Mengancam apa
Kemudian, berikut ini cerita dari Wali Desa Tambun, Mardjuki Alam Tiga bulan berturut-turut mulai Juni hingga Agustus tahun ini, di pasar-pasar dan sekolah-sekolah Rekasi tertempel pamflet yang menggambarkan rasa tidak puas terhadap beberapa penduduk dan pejabat setempat. Pamflet yang pertama, awal bulan Juni, berbunyi: "Awas gadis remaja, She Len merajalela!" Kemudian: "Kalau pejabat tidak mau bertindak, kami akan bertindak sendiri!" Pamflet bulan Juli nadanya juga sama hanya sasarannya bukan lagi She Len yang dikenal sebagai informan KODIM, tapi Wali Desa Tambun sendiri. Dan pamflet ketiga bulan Agustus juga serupa, dan kali ini orang lain lagi yang kena sasaran. Orang ini bernama Musik - juga dikenal sebagai informan KODIM.
Laki bini. Rupanya cukup tiga kali. Sebab kemudian fihak yang berwajib segera menurunkan tangannya. Tapi siapa yang dicurigai? Sie I KODIM 4507 mencoba membuat analisa, hingga ahirnya yang jadi korban adalah Thamrin. Tuduhan kepadanya adalah: memasang pamflet yang dapat diartikan sebagai pengganggu stabilisasi Hankamnas menjelang sidang MPRS mendatang. "Bekasi adalah daerah penting, dimana lalulintas ramai melalui daerah ini, sehingga keamanan dan ketertiban harus dijaga ketat", kata A. Durachman, perwira Intel KODIM tersebut. Kepada M. Assegaff SH dari LBH, Letnan Satu ini befkata lancar: "Dugaan keras, pemasang pamflet itu adalah Thamrin". Dan sebagai penguat, di situ Durachman menyatakan kesediaannya untuk mengajukan 5 saksi tentang betulnya dugaan itu.
Seribu saksipun, beriar-salahnya toh urusan Pengadilan. Biarpun nampaknya pihak penahan yakin bahwa dalam soal pemasangan pamflet itu siapa tahu ada bau-bau politiknya, namun apa hubungan yang dekat antara oknum Thamrin dengan pamflet? Wali Desa Mardjuki Alam kembali bercerita: Menjelang berahirnya bulan Juli yang lalu, Thamrin datang kerumah Wali Desa: Ia mengadukan bahwa isteri mudanya bernama Sukinah, telah beberapa kali dibawa seorang Cina bernama She Len hingga Thamrin sampai pada kecurigaan bahwa kedua insani bukan laki-bini itu telah melakukan perzinaan.
Kurang ajar. Pada mulanya hubungan kedua insan itu biasa raja dan sama sekali tak mencurigakan Thamrin. Sebagai pedagang es, eceran, Sukinah biasa membeli es bahkan dari She Len yang memang memegang monopoli perdagangan es di kota yang jadi populer oleh sajak Chairil Anwar itu. Tapi hubungan ini, menurut Thamrin kepada Wali Desa, telah menjadi luar biasa setelah beberapa teman Thamrin memberikan laporan bahwa isteri mudanya itu sering ikut motor Honda She Len dan dibawa ke tempat-ternpat tertentu. Mula-mula laporan sukarela ini tidak digubris. Tapi ketika suatu malam Thamrin sendiri menyaksikan dengan mafa yang ada di kepalanya sendiri bagaimana sang isteri muda turun dari jok goncengan motor She Len barulah Thamrin yakin akan ihwalnya.
Nah. Mendengar laporan Thamrin yang memang masih famlinya ini, Wali Desa yang berdarah muda kontan mengambil langkah-langkah pembalasan. Dengan sepeda motor Honda 90 CC, itu Mardjuki Alam bersama seorang Hansip segera memburu She Len. Begitulah, ketika kemudian sampai di kompleks pelacuran desa Jatimuria, mereka berdua menemukan dengan She Len yang kebetulan akan keluar dari kompleks. She Len segera dihadang. Dan dengan membentak, Mardjuki menanyakan di mana isteri muda familinya berada. Tergagap-gagap She Len membantah telah membawa Sukinah. Tapi Mardjuki sudah terlanjur naik pitam. Sambil berkata: "kamu kurang ajar!." tangannya ringan melayang kemuka pipi Cina yang gugup itu. Untunglah berkat bantuan polisi, insiden ini dapat segera diatasi. Di situ juga She Len minta maaf dan berjanji tidak akan mengulang kebiasaannya menggandeng bini orang.
Intel. Demikianlah skenario alam itu telah membuat KODIM setempat sampai pada kesimpulan yang membuat Thamrin merana dalam tangkapan. "Kalau itu hanya soal pribadi saja kami tidak campur tangan", Perwira KODIM Durachman kembali mencoba mendudukkan perkara pada porsinya. "Tetapi isi pamflet itu menyangkut pemerintah, dalam hal ini mengancam pejabat Bekasi". Sebagai pejabat intel, tentu saja, Durachman harus selalu bermental awas, tapi tidak terang betul pejabat mana yang olehnya dikuatirkan terancam itu.
Hingga tulisan ini diturunkan, Thamrin masih dalam pemeriksaan dan sudah berada dalam tahanan Laksus Kopkamtibda KODAM V Jaya. Seperti dikatakan oleh Kolonel Urip Widodo, Wakil Kepala Staf KODAM V Jaya: "Harus diteliti apakah memang tidak ada maksud-maksud politis". Perwira ini kepada LBH menyatakan bahwa Thamrin tidak akan ditahan lebih lama lagi, asalkan diketahui betul bahwa persoalannya hanya urusan pribadi. Tapi yang jelas, demikian Urip, perkara ini cukup berat. "Isi pamflet ini telah mengancam pemerintah", kata Urip yang maksudnya adalah kalimat: "Kalau pejabat tidak bertindak, kami akan bertindak sendiri!". Tetap juga tidak jelas: aparat pemerintah mana yang diancam pamflet.
Hanya yang jeias, baik mereka yang sefaham dengan Ali Audah maupun bon.
