• Home
  • 20 Januari 1973
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Januari 1973

    Sapi & Pengorbanan

    DUA hari sebelum ribuan sapi menyemburkan darahnya sebagai korban peringatan terhindarnya Ismail dari golok Ibrahim, berkumpul sapi-sapi pilihan dalam satu Kontes Nasional Ternak Potong di Ungaran, Jawa Tengah. Lebih hebat dari semua jenis kontes kecantikan yang pernah ada di Republik Indonesia kontes yang satu ini dihadiri oleh Presiden Soeharto bersama para Menteri. Bahkan Kepala Negara mendapat kesempatan berpidato di depan sapi-sapi dan para pemiliknya. Sambil menekankan perlunya menaikkan dan memperbaiki mutu ternak Presiden juga herbicara tentang kenyataan "masih sangat banyak di antara kita yang tidak sekali sebulanpun makan telur dan minum susu". Menurut Soeharto, rakyat Indonesia kini hanya memakan 2,8 kg daging 13 butir telur, 0,5 liter susu setahunnya. "Pada hal menurut norma gizi setiap orang Indonesia perlu malah lebih dari kg daging setahun, 40 butir telur dan 2,5 liter susu", demikian Presiden di depan kontes sapi-sapi. Ditabung di bank. Sepulang dari Jawa Tengah, ternyata Presiden Soeharto masih berurusan dengan sapi, meskipun kali ini cuma 2 ekor. Begitulah pada hari Senin, setelah selesai sembahyang Idul Adha di mesjid Istiqlal, Kepala Negara menyerahkan sapi untuk disembelih dan dagingnya kemudian dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Tapi sebelum berurusan dengan sapi, Presiden yang pagi hari itu nampak sarungan, sempat pula berbicara di depan jemaah yang memenuhi mesjid yang belum seluruhnya selesai itu. "Menahan diri juga suatu pengorbanan", kata Kepala Negara. Bentuk dari sikap semacam itu juga dengan jelas dipaparkan oleh Soeharto "Kepada mereka yang hidupnya jauh dari cukup, uang yang dimilikinya jauh lebih berguna bagi masyarakat apabila dimasukkan di bank, ditabung di pos ataupun ditanam pada usaha-usaha yang produktif". Pidato Presiden itu terdengar luas berkat kerja para karyawan RRI yang mengudarakan pidato itu langsung mau pun melalui siaran ulangan. Dan esok harinya pun inti pidato yang menekankan perlunya sikap menahan diri itu tersiar kembali, baik melalui kolom-kolom belita ataupun liwat komentar-komentar di pojok dan ruang tajuk rencana. Koran Jakarta yang paling serius tapi juga prihatin dalam memberi tanggapan terhadap anjuran yang tidak lagi banl itu (Presiden Soeharto telah beberapa kali berpidato tentang keprihatinan dan sikap menahan diri) adalah Kompas dan Pedoman. Koran yang di pimpin oleh Ketua Umum PWI pusat, Rosihan Anwar, menyebut anjuran Kepala Negara terscbut sebagai sesuatu yang terlebih dahulu telah disuarakan dalam masyarakat. "Akan tetapi menurut hemat kita berbicara dan menganjurkan saja, betapapun amat perlunya berbuat demikian, tidaklah mencukupi", begitu tertulis. "Oleh karena itu sesudah anjuran dan peringatan diberikan perlulah disusul dengan tindakan-tindakan yang nyata, kongkrit dan tidak perlu sukar melaksanakannya, asal ada kemauan dan keberanian". Bukan mustahil harapan yang dititipkan penulis editorial koran tersebut akan mendapat perhatian yang wajar oleh pemerintah, sebab Presiden Soeharto sendiri memang sudah berkali-kali memperingatkan perlunya kesederhanaan dan keprihatinan. Cuma saja soalnya pastilah soal waktu. Menjelang sidang MPR semuanya harus tertib, sedang tindakan-tindakan disarankan harian Pedoman itu bisa saja mengganggu, ketertiban. Baiknya difikirkan setelah hulan Maret berlalu saja. Ini tidak usah di risaukan benar, sebab sandiwara modern di TVRI juga harus istirahat sampai bulan Maret berlalu dengan tertib.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Gedung besar di jalan thamrin

Unknown

Melodrama dan mutiara

Ilustrasi

Yth: tubuh-tubuh yang serba besar

Laut dan angin di belitung

Buku

Aspri dan akselerasi

TEMPO|interaktif

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

Nasional

Seribuan Kura-kura Moncong Babi Dilepas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif