Pangeran berpantang potret
Wajahnya Bercahaya
Tapi tak seorang pernah mengenal wajah sang pangeran. Tak ada gambar, lukisan maupun potretnya. Juga di Museum Mangkunegaran benda-benda itu tak tersimpan. Di sana hanya terpajang gambar-gambar Mangkunegoro II, III, IV, V , VI dan VII. Kenapa? Kecuali mungkin justru untuk menghormati kekeramatannya, sejak remajanya sang pangeran memang pantang berpotret. Keadaan ini berlanjut sampai 28 Desember 1795, ketika pada usia 72 tahun ia berpulang setelah 40 tahun memerintah. Meninggalkan seorang permaisuri, tujuh selir dan 25 putera, Samber Nyawa dimakamkan di tempat dulu ia pernah bertapa yaitu desa Mangadeg, di bukit Bangun lereng gunung Lawu antara Matesih dan Tawangmangu, kabupaten Karanganyar, 35 kilometer sebelah timur kota Sala.
Dan kini, orang pun tak diizinkan memotret makamnya. Ada yang percaya, tak seekor burung berani terbang di atas pekuburan itu. Bahkan kalau saja ada pesawat udara yang berani melintasinya, itu pesawat bakal jatuh berantakan, begitu. Dikisahkan pula bagaimana sang pangeran mendapatkan pasangan hidup. Bersama 58 pengikutnya -- 18 di antaranya pasukan berani mati -- Samber Nyawa menyusun kekuatan di desa Laroh, Wonogiri. Rakyat yang berdiri di belakangnya Dun menyambutnya dengan menggelarkan wayangkulit semalam suntuk. Karena inilah Raden Mas Said bertemu dengan Rubiyah, puteri Kyai Kasan Iman dari desa Matah yang pada setiap malam Selasa Kliwon (disebut malam hanggorokasih) wajahnya bercahaya. Sebagai permaisuri, Rubiyah mendapat nama Raden Ayu Mangkunegoro Sepuh bergelar Raden Ayu Kusumo Patahan.
Sang pangeran memang telah menjadi tokoh legendaris di kalangan orang Jawa. Cerita perjuangannya banyak dipentaskan oleh perkumpulan-perkumpulan ketoprak. Menjelang haul agung pun, Minggu malam 26 Mei yang lalu, grup sandiwara Warastrapura Korem 074 mementaskan cerita itu di pendapa Istana Pura Mangkunegaran. Pangeran Samber Nyawa dimainkan oleh Lettu Saranto, anggota Kopassanda grup III RPKAD -- dibantu pemain-pemain dari Kodim 0735. Polri Karanganyar, PWI Sala dan Pusat Kesenian Jawa Tengah. Sekalipun tidak menyanyi, tapi malam itu dua biduan keroncong S. Bekti dan Mini Sutoyo menokohi sandiwara itu pula.
Tiji-tibeh
Lalu 4 Juli, di ruang yang disebut ringgitan, 22 ulama membaca AlQur'an sampai tamat. Barangkali haul agung itu pun dimaksud buat meneladan cara hidup Samber Nyawa yang salih. Sudah tentu sesaji, dupa dan kemenyan dipasang di beberapa tempat, konon untuk menghalau setan jahat. Dan oleh karena tak kurang dari Ibu Tien Soeharto berkenan ziarah pula, maka jalan menuju Mangadeg pun diperbaikilah. Isteri Presiden ini, yang masih punya hubungan darah dengan sang pangeran, adalah juga ketua Yayasan Mangadeg yang berdiri 28 Oktober 1968.
Yayasan itu didirikan buat menghimpun dan menyebar-luaskan ajaran-ajaran Samber Nyawa, antara lain yang disebut tri dharma. Bahkan di Mangadeg, pada 8 Juni 1971 Presiden Soeharto -- bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-50 -- telah meresmikan Monumen Tri Dharma. Ajaran Samber Nyawa ini berbunyi mangsa memhandarbeni (merasa ikut memiliki), wajib mehangrungkebi (wajib ikut mempertahankan) dan mulut sarira hanyasawani (setelah mawas diri, berani berbuat). Ada pula ikrar Samber Nyawa bersama pengikut-pengikutnya yang terkenal yaitu: tyi-tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, bahagia satu bahagia semua).
Haul agung 6 Juli kemarin merupakan peringatan berganda. Sebab setelah 23 windu, menurut perhitungan tarikh Jawa, tanggal dari empat peristiwa ternyata telah merijadi satu. Yaitu hari wafat Samber Nyawa, tahun kelahirannya, tahun lolosnya dari istana Kartasura dan tahun kembalinya dari gerilya untuk dinobatkan sebagai Mangkunegoro I. Ketika genderang ditabuh oleh sejumlah prajurit kraton berseragam merah-putih bertopi merah, upacara pun dimulai. Lalu muncul barisan pembawa pusaka kraton -- disebut kyi Poh Jenggi, kyai Vandel, kyai Tambur dan senjata-senjata lain --berseragam abdi dalem, berkalung bunga melati.
Penghulu Kepayahan
Di meja panjang beralas kain putih bertabur bunga melati, pusaka-pusaka itu diletakkan di atas baki bertutup kain. Dalam suasana remang-remang karena lampu dimatikan, GPH Raditya putera Sri Mangkunegoro VIII, tampil membaca doa. Asap dupa kemenyan melambung menyebar bau harum. Sunyi, hanya suara 18 orang membaca tahlil terdengar. Tiada seorang jurupotret boleh menjepret. Empat puluh menit kemudian upacara selesai dan pusaka dibawa masuk kembali ke dalam istana. Serentak dengan itu, genderang pun bergemuruh, dan riwayat perjuangan Samber Nyawa dibaca.
Hampir 3.000 tamu hadir di sana. Kalau di kampung-kampung ada kebiasaan membawa pulang hidangan kenduri, maka para tamu di Istana Mangkunegaran diizinkan memiliki piring mangkuk senduk garpu plus kotak karton bekas tempat hidangan. Tentu saja ini meringankan kerja petugas yang harus membersihkan ruang pringgitan. Pagi harinya, Ahad dilanjutkan ziarah ke makam Samber Nyawa di Mangadeg. Kecuali kendaraan-kendaraan pribadi, tak kurang dari 75 colt membuntuti mobil Nyonya Tien Soeharto menuju makam yang dibangun megah. Jalan masuk yang empit tentu saja tak cukup menampung lebih dari seribu orang. Karenanya mereka pun masuk bergilir tiap 300 orang.
Bukan hanya penghulu yang nonstop membaca doa saja yang kepayahan. Tidak sedikit pula orang-orang yang letih mendaki puncak bukit Bangun itu. Beberapa orang priagung yang sudah kurang tenaga terpaksa diusung dengan tandu beratap daun nyiur. Empat orang yang suka rela mengangkut mereka tak mau dibayar --sebab sebagai abdibi dalem yang baik sejak zaman dahulu mengabdikan diri cara begitu merupakan kebaktian yang bahagia.
