Kesehatan

Kewarasan Sumber Waras

RS Sumber Waras ditunjuk sebagai RSUP untuk Jakarta Barat. dana dari DKI habis untuk pasien-pasien tak mampu. penaikkan tarif kelas 1 & 2, untuk membantu pasien miskin. RS kekurangan tenaga perawat.
GUBERNUR Jakarta Raya telah menunjuk musing-musing sebuah RSUP untuk tiap daerah walikota: Walaupun begitu cerita membanjirnya pasien-pasien masih merumitkan pikiran dari Direktur RS-RS itu. Karena tentu saja penderita yang datang itu tak dapat ditolak walaupun penampungannya belum begitu layak. Maka di RS Dr. Tjipto Mangunkusumo masih tampak pasien-pasien yang terpaksa diberi tempat tidur di gang-gang dun sudut-sudut kamar. Belum lagi klinik bayinya. Apa boleh buat satu box tiga bayi harus berdempetan. Untuk mengatasi ini ruangan barulah yang dibutuhkan, disamping masih adanya RS-RS yang belurn lengkap klinik-kliniknya. Dan uang Rp 10 juta setahun sumbangan DKI rupanya, tak dapat menambah ruangan ini, karena digunakan husus untuk penderita yang tak mampu sesuai dengan tujuan.

Dr. Lukas Halim, Direktur RS Sumber Waras yang ditunjuk sebagai RSUP untuk Jakarta Barat, mengatakan sumbangan Rp 10 juta itu harnpir habis digunakan bagi penderita-penderita yang tak mampu yang membanjiri RS-nya. Memang Sumber Waras itu terletak ditengah-tengah daerah yang berpenduduk 1 juta jiwa yang kebanyakan adalah mereka yang datang mohon ditolong secara gratis. Padahal rumah sakit yang diusahakan oleh Yayasan Candra Naya d/h Sin Ming Hui ini, hingga kini masih membutuhkan penambahan ruangan dun klinik-kliniknya masih belum lengkap. Klinik penyakit kulit dan kelamin serta klinik penyakit jiwa di sini belum ada, kata Dr. Halim kepada TEMPO. Uang sumbangan DKI tidak akan digunakan untuk penambahan ruangan baru yang akan dilaksanakan, Karena memang tak mungkin dan tidak diizinkan.

"Rp 750 ribu setiap bulan, dana itu digunakan bagi mereka yang tak mampu" tambahnya. Dihitung-hitung maka jadilah Rp 9 juta setahun. Tapi, sumber Waras bukan tak pernah mengembangkan diri secara fisik. Tahun 1958 dulu hanya 29 pasien bisa diterima di sini, sekarang sudah berkapasitas 305 tempat tidur, kata Halim. Usaha-usaha pengembangan masih dijalankan. Management diperketat. Untuk membantu yang miskin, yang kaya harus ikut menyumbang. Maka dinaikkanlah tarif kelas I dan II menjadi Rp 3000 dan Rp 2000, sedangkan kelas I, II dun IV tetap Rp 750 dun Rp 100. Dan dalam waktu dekat, atas kerjasama dengan DKI akan dibangun pula klinik untuk corps diplomatik. Dana untuk ini akan dicarikan melalui para dermawan. Untuk Sumber Waras cara ini bukanlah hal yang baru, karena banyak sekali ruangan-ruangan di sana hasil sumbangan dermawan.

Tapi menurut Direktur RS ini para dermawan pun punya cerita sendiri. Yaitu keragu-raguan diantara mereka untuk menyumbang karena takut dikejar pajak. Maka, biarpun ada yang sampai menyumbang Rp 4 juta untuk menanggulangi penderita Eltor awal tahun ini, nama dermawan oleh Dr. Halim terpaksa dirahasiakan.

Perawat. Narnun apa yang disebutkan Halim tadi bukanlah jalan, yang terampuh untuk mengurangi banjirnya penderita dari kalangan rakyat itu. Dan kerugian yang diderita itupun tidak boleh berlangsung lama. Jalan yang paling baik, katanya adalah meningkatkan pendapatan-rakyat yang miskin. Ini tentu bukan bidangnya. Tapi usaha lainnya yang amat penting telah pula dijalankan oleh Dinas Kesehatan, yaitu meningkatkan kesehatan penduduk dengan mendatangi mereka. Karena tindakan-tindakan pengobatan saja tidak cukup maka dilakukan juga usaha pencegahan penyakit yaitu penyuluhan-penyuluhan kebersihan yang harus dijalankan terus-menerus. "Dengan jalan ini banjir pengunjung di berbagai rumah sakit di Jakarta ini bisa dikurangi", kata Direktur Sumber Waras itu. Tapi kesulitan tenaga bukan tak ada. "Kita sangat kekurangan perawat", katanya. Untuk membantu 31 orang dokter, Sumber Waras hanya, memiliki 128 perawat. Padahal perbandingan yang ideal adalah 1 : 10. Tapi RS yang dipimpin Halim ini belum begitu parah, karena seperti disebutkannya ada RS lain yang (entah mana) jumlah dokternya lebih banyak dari jumlah perawat.
POKOK & TOKOH

Tentang tergusurnya wiratmo tergusur dari tempat duduk

Wiratno tergusur dari tempat duduknya di golongan vip a, oleh eddy sumadi. ini dalam pembukaan pekan promosi batik. ny. tien suharto bertanya dalam soal kesalahan teknis ini. masalahnya telah clear.