Sapi & Pengorbanan
Ditabung di bank. Sepulang dari Jawa Tengah, ternyata Presiden Soeharto masih berurusan dengan sapi, meskipun kali ini cuma 2 ekor. Begitulah pada hari Senin, setelah selesai sembahyang Idul Adha di mesjid Istiqlal, Kepala Negara menyerahkan sapi untuk disembelih dan dagingnya kemudian dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Tapi sebelum berurusan dengan sapi, Presiden yang pagi hari itu nampak sarungan, sempat pula berbicara di depan jemaah yang memenuhi mesjid yang belum seluruhnya selesai itu. "Menahan diri juga suatu pengorbanan", kata Kepala Negara. Bentuk dari sikap semacam itu juga dengan jelas dipaparkan oleh Soeharto "Kepada mereka yang hidupnya jauh dari cukup, uang yang dimilikinya jauh lebih berguna bagi masyarakat apabila dimasukkan di bank, ditabung di pos ataupun ditanam pada usaha-usaha yang produktif".
Pidato Presiden itu terdengar luas berkat kerja para karyawan RRI yang mengudarakan pidato itu langsung mau pun melalui siaran ulangan. Dan esok harinya pun inti pidato yang menekankan perlunya sikap menahan diri itu tersiar kembali, baik melalui kolom-kolom belita ataupun liwat komentar-komentar di pojok dan ruang tajuk rencana. Koran Jakarta yang paling serius tapi juga prihatin dalam memberi tanggapan terhadap anjuran yang tidak lagi banl itu (Presiden Soeharto telah beberapa kali berpidato tentang keprihatinan dan sikap menahan diri) adalah Kompas dan Pedoman. Koran yang di pimpin oleh Ketua Umum PWI pusat, Rosihan Anwar, menyebut anjuran Kepala Negara terscbut sebagai sesuatu yang terlebih dahulu telah disuarakan dalam masyarakat. "Akan tetapi menurut hemat kita berbicara dan menganjurkan saja, betapapun amat perlunya berbuat demikian, tidaklah mencukupi", begitu tertulis. "Oleh karena itu sesudah anjuran dan peringatan diberikan perlulah disusul dengan tindakan-tindakan yang nyata, kongkrit dan tidak perlu sukar melaksanakannya, asal ada kemauan dan keberanian".
Bukan mustahil harapan yang dititipkan penulis editorial koran tersebut akan mendapat perhatian yang wajar oleh pemerintah, sebab Presiden Soeharto sendiri memang sudah berkali-kali memperingatkan perlunya kesederhanaan dan keprihatinan. Cuma saja soalnya pastilah soal waktu. Menjelang sidang MPR semuanya harus tertib, sedang tindakan-tindakan disarankan harian Pedoman itu bisa saja mengganggu, ketertiban. Baiknya difikirkan setelah hulan Maret berlalu saja. Ini tidak usah di risaukan benar, sebab sandiwara modern di TVRI juga harus istirahat sampai bulan Maret berlalu dengan tertib.
