• Home
  • 16 Maret 1974
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 16 Maret 1974

    Wabah Kulit Beras

    DI kota Ampenan, Lombok Barat terdapat tiga perusahaan penggilingan padi, yang berlokasi di celah-celah kediaman rumah penduduk. Tapi nampaknya hanya satu yang kurang mujur, dalam arti sering diprotes penduduk: penggilingan padi UD Ikadadi -- terletak di tepi jalan kampung Palembak, Ampenan Utara. Sudah lebih dari dua kali Ikadadi kabarnya diprotes penduduk seputar kampung itu, yang menudingnya sebagai biang penyakit pengotoran udara. Kapasitas gilingnya terbilang besar, seperti yang tengah digarapnya pertengahan Januari lalu sejumlah 2S0 ton. "Beras sebanyak itu harus disetor ke Dolog NTB selambatlambatnya 28 Pebruari" ujar Adi Nugroho, pemilik usaha penggilingan padi itu. Tapi justru pada hari-hari sibuk itu, tanpa diinginkannya mendadak cuaca mengajaknya bercanda. Angin bertiup dengan kencangnya. Berputar dan meliuk ke bawah, untuk sesaat kemudian melesat ke udara -- bagaikan sekawanan pesawat tempur pancar gas yang sesumbar di atas daerah musuh. Pohon bertubuh lunglai plus atap rumah yang terbuat dari ilalang, lintang-pukang dibuatnya. Dalam keadaan begitu tentu tak terkecuali sang angin membenahi kotoran-kotoran padi. Benda yang menyerbuk ini setelah dipermainkan di udara lalu berjatuhan di kampung sekitar itu. Akibatnya gawat juga: Ikadadi didemonstrasi. Kali ini tak melewati saluran kepala desa lagi. Sebab baik kepala desa atau kepala kampung sama mengangkat bahu tak tahu menahu. Itu menurut keterangan kepala kampung yang bersangkutan kepada pembantu TEMPO Oka Sunandi. Para penduduk yang mendatangi Ikadadi memperingatkan agar jangan berpangku tangan terhadap kotoran padi tersebut. "Kalau itu berakibat mengganggu kesehatan, izin HO bisa dicabut" cetus seorang penduduk. "Tak mustahil penyakit yang akhir-akhir ini berjangkit, sumbernya dari kotoran padi itu" tukas yang lain. Mun-Men. Apa yang dituduhkan sebagai biang penyakit itu, rupanya dihubungkan dengan penyakit campali yang menyebar di sana bulan Oktober tahun lalu, yang dalam tempo singkat menyerang anak-anak berusia 3 sampai 9 tahun. Lalu cepat menjalar ke seantero kampung, bahkan singgah pula di Mataram yang 5 km dari Ampenan. Antara Oktober sampai Desember lalu tercatat 40 nyawa anak-anak melayang. Yang terbanyak adalah dari kampung Palembak, sedang di kota Maltaram untung tak sampai merenggut nyawa. Serentak kendornya serangan campak, penduduk Ampenan kembali geger karena ada wabah baru: bukan sekedar menyerang anak-anak, tapi juga orang dewasa sampai kakek-nenek. Penyakit itu berupa muntah-mencret disingka "mun-men". Mulanya yang kena hanya penduduk kampung Jempong di bilangan desa Ampenan Utara, tapi kemudian sampai mengepung seantero kampung di Ampenan. Nasib baik sebegitu jauh tak sampai jatuh korban, untung Dinas Kesehatan setempat keburu turun tangan. "Penduduk kampung memang kurang sekali memperhatikan kesehatan lingkungan", kata Moyid kepala desa Ampenan Utara, yang wajahnya terbilang mirip Charles Bronson. Berkata begitu Moyid toh tak sempat berbuat banyak, karena kondisi kebanyakan penduduk di kawasan itu terdiri dari kaum buruh yang melarat. Rumah saja atapnya daun alang-alang, dinding gedeg dan malangnya jarak satu dengan lainnva keliwat berdempet. Selokan banyak yang dibiarkan mampet. Tambahan lagi sampah kian tebal menumpuk. Moyid memang sudah lama berniat membangun rumah sehat di desanya. Di Lombok, Moyid terbilang seorang di antara "kader perumahan sehat" yang pernah mengikuti kursus di Malang. Namun sebegitu jauh gagasan itu cuma bisa melayang-layang di seputar benaknya. "Maklum terbentur biaya" keluhnya. Selama kenyataan memang masih berputar seperti adanya sekarang, kehadiran perusahaan penggilingan padi seperti itu nyaris halal dituding sebagai sumber penyakit. Sehingga apa yang terjadi pada pertengahan Januari itu, justru di musim giling yang berpapasan dengan protes itu, toh UD Ikadadi dikabarkan cukup mengindahkan protes tersebut. Buktinya sehari setelah ditegur, yaitu 19 Januari, Adi Nugroho kontan mengistirahatkan mesin-mesinnya. Sedikitnya selama angin masih bertiup. Di samping itu dia berjanji akan melengkapi pabriknya dengan alat penyedot debu. "Pada saat mendirikan pabrik ini, kampung belum lagi sepadat sekarang. Tentu itu sebabnya saya diberi izin HO", agak kecewa Adi bercerita. Diingat-ingatnya bahwa waktu itu beberapa penduduk malahan dipindahkan ke kampung Jempong, di timur Palembak yang biayanya dipikul Ikadadi. Juga untuk keperluan penimbunan sekam telah dibelinya tanah kosong di belakang pabrik itu seluas satu hektar. Dari kenyataan begitu plus kecurigaan yang kian menggelembung dari kalangan penduduk akan mendaratnya itu penggilingan padi, bagaimana penguasa setempat membenahi urusannya? "Saya berada dalam posisi serba salah" tak urung Moyid mengeluh "bagaimana juga sikap saya terhadap Ikadadi, saya akan selalu dituduh sebagai orang yang kena suap" tambahnya. Lantas bagaimana'? "Saya serahkan atasan untuk menyelesaikan", jawabnya. Sementara itu dari Zakaria Faturrahman -- kepala sub direktorat perekonomian kabupaten Lombok Barat, TEMPO beroleh penjelasan "masih direncanakan mendirikan semacam daerah industri di Lombok Barat. Dan itu akan berlokasi di Dasan Cermen, wilayah kecamatan Cakranegara". Zakaria memang melihat tak genahnya usaha industri berada di tengah kota atau dekat kediaman penduduk. Seperti diutarakannya "nanti industri-industri di Lombok Baratahan tumplek di Dasan Cermen, tak boleh lagi di tengah kota". Ini tentu ada hubungannya dengan rencana perluasan kota. Kapan itu akan dilaksanakan, Zakaria hanya bisa menjawab "sayang gagasan itu hingga kini belum jadi rencana induk, sehingga pelaksanaannya akan makan waktu panjang". Jadi yang nampak kini adalah perlunya usaha penggilingan padi membenahi kotoran padi, sementara penduduk sebaiknya dianjurkan agar biasa membersihkan lingkungan. Bukankah nenek-moyang pernah berpetuah "kebersihan pangkal kesehatan ?".

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Jamur Kuping Si Melati

Jamur kuping si melati

Belajar, partikeliran

Seni Rupa

Kesenian rawa-rawa kesenian rawa-rawa

Buku

Boleh tidak tertawa

TEMPO|interaktif

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

Nasional

Seribuan Kura-kura Moncong Babi Dilepas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif