Nasional

Sapi & Pengorbanan

Selesai sholat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Presiden Soeharto menyerahkan sapi untuk disembelih dan dibagi ke fakir miskin. presiden mengatakan bahwa menahan diri juga suatu pengorbanan.
DUA hari sebelum ribuan sapi menyemburkan darahnya sebagai korban peringatan terhindarnya Ismail dari golok Ibrahim, berkumpul sapi-sapi pilihan dalam satu Kontes Nasional Ternak Potong di Ungaran, Jawa Tengah. Lebih hebat dari semua jenis kontes kecantikan yang pernah ada di Republik Indonesia kontes yang satu ini dihadiri oleh Presiden Soeharto bersama para Menteri. Bahkan Kepala Negara mendapat kesempatan berpidato di depan sapi-sapi dan para pemiliknya. Sambil menekankan perlunya menaikkan dan memperbaiki mutu ternak Presiden juga herbicara tentang kenyataan "masih sangat banyak di antara kita yang tidak sekali sebulanpun makan telur dan minum susu". Menurut Soeharto, rakyat Indonesia kini hanya memakan 2,8 kg daging 13 butir telur, 0,5 liter susu setahunnya. "Pada hal menurut norma gizi setiap orang Indonesia perlu malah lebih dari kg daging setahun, 40 butir telur dan 2,5 liter susu", demikian Presiden di depan kontes sapi-sapi.

Ditabung di bank. Sepulang dari Jawa Tengah, ternyata Presiden Soeharto masih berurusan dengan sapi, meskipun kali ini cuma 2 ekor. Begitulah pada hari Senin, setelah selesai sembahyang Idul Adha di mesjid Istiqlal, Kepala Negara menyerahkan sapi untuk disembelih dan dagingnya kemudian dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Tapi sebelum berurusan dengan sapi, Presiden yang pagi hari itu nampak sarungan, sempat pula berbicara di depan jemaah yang memenuhi mesjid yang belum seluruhnya selesai itu. "Menahan diri juga suatu pengorbanan", kata Kepala Negara. Bentuk dari sikap semacam itu juga dengan jelas dipaparkan oleh Soeharto "Kepada mereka yang hidupnya jauh dari cukup, uang yang dimilikinya jauh lebih berguna bagi masyarakat apabila dimasukkan di bank, ditabung di pos ataupun ditanam pada usaha-usaha yang produktif".

Pidato Presiden itu terdengar luas berkat kerja para karyawan RRI yang mengudarakan pidato itu langsung mau pun melalui siaran ulangan. Dan esok harinya pun inti pidato yang menekankan perlunya sikap menahan diri itu tersiar kembali, baik melalui kolom-kolom belita ataupun liwat komentar-komentar di pojok dan ruang tajuk rencana. Koran Jakarta yang paling serius tapi juga prihatin dalam memberi tanggapan terhadap anjuran yang tidak lagi banl itu (Presiden Soeharto telah beberapa kali berpidato tentang keprihatinan dan sikap menahan diri) adalah Kompas dan Pedoman. Koran yang di pimpin oleh Ketua Umum PWI pusat, Rosihan Anwar, menyebut anjuran Kepala Negara terscbut sebagai sesuatu yang terlebih dahulu telah disuarakan dalam masyarakat. "Akan tetapi menurut hemat kita berbicara dan menganjurkan saja, betapapun amat perlunya berbuat demikian, tidaklah mencukupi", begitu tertulis. "Oleh karena itu sesudah anjuran dan peringatan diberikan perlulah disusul dengan tindakan-tindakan yang nyata, kongkrit dan tidak perlu sukar melaksanakannya, asal ada kemauan dan keberanian".

Bukan mustahil harapan yang dititipkan penulis editorial koran tersebut akan mendapat perhatian yang wajar oleh pemerintah, sebab Presiden Soeharto sendiri memang sudah berkali-kali memperingatkan perlunya kesederhanaan dan keprihatinan. Cuma saja soalnya pastilah soal waktu. Menjelang sidang MPR semuanya harus tertib, sedang tindakan-tindakan disarankan harian Pedoman itu bisa saja mengganggu, ketertiban. Baiknya difikirkan setelah hulan Maret berlalu saja. Ini tidak usah di risaukan benar, sebab sandiwara modern di TVRI juga harus istirahat sampai bulan Maret berlalu dengan tertib.
POKOK & TOKOH

Tak ingin film asal jadi

Film pertamanya,"twilight in jakarta", merugi, tapi filmnya yang ketiga membawa untung. itulah yang dialami ny tuty mutia harun rasidi, produser film. nyonya 42 th ini menyatakan tak membuat film asal jadi.

KOLOM

"Williamsburg II" Yogya Bahas ...

Pertemuan Williamsburg II di Yogyakarta membahas perkembangan asteng dalam dekade 1970. Aspri Presiden Ali Murtopo, berpendapat bahwa, negara-negara sedang berkembang harus bekerjasama dengan negara super power.

TempoInteraktif

Sepakbola
Messi Cetak Hattrick di Piala Raja
-----------------
Sepakbola
Spurs Hajar Burnley 4-1 di Piala Carling
-----------------
Timteng
Al-Qaidah Serukan Umat Muslim Serang Israel
-----------------
Sepakbola
Denilson Merapat ke Bolton Wanderers
-----------------
Basket
Gara-Gara Menyerang Gaza, Tim Basket Israel Kalah WO
-----------------
Timteng
Korban Tewas: Israel 10, Palestina 660
-----------------
Timteng
Israel Langgar Wilayah Udara Libanon
-----------------
Amerika
Obama Akan Komentari Timur Tengah Setelah Dilantik
-----------------
Gosip
Katie Holmes Belanjakan Rp 160 Miliar
-----------------
Raket
Taufik Hidyat Mundur dari Malaysia Terbuka  
-----------------