Tambang Jalan Aneka Tambang
Meski 60 km jalur tanah berbatu-batu itu resminya milik PN Aneka Tambang, seperti yang tercantum pada papan penunjuk 7 km dari pusat kota Pelabuhan Ratu, tak urung Pertamina menggunakan juga jalan itu bagi penyaluran pupuk TSP & Urea ke petani-petani di desa sekitar, disamping angkutan-angkutan lain yang tidak begitu berarti, untuk membawa hasil bumi dari desa ke Pelabuhan Ratu atau Sukabumi. Karena itu, kendaraan yang sehari-hari tewat di sana bisa dihitung dengan jari, apalagi setelah emas Cikotok berhenti berkilau.
Gaya Aneka. Sepinya lalu-lalang kendaraan agaknya tidak menyebabkan surutnya kegiatan PN itu memanfaatkan setiap kendaraan yang lewat. Bagi kendaraan yang menginjakkan ban-bannya di situ, baik mobil penumpang, bis ataupun truk dikenakan semacam pajak jalan yang besarnya tergantung pada berat kendaraan. Tarifnya tercantum di papan dekat pos penjagaan PN Aneka Tambang di pangkal jalan partikelir itu. Kalau petugas pemungut pajak tidak resmi itu, ditanya akan keluarlah dari mulut mereka jawaban "untuk perbaikan jalan". Tapi kalau ditaksir jumlah pungutan yang masuk sehari, serta keadaan jalan yang sudah begitu parah tanpa perbaikan yang berarti semenjak dibuka sebelum PD II, maka ketahuan sekali kalau alasan itu cuma sekadar basa-basi, paling tidak untuk bisa mengurangi kedongkolan sopir-sopir, yang harus menipiskan kantongnya. Sudah tentu orang belum lupa pada larangan Presiden Soeharto terhadap pungutan-pungutan liar di luar pajak resmi yang ditentukan Pemerintah. Dan bila ingatan ini dihubungkan dengan pajak jalan gaya Aneka Tambang, bolehlah ditarik sebttah kesimpulan bahwa tindakan PN itu sukar untuk bisa digolongkan sebagai semacam servis bagi penduduk setempat. Belum lagi bila diingat, bahwa tambang emas PN tersebut sudah lama tak mendatangkan manfaat langsung bagi penduduk.
Sementara itu, dengan dibukanya jaringan microwave Jawa-Bali, banyak jalan jalan baru dari puncak-puncak gunung dibuka oleh Perum Telkom, sebagai jalur penghubung ke menara-menara relaynya. Bagi penduduk pelosok-pelosok terpencil, ini berarti terbukanya hubungan dengan tempat-tempat lain. Sudah tentu orang tidak mengharapkan bahwa Telkom akan lantas meniru cara-cara yang sampai kini diprakarsai PN Aneka Tambang untuk memelihara jalan jalannya. Disamping gerutu sopir akan makin menjadi jadi, pastilah rakyat tidak akan mengucapkan terima kasihnya pada cara macam ini.
