24 Jam "Sidik"
9 X
Kejadian luar biasa itu -- ketika pers sedang lesu berita -- menarik perhatian publik. Tentu saja bukan karena masyarakat selama ini tidak tahu bahwa ada sogok-menyogok di kalangan aparatur negara, tapi justru karena praktek begitu sudah amat biasa dan meluas hingga jadi bagian dari hidup sehari-hari. Tindakan Sumarlin barangkali bisa menyadarkan kembali, bahwa yang sudah biasa itu tetap tidak betul. Dan Presiden Soeharto menggaris-bawahi peringatanitu. Sehari setelah sandiwara "Sidik" Kepala Negara dari sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional menginstruksikan semua Menteri untuk menindak tegas para pejabat dan pegawai-pegawai yang menyimpang dari peraturan yang telah digariskan. Menteri Penerangan Mashuri menjelaskan bahwa Presiden telah memerintahkan agar ke-5 pegawai KBN II yang telah dipecat itu dituntut dengan tuduhan melakukan korupsi.
Pembersihan memang telah dilakukan sebelumnya. Menteri Keuangan misalnya telah menindak 324 pegawainya sejak April 1973 hingga Juni 1974 yang lalu. Seperti pernah dikatakan Ali War&ana, ia baru "sampai hati" melakukan tindakan itu setelah gaji pegawai di Departemennya dinaikkan 9 x dari gaji pokok. Dengan demikian kenaikan gaji tidak cuma merupakan usaha perbaikan nasib, tapi juga memberi dukungan moral buat pembersihan dari atas. Maka jadi soal yang cukup klasik bagaimana membersihkan aparat pemerintahan lain yang gajinya begitu kecil dan terpaksa korupsi apalagi kalau penyeleweng yang gajinya besar tidak juga kena sapu. Walhasil pekerja an Menteri Sumarlin bakal tambah hebat dari sekedar jadi "Sidik", setelah masyarakat dibangkitkan kembali kesadaran & harapannya untuk melihat tindakan penertiban. Apalagi mulai sekarang mungkin banyak penyeleweng sudah mempelajari wajah sang Menteri baik-baik -- siapa tahu kalau dia nyamar lagi di depan hidung mereka. Maka ada pendapat bahwa yang diperlukan ialah melahirkan sejumlah "Sidik" baru atau satu lembaga "Sidik" khusus Kenyataan bahwa Menteri sendiri yang jadi "Sidik" menunjukkan bahwa tidak cukup "Sidik" yang di bawah perintahnya (ataupun di bawah Ali Wardhana untuk Departemennya sendiri). Sebab menyamar & memergoki penyeleweng tentulah bukan hobby Menteri Sumarlin, yang gemar tennis dan membaca.
