Lumbung Tanpa Padi
Lumpur & humus.
Bahwa Gambut sebagai penghasil biji padi, tak ada orang Kalimantan Selatan yang belum mengetahuinya. Kalau toh tak sempat datang sendiri ke desa itu, lewat nasi yang disuap pun orang akrab menyebut Gambut -- meski sesunguhnya bukan beras Gambut betul yang dimakannya. Sebab ada juga beras keluaran jirannya yaitu kecamatan Aluh-Aluh, Sungai Tabuk atau Kertak Hanyar. Bersama tiga kecamatan ini -- yang merupakan daerah persawahan pasang surut di kabupaten Banjar, Gambut merupakan lumbung padi kabupaten itu. Juga menolong kebutuhan beras untuk Banjarmasin. Ketimbang Gambut "dalam produksi, Aluh-Aluh lebih unggul" komentar seorang pejabat pertanian kabupaten Banjar kepada TEMPO Tapi bak pemeo buat dadih -- yang asalnya susu kerbau, tapi toh sapi yang dapat nama, begitu adanya Gambut yang terlanjur tersohor jauh sebelum tiga kecamatan lainnya itu muncul.
Gambut terletak di tepi jalan raya yang sibuk menuju lapangan udara Syamsuddin Noor Banjarmasin, muncul dalam peta bumi Zuiler en ooster afdeling van Borneo semenjak tahun 30an. Sebelum itu hanya belukar dengan kayu-kayu garam yang merayahi kawasannya. Semula jalan raya Banjarmasin-Martapura pun bukan seperti adanya sekarang, melainkan lewat jurusan Martapura Lama sekarang -- alias jalan sungai: Lulut-Sungai Tabuk-Keliling Benteng-Sungai Batang-Teluk Selong -- Keramat Pakauman. Tapi serentak terbuka jalan melewati Gambut di zaman Belanda, Gambut pun mulai membenahi rawanya. Ini dikerjakan oleh petani Hulu Sungai Utara -- yang memang terbilang sebagai petani gigih dan perantau. Begitu riwayat Gambut yang memang bertanah gambut, yaitu campuran tanah lumuh dan humus, serta-merta merupakan sumber persawahan yang diandalkan. Lebih-lebih setelah pengairannya diatur: air asam yang kecoklatan dialirkan ke sungai Martapura, sementara pasang Barito diundang menyinggahi tanah sawah.
Hujan & tikus.
Kini Gambut nampsknya belum seluruhnya tenggelam sebagai bahan cerita di hari kemarin, tapi masih berjaya -- baik areal sawahnya maupun mutu padinya. Dewasa ini pemilik sawah di sana terdiri dari para tuan tanah Hulu Sungai Utara, Martapura dan Banjar-masin, tak ada kecuali baik pribumi maupun non-pribumi. Singkat-nya mereka selalu kebagian hasil panen terbesar ketimbang petani penggarapnya, yang melupakan penduduk desa itu sendiri. Sehingga jangan heran sekalipun ada sawah membentang dengan hasil terbilang tak mengecewakan, namun anggaplah adanya gubug yang doyong di sana sebagai hal biasa. Kalaupun ada beberapa rumah yang rada lumayan, konon itu rumah pemilik sawah ataupun kerabatnya. Dan tak kurang dari bupati Suindiyo sendiri yang pernah melayangkan ucapan bersayap "janganlah Gambut hanya berbangga sebagai lumbung, tapi lumbungnya saja tanpa padi".
Tapi terlepas dari perkara lumbung saja atau padi saja, yang jelas desa kecamatan yang pernah jadi ibukota kewedanaan ini, sekarang sedang digalakkan usaha Bimas, meski tanahnya kurang sip untuk itu. Halangannya selain sawah lebih banyak dikuasai tuan-tanah, pun kurang mungkinnya Gambut mengikuti sistim pemupukan. Sebab galangan dan petak pengairan yang belum memungkinkannya. Kalau toh diberi pupuk, bakal larut terpencar. Namun ada juga beberapa petani di desa Malintang mulai musim tanam I974 ini diperkenalkan dengan Bimas. Harapan bakal berhasilnya pembimasan itu cukup ditunggu dengan berdebar, sebab ancaman tikus bukanlah sepele. Apa lagi dua tahun belakangan ini musim suka memperolok-olok patokan yang pernah ada di zaman nenek-moyang dulu: musim hujan bisa saja berkepanjangan.
Hujan berlebihan bisa memusnahkan padi, tapi tidak berarti memusnahkan pula tikus-tikus. Bila semula makhluk bergigi lentik ini mencium ancaman bahwa buru-buru mereka boyong bikin sarang di belukar. "Nah, inilah yang menyulitkan" keluh seorang petugas pertanian "racun tikus smpai sekarang belum juga datang". Tapi petani yang terbilang mampu, tak begitu kewalahan menghadang taktik "gerilya tradisonil" kaum tikus itu. Yaitu sekeliling sawah dipagari dengan plastik setinggi 4 meter, dengan kemiringan 30 derajat. Dengan begitu tikus tak mudah meniti sebah licin. Tapi harus dijaga juga jangan sampai ada ranting di dekat pagar itu, yang memungkinkan tikus bisa meloncat. Selain itu dilakukan pula ronda di sepanjang pinggiran sawah dengan menenteng lampu petromak, menyigi kalau-kalau ada tanah yang dikorek. Ketimbang gigit jari, tentu tak ada salahnya digigit nyamuk sedikit. Berapa ongkos empang plastik itu? "100 x 4 x Rp 100/ha sama dengan Rp 40 ribu perhektar" jawab seorang petugas pertanian sembari mencakar-cakar angka di kertas.
