Bali Versi Sofjar
Ratu. Kalau Frans Seda masih beranggapan, bahwa pemilihan ratu-ratu pariwisata ada manfaatnya bagi pariwisata tanpa anggaran husus untuk itu tidak demikian halnya Sofjar. "Pemilihan ratu-ratu pariwisata itukan hanya menarik bagi bapak-bapak kita di sini, bukan bagi turis-turis asing", ujar Sofjar pada TEMPO di restauran Geliga, mendahului pemutaran film. "Anak perawan di Bali" itu. Bagi dia, dan,juga bagi perusahaan penerbangan yang dipimpinnya, perlu ditempuh cara lain. Makanya, di tengah-tengah "boom" film-film Indonesia dewasa ini, dipilihnya perantaraan film itu. Boleh dibilang, pesawat-pesawat terbang Garuda dan Mandala tidak banyak ditonjolkan dalam film itu, malah tidak ada artinya dibandingkan dengan penonjolan panorama-panorama dan upacara-upacara adat Bali yang penuh semarak. Hanya saja, apa yang dalam pemilihan ratu-ratu pariwisata Indonesia masih disembunyikan di balik baju mandi, di sini diobral dengan murahnya. Sampai-sampai orang jadi bertanya: apakah kebebasan bak tanpa batas inilah yang ditawarkan pulau dewata pada pengunjung-pengunjung asingnya? Mana seluk-beluk kehidupan budaya dan peradaban Bali asli, yang juga berharga untuk dipertontonkan?
Ceritanya sederhana saja. Seorang pemuda Inggeris, David (Giorgio Ardisson) terdampar di Bali sebagai gelandangan. Oleh kepala polisi yang kasihan padanya (Eddy Moward), dia ditampung sebagai pandu bagi turis-turis asing. Lantas, tanpa sepengetahuan David sendiri, dia diselundupkan dalam komplotan pemilik warung yang diam-diam dicurigai jadi penyelundup emas (Pedro Sanchez), agar Polisi dapat membongkar kejahatan itu. Seorang inspektur polisi yang selalu berpakaian preman (Putu Widjaja), pura-pura menjadi temannya agar dapat membayangi dia terus-menerus. Setelah melewati berbagai lika-liku kejadian dengan banyak peran pembantu sebagai bumbu cerita, ahirnya komplotan sigendut Pedro Sanchez itu dapat digulung dan David keluar sebagai pahlawan. Sempat pula dia merebut hati seorang gadis manis, Maureen, ketika kedua insan kesepian itu terdampar di pulau Komodo.
Karapan. Didasari cerita ini, yang samasekali tidak menyinggung kontak antara bangsa asing dengan kultur pulau dewata itu secara mendalam, Bali lebih merupakan bahan dekorasi saja. Termasuk pula karapan sapi dari Madura, yang dengan satu dan lain jalan diselundupkan dalam kisah petualangan Giorgio "David" Ardisson itu. Dari Bali sendiri, ditampilkan pura Besakih, monyet-monyet suci, upacara pembakaran mayat yang hanya merupakan-sandiwara belaka dan Gua Gajah yang sudah kehilangan keangkerannya. Inilah cukilan-cukilan obyek-obyek pariwisata di Bali, yang mau dipromosikan di negeri-negeri Eropa dan Amerika di mana film ini menurut Sofjar akan dicdarkan. Boleh dikagumi juga keberanian jenderal KADIN ini, berspekulasi, sebab kalau bukan karena etiket "Bali"-nya, sukar diharapkan film ini akan laris ditonton orang.
Apakah rencana Sofjar selanjutnya, dan hasil sampingan apalagi yang dihaiapkannya dari film reklame ini? "Saya mau membikin film juga tentang danau Toba dan obyek-obyek pariwisata lainnya di Indonesia", begitu Sofjar menjawab pertanyaan TEMPO. Diakuinya pula, bahwa pembuatan filmnya yang pertama ini seluruhnya diongkosinya sendiri, tanpa fasilitas-fasilitas Pemerintah kendati dia dapat memanfaatkannya kalau mau. Kalau filmnya itu sukses nantinya, dia ingin melangkah lebih lanjut dalam processing dan ekspor barang kerajinan tangan Indonesia, menjelang, selama dan sesudah Konperensi PATA yang akan datang. Tampaknya, Dirjen Pariwisata Ir Prajogo telah mendapat sentilan halus dari Sofjar lewat film "Virgin in Bali" ini.
