Kaleng & Service
Inilah yang kemudian akan dikumpulkan sebagai dana bagi kegiatan-kegiatan pramuka. Sri Sultan misalnya mengungkapkan rencana Pendidikan Pembinaan Pramuka, perkemahan Wirakarya dan membantu pemerintah dalam pengelompokan penduduk (resettlement) sebagai usaha gerakan Pramuka yang memerlukan biaya cukup besar. Untuk ketiga jenis itu saja disebutkan perkiraan biaya Rp 400 juta. Itu belum termasuk penggalakan transmigrasi pramuka yang sudah dimulai sejak bulan Oktober 1972 dan peternakan lebah. Hingga kini saja sudah tercatat 204 orang transmigran pramuka di Lampung dan 75 orang yang ada di Kalimantan Tengah. Dan sehubungan dengan pengelompokan penduduk, transmigrasi pramuka ini akan merupakan pelopor-pelopor bagi penduduk pedalaman itu.
Satya Lencana
Walaupun dari fihak pemerintah juga menyediakan anggaran untuk kegiatan-kegiatan kepanduan, tetapi dengan rencana kegiatan yang tidak sedikit itu, rupanya fihak Gerakan Pramuka tidak ingin menggantungkan diri begitu saja kepada keuangan negara. Dan lebih dari itu, di samping mengumpulkan dana dengan sistim pelayanan --yang akan dimulai 3 Juli nanti -- dalam waktu yang bersamaan akan dimulai di lingkungan mereka sendiri. Berbicara di hadapan pers sesaat sebelum menerima sumbangan sebesar US$ 10.000 dari ketua Yayasan Pramuka Dunia pekan lalu, Sri Sultan menyebut dana yang dipungut dari lingkungan pramuka itu berkisar antara RP 10 sampai RP 100 (bagi pramuka anak-anak) dan Rp 100 hingga RD 1.000 (dewasa) setiap orang.
Tetapi lebih dari itu, kegiatan kepramukaan Indonesia telah menarik perhatian kepanduan dunia. William D. Campbell, Ketua Kehormatan Gerakan Pramuka Se-dunia yang juga Ketua Yayasan Pramuka Dunia, di Istana Merdeka Sabtu lalu telah mengangkat Presiden Soeharto sebagai Pelindung Pramuka Sedunia. Pengangkatan ini tentu berdasarkan sumbangan Presiden RI itu yang tidak kecil artinya bagi pembinaan dan bimbingan anak-anak muda Indonesia. Jabatan serupa ini juga telah dipercayakan kepada Paus Paulus dari Vatikan, Shahinshah dari Iran dan Kaisar Heille Selassie dari Etiopia. Demikian pula pada hari yang sama, Sri Sultan Hamengkubuwono selaku Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka juga telah meerima Bronze Wolf Award, tanda penghargaan tertinggi dari kepanduan dunia bagi mereka yang telah berhasil membina kepramukaan. Sebaliknya, sehari sebelum itu, sebagai Wakil Presiden II, Sri Sultan juga telah menyampaikan bintang Satya Lencana Kehudayaan bagi William Campbell dan Dr. Lasszlo Nagy, Sekjen Gerakan Pramuka Sedunia.
10 Juta
Agaknya perhatian organisasi kepanduan dunia terhadap pramuka Indonesia, terutama karena anak-anak muda di sini tidak hanya disibuki oleh baris-berbaris atau sekedar berkemah-kemah. Dari berbagai Wirakarya ternyata pramuka Indonesia telah menunjukkan hasil langsung yang dapat dirasakan masyarakat. Lebih penting dari ini, melalui transmigrasi pramuka, umpamanya, kepanduan kita tidak hanya mengikut-sertakan murid-murid sekolah, tetapi juga mereka yang putus sekolah. Menurut Dr. ziz Saleh dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, karena itulah sejak akhir tahun lalu atas anjuran Presiden Soeharto struktur kepramukaan dirubah. Yaitu, Gugus Depan yang dulu hanya terdiri dari pramuka-pramuka dari sesuatu sekolah, dirubah menjadi Gugus Depan yang berpangkal di sekolah. Dengan perubahan ini memungkinkan mereka yang tidak bersekolah lagi tetapi berada di lingkungan sebuah sekolah dapat bergabung dalam kesatuan pramuka sekolah tadi.
Tak kalah menarik dari itu, Indonesia ternyata mempunyai pramuka terbesar dibanding 107 buah negara dunia yang mempunyai gerakan kepanduan. Berdasarkan perhitungan menurut Aziz Saleh, pramuka Indonesia beranggota 10 juta orang, walaupun ketika diadakan semacam sensus kepramukaan hanya 1/3 yang mengembalikan formulir. Dari jumlah itu diketahui bahwa hanya sekitar 1,6 juta yang terdiri dari pramuka putera sementara selebihnya pramuka puteri. Tetapi dari semua itu, ternyata 75% dari pramuka yang ada hidup di desa-desa, yang agaknya sejalan dengan kegiatan kepanduan kita yang hampir seluruhnya berlangsung di pedalaman.
