• Home
  • 29 Desember 1973
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Desember 1973

    Mengguncang Angklung Yesus

    MASIH delapan belas hari lagi menjelang Natal, SD Kristen I Jakarta menyambut hari itu dengan konser angklung. Aula sekolah yang sempit itu penuh dengan pengunjung, walaupun masa latihan yang dimulai sejak April yang lalu belum membuat ke 38 nurid-murid kelas IV dan V itu kompak benar. Mcski begitu hampir ke 14 lagu yang di bawakan persis dua jan1 itu selamat sampai akhir. Sambil mengeja nada, beberapa anak rupanya berusaha untuk tidak ketinggalan pada giliran mengguncang angklung. Memang alat mengguncang instrumen bambu "adalah problem yang selalu saja terjadi", kata Imam Sukayat, "karena nada dipegang sendiri-sendiri". Pada beberapa bagian lagu seperti Tanah Tumpah Darahku karya C. Simanjuntak, kelemahan ini sering muncul. Bahkan penabuh dlum dan pukulan piringan logam itu lebih kentara sering telat. Tentu saja kelemahan tidak hadir pada setiap lagu. Pada Donou Wellen karya Johann Strauss, anak-anak asuhan Imam Sukayat itu memperlihatkan permainan lumayan. Pada bagian-bagian dalam tempo yang cepat -- cukup sukar murid-murid itu selalu berhasil sampai pada nada-nada yang diminta. Pada babak terakhir terutama, grup angklung tersebut dalam lagu-lagu Natalnya tidak terlalu mengecewakan. Penggunaan instrutnen giring-giring yang menimbulkan bunyi kayak genta gereja, misalnya dalam lagu Kesukaan Bagi Dunia (Joy to The World) karya Mendelsohn, setidak-tidaknya telah membantu menciptakan suasana suci hari besar Kristen itu. Tetapi beberapa lagu yang mestinya lebih bersuasana surgawi dengan bantuan sebuah paduan suara, ternyata tidak begitu baik. Misalnya Malam Kudus di frata. Koor keluar terlalu ragu-ragu. Tidak lepas, sehingga terasa ampang. Selalu panjang. Memang untuk mendapat grup angklung yang lumayan minimal dibutuhkan waktu satu tahun. Lagi pula bagi SD Kristen I, "musik tak usah memuaskan", kata Imam. "Kalau ingin yang memuaskan yah mestinya datang dari sekolah musik". Bagi guru seni suara itu, yang penting bukan musik nya tapi manusianya. Meberikan contoh grup angklung di sebuah Panti Asuhan Jalan Matraman, Imam menyebutkan betapa anak yang tadinya brandal dalam grup itu berubah menjadi sebaliknya. "Main angklung tak diperlu kan bakat", kata Imam lagi, "tapi disiplin". Bahkan menunjuk anak-anak asuhannya malam itu, pelatih angklung tersebut menyebutkan banyak anakanaknya yang tak bisa nyanyi. "Kalau pun bisa banyak yang sumbang dan musik hanya dijadikan media saja". Namun agaknya bukan tak mungkin di antara mereka ada juga yang punya bakat musik. Lagu-lagu klasik misalnya untuk usia mereka tidak mudah. "Memang sukar, tapi mereka bisa", kata Pak Kasur. Cuma bagi Pak Kasur mengajar lagu harus disesuaikan dengan umur. Katanya "Mesti lagu yang sudah dikenal, supaya gampang dihayati". Memang bisa mengajarkan lagu-lagu klasik, tapi membutuhkan waktu latihan yang panjang. Soalnya, pada lagu-lagu jenis ini yang sukar bukan nadanya, tapi ritmenya. Misalnya bagian yang memerlukan tempo yang sangat singkat sekali, agak sukar dipenuhi angklung Instrumen bambu ini mesti digunang dan hasil bunyinya tentu saja akan selalu panjang. Kalau hanya sekedar berlagu tentunya tidak ada masalah, seperti yang dilakukan SD Kristen ini. Sekolah ini memang tidak mempersoalkan mutu, tapi pendidikan.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Jalan salib yang modern

Buku

Buku pinter untuk pemimpin

Ilustrasi

Ratu-ratu tak kunjung bosan

Jalan-jalan, uang

TEMPO|interaktif

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

Nasional

Seribuan Kura-kura Moncong Babi Dilepas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif