• Home
  • 09 Desember 1972
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Desember 1972

    Tongkat Putih Untuk Si Buta

    LIONS di sini tidak ada sangkut -- pautnya dengan binatang singa. Ia adalah singkatan dari Liberty-Intelligence-Our Nations Safety - sebuah perhimpunan sosial yang dirintis Melvin lones. Almarhum (1879--1916), seorang penduduk Chicago, Amerika Serikat. Lionisme ternyata mendapat pengikut di hampir seluruh arah mata-angin dan sekarang sudah menyebar di 147 buah negara -- kecuali negara-negara yang telah didominasi komunisme. Di Jakarta ia baru masuk 3 tahun yang lalu dan sekarang di Ibukota ini telah terdapat 3 Lions Club antaranya Lions Club of Jakarta Metropolitan (LCJM) pimpinan Eddy Kowara besan Presiden Suharto dan juga Presiden Direktur PT Tehnik Umum. Malang nasibnya, bahwa Lions Club ini agak kaget-kagetan ketika beberapa bulan lalu harus menerima tuduhan pahit dari Mendagri Amirmachmud sebagai "agen-agen subversi" seperti yang ditudingkannya pada PT Suburi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan berbagai universitas. Meskipun dari fihak Amirmachmud sendiri sampai hari ini tidak membuat ralat, namun LC agaknya boleh berjalan terus, termasuk yang ada di kota Medan yang telah berdiri menyusul Jakarta. Bahkan Gubernur DKI Ali Sadikin di ujung September yang lalu telah mengeluarkan surat keputusan untuk mengizinkan Lions Club Jakarta mengadakan kampanye tongkat putih. Ini sejalan dengan usaha yang dikhususkannya sekarang untuk membantu para tunanetra alias orang-orang buta yang di Jakarta saja konon mencapai jumlah 5.000 orang. Mengapa hanya tunanetra? "Tenaga dan anggota kami masih sangat terbatas", kata B.T. Sakloth, wakil ketua III LCJM yang juga ditunjuk memimpin Committee for the Blind. Sebelum ia digantikan orang lain yang bernama Panji. Tahun lalu perhimpunan ini telah menolong orangorang yang belum sempat buta tetapi tidak bisa melihat lagi secara normal, dan untuk orang-orang yang tak mampu membeli. Yaitu dengan menerima kiriman gagang-gagang kacamata bekas dari Lions Club di luar-negeri yang dikumpulkan dari para penyumbang dan LCJM membagi-bagikannya kepada mereka yang rabun setelah memberinya lensa yang cocok untuk ukuran mata si pemakai. Siti Nurbaya. Tetapi di tahun lalu juga LCJM telah mencetak 92 buah buku dalam huruf braille bagi murid-murid SD tunanetra Cilandak dan Cawang Di antaranya novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan yang dalam huruf braille ternyata tebalnya berlipat ganda. Untuk berolah-raga LCJM juga telah menyumbang 1 set meja pingpong di SD Tunanetra Cawang, "satu-satunya peralatan untuk berolahraga jenis ini bagi SD tunanetra di Indonesia" seperti dituturkan Eddy Kowara kepada TEMPO. Dan semenjak bulan-bulan ujung tahun ini hingga 31 Maret tahun depan sebuah usaha yang lebih besar sedang dilancarkan perhimpunan yang baru beranggota 29 orang ini. Setidak-tidaknya itulah yang dilukiskan Sakloth dengan gaya penuh semangat itu. Yaitu membagi-bagikan alat paling penting bagi orang tunanetra yaitu: tongkat. Syahdan ada dua jenis tongkat bagi orang-orang tak melihat. Pertama yang dapat dilipat dan disebut stick sedang jenis lainnya tak dapat dilipat bernama cane. Kedua-duanya terbuat dari bahan aluminium dan plastik, khusus akan dipesan LCJM di Malaysia. Ini untuk menggantikan tongkat kayu dan rotan manila yang sudah dikenal di negeri ini. "Percuma pakai tongkat bambu dan kayu" kata Eddy Kowara, sebab kedua jenis tongkat ini tidak begitu awet, mudah patah dan kalau dicat putih mudah mengelupas. Konon kedua jenis tongkat dari plastik dan aluminium tadi bakal dibagi bagikan secara gratis kepada mereka yang berhak memakainya lewat saluran seperti yang pernah dipakai ketika mencatat calon pemilih dalam Pemilu lalu: Walikota, Camat dan Lurah. Martabat. Soal warna putih tongkat tunanetra ini rupanya bukan cuma karena selera para pengikut lionisme metropolitan saja. Konon ada satu peraturan yang sudah diakui 80 negara tetapi tidak termasuk Indonesia--bahwa orang-orang buta yang bergerak di tempat umum harus membawa tongkat putih. Maka tidak syak lagi, kampanye pakai tongkat bagi orang-orang buta (yang kini sedang berlangsung--yang jika tak ada tuduhan subversi dari Mentri Amirmachmud tempo hari sedianya sudah dimulai bulan Juni yang lalu dinamakan white cane campaign. Dengan cane yang putih itu, maka benda tadi menduduki 2 tugas: sebagai pembantu mata kaki yang tak mampu menemukan jalannya sendiri, sekaligus juga sebagai simbul martabat orang buta yang memakainya). Sakloth melengkapi ceritanya dengan nomor contoh. Ali Partokoesoemo, 34 tahun dan bergelar BA kelahiran Semarang yang tunanetra dan pernah belajar tehnik mengajar bahasa pada orang buta di Selandia Baru, dipanggil. "Di sana masyarakat sudah menghargai betul simbol itu" kata Ali menceritakan pengalamannya ketika berada di negara tetangga kita sebelah selatan itu. Sambil membelalakkan matanya yang senyap dan hampa, anak Semarang itu bercerita bagaimana anak-anak dan orang dewasa di sana selalu berlompatan menolongnya menyeberangi jalan raya setelah melihat tongkat putih yang gemerlap di tangannya. Dan menurut Ali, pemakai tongkat itu agaknya mempunyai tehnik tersendiri pula. "Bila kaki kanan melangkah ke dengan tongkat diayunkan ke samping kiri" tutur Ali sambil memperagakan tongkat yang tak pernah luput dari pegangannya. "Dengan begitu kita dapat mengamankan medan di hadapan, setiap kaki hendak melangkah". Dan stick yang umumnya konon diperuntukkan bagi tuna netra VIP itu, segera bisa dilipat hingga tinggal sepanjang jengkal jika pemiliknya naik mobil. kereta-api atau pesawat terbang. Kartu-kartu. Kisah tentang masyarakat asing yang sudah sadar arti-makna tongkat putih seperti penuturan Ali, memang hal yang menarik. Tetapi perkaranya segera timbul: bagaimana mengumpulkan uang untuk memesan tongkat-tongkat ajaib itu? Tampaknya inilah sasaran kampanye yang telah mendapat izin Gubernur DKI itu. Yaitu denga-membuat 4 jenis kartu yang bakal disematkan kepada para dermawan. Kartu berwarna kuning emas bernilai Rp 10. 000, warna perak Rp 5.000 dan yang berwarna merah serta hijau masing-masing bernilai Rp 1.000 dan Rp 500. "Uang hasil penjualan kartu-kartu inilah yang akan dibelikan tongkat" kata Machdi, project officer kampanye ini. Menurut Panji sebagai ketua Komite Buta dari LCJM ternyata hasilnya cukup lumayan. Selama 2 bulan berjalan telah terkumpul Rp 2 juta. Padahal kata Panji, "pembelian kartu tadi tidak ada imbalannya, tidak sama dengan orang yang perlu ke klab malam dan mendapat imbalan berbagai hiburan". Menurut Machdi, jumlah yang ditarget kan untuk tahap pertama ini sebesar Rp 3 juta untuk membeli 5.000 buah tongkat. Sehingga alat itu akan sampai di tangari para pemakainya dalam bulan Pebruari tahun depan. Dan membeli kartu demikian agaknya baru pertolongan pertama yang diharapkan para tunanetra khususnya kepada para penyumbang yang baik hati. Bantuan berikutnya tentulah bahwa para pemakai tongkat putih itu kelak akan selalu mengingatkan bimbingan jalan kepada setiap orang yang melihatnya. Mereka mungkin para tunanetra yang selama ini berkeliling kampung dengan tongkat kaleng yang dihentak-hentakkan untuk menawarkan jasa sebagai juru pijet. Tetapi selebihnya, tentulah mereka juga anak-anak negeri ini yang karena nasib masih harus selalu menadahkan pertolongan, walaupun tak diucapkan. Dan sukses kampanye tongkat putih ini mungkin bisa juga tercapai melalui saluran yang sebaliknya dari ketika membagi-bagikan tongkat itu secara gratis kelak: bukan dari walikota turun ke camat dan lurah, tetapi dari walikota naik ke atas sampai para Menteri dan Presiden. Bahkan tidak ayal, mungkin di antaranya termasuk Menteri Amirmachmud yang tentu saja - akan lebih terharu melihat para tunanetra daripada tingkah subversif.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Trinitas desakralisasi politis ...

Tari

Menggali radap dan tirik

Ilustrasi

Mimi yang pandai menyanyi

Tambahan atraksi

TEMPO|interaktif

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

Nasional

Seribuan Kura-kura Moncong Babi Dilepas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif