bagaimana mereka mengadakan perubahan itu". Supandi Wiriadinata dari Bagian operasi perusahaan Sri Medali terus terang mengakui bahwa supir-supir banjak jang lihai. Bagaimanapun djuga tentu ada hal-hal jang sangat prinsipil jang menjebabkan supir-supir lihai itu sampai menjeleweng. Bila, seperti jang dikatakan Supandi, taximeter jang digunakan sepenuhnja akan menguntungkan, mengapa hal itu tidak mereka lakukan? Mungkin bagi supir Robert (31 tahun, anak 3) jang gadjinja Rp 5.000 per bulan tambah 7% dari penghasilan sehari persoalannja tjukup djelas, meskipun ia tidak akan berkata apa-apa tentang ini. Begitu pula halnja dengan supir-supir lain. Inti masalah agaknja berkisar antara honorarium Rp 400 dan setoran Rp 4.000 tiap hari, seperti jang berlaku disalah satu perusahaan taxi. Memang ada uang perangsang: untuk kelebihan setoran diatas Rp 3.000 dapat 10%, untuk kelebihan antara Rp 5.000--Rp 7.000 dapat 15% ditambah 10% pertama dan seterusnja. Tapi adakah mungkin mengumpulkan sekian banjak dalam tempo 17 djam sehari kerdja? Sulit, karena orang-orang Djakarta tidak begitu berminat untuk naik taxi. Atau menurut Supandi orang belum taxi-mindel "Kebanjakan penumpang menganggap taxi mahal", ia berkata tanpa menjesalkan siapa-siapa. Dan iapun tidak menjalankan penumpang bila para supir menjelewengkan taxi-meter. Itu soal mental pengemudi, menurut Supandi. Atau barangkali djuga soal 7 kebutuhan bahan pokok.
