• Home
  • 04 November 1972
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Sains
    • Pendidikan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 04 November 1972

    Kalau anu di ujung baru kilau anu di ujung batu

    DI daerah Tanah Laut, Kalimantan Selatan, bukan lagu Curiah Galuh para pendulang intan yang setiap harinya terdengar. Sebab ternyata bukan cuma batu berkilau itu saja yang terdapat dalam kandungan perut Kalimantan yang penuh berhutan perawan itu. Di daerah ini, kerja mencari emas sudah merupakan tradisi turun temurun. Tidak ada yang tahu persis, kenapa hal tersebut sampai bisa terjadi apa karena kecintaan mereka terhadap kerja galimenggali emas yang sudah sedemikian mendarah-daging, atau barangkali memang tidak ada mata pencaharian lain yang dipandang bisa mengalahkan kedudukan kilau logam mulia itu. Yang jelas, penduduk berpuluh desa daerah itu setiap harinya terus bersibuk diri menggali beratus-ratus lobang, mencari jejak logam yang dengan mudah bisa saja menggoncangkan perekonomian dunia. Lenggangan. Ujung Batulah rupanya desa paling beruntung, karena dalam perutnya emas paling banyak bersembunyi. Di sini, kesibukan gali-menggali jauh lebih kelihatan dibanding desa-desa tetangga. Pada musim hujan enggan turun dan matahari lebih banyak menampakkan diri sepanjang harinya, desa ini menjadi ramai. Kelompok-kelompok penggali yang biasanya terdiri dari 8 sampai 10 orang, ramai-ramai membuat ratusan lubang sedalam 10 hingga 12 meter. Untuk memudahkan mereka masuk ke dasar, dibuatlah tingkat-tingkat tempat mereka berpijak dari atas kelihatan mirip seperti trap. Tingkat itu biasanya berjumlah 7 atau 8 buah. Tentu saja, untuk mencegah hilangnya nyawa mereka, pada dinding-dinding lubang yang rapuh karena tanah gembur, dipasang penahan dari kayu-kayu kecil. Kerja mereka selanjutnya sebelum sampai pada tahap pencarian emas yang sesungguhnya, adalah menguras habis-habis air dari dalam lubang. Air yang kadang-kadang mencapai ratusan kubik itu dengan cara sambut-menyambut dikeluarkan, dan untuk ini bisa menghabiskan berjam-jam waktu. Setelah itu barulah mereka benar-benar menarungkan nasib mereka pada lubang-lubang yang telah kering tadi. Sedikit demi sedikit, lapisan tanah yang diduga mengandung emas dinaikkan dengan penuh ketelitian. Dan lumpur yang kemudian membukit di pinggran lubangpun mereka angkut ke kolam. Di sana, dengan alat lenggana tanah bercampur batu itu dibasuh. Orang-orang yang sudah demikian terbiasanya dengan kerja macam begitu, akan "menceboki" lumpur tadi secara hati-hati, sabar serta rasa cinta yang tidak tanggung-tanggung. Bila nasib mujur, bersembulanlah biji-biji, atau setidaknya serbuk emas diantara batu dan lampu tadi. Konon dari setiap lubang setiap harinya bisa diperoleh 200 sampai 300 gram emas. Lumayan juga. Bahkan kalau dewi Fortuna lagi berbaik hati, bisa saja ditemukan bongkahan logam seberat satu ons. Yang terakhir ini tentu saja tidak muncul saban hari. Menurut cerita seorang penggali kepada Pembantu TEMPO di sana, satu bulannya dari Ujung Batu rata-rata bisa dikeduk 4--5 kg emas. Lalu kepada siapa mereka menjualnya? Agaknya mereka tidak perlu terlampau kuatir. Pembeli-pembeli baik yang datang dengan uang tunai atau dengan janji, selalu kelihatan menunggu di daerah-daerah penggaliam Dan sambil bersila di tikar yang dibentangkan di tanah, dengan timbangan emas terletak di sela, setiap hari ramailah jual beli dilakukam Penggali-penggali yang kebetulan bernasib baik hari itu, akan pulang dengan beberapa lembar ribuan.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Kalau anu di ujung baru kilau anu di ujung batu

Mode

Etalase mewah di kaki lima ...

Pakaian dan kapstok

Keluar dari kurungan ayam

TEMPO|interaktif

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

Nasional

Seribuan Kura-kura Moncong Babi Dilepas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif