Pak dullah & raden sastro
Pak Dullah pada dasarnya sebuah naskah yang "berat". Tokohnya, yang diceritakan sedang in extremis (artinya: dalam keadaan paling kritis menjelang maut) banyak sekali mengobral perasaan dan fikiran-fikiran yang "ruwet" -- dan itulah dasar seluruh lakon. Ini cerita yang ditulis pada 1959: seorang bekas pejuang yang jompo tak tahan menyaksikan demikian banyak kebobrokan sosial -- yang sampai-sampai melumurkan warna hitam pada keluarganya sendiri. Isterinya, seorang pegawai sebuah jawatan dengan usia jauh lebih muda, bisa menghidupinya hanya dengan "merangkap kerja" sebagai gula-gula sang Kepala. Kepala kantor ini tak lain seorang bajingan yang dimasa revolusi dulu telah diselamatkannya dari hukuman tembak oleh sesuatu alasan taktis. Sementara itu menantunya sendiri pun seorang begundal. Letnan ini jelas hidup sebagai kaki-tangan para "importir" penyelundup, menghisap rizki di sela-sela intrik-intrik politik dan menyediakan berbagai keterangan palsu buat menjebloskan lawan-lawan ke penjara. Maka yang bisa diperbuat Pak Dullah yang putus asa, sebagai suatu "protes", tak lain membeli bubuk racun tikus -- lantas minum. Tapi justru di situ hati-nuraninya mengusik mempertanyakan betulkah tindakan itu bisa dibenarkan untuk seorang patriot moralis semacam dia. Suara hati nurani ini dalam naskah dihidupkan sebagai tokoh tersendiri -- diberi nama Pak Dullah II -- dan ialah yang bersama Pak Dullah menciptakan konflik dan menghidupkan berbagai macam adegan flashback.
Formalistis
Bisa dilihat bahwa lakon ini sebagai sebuah cerita, mandeg. Meski begitu daya tarik tak mustahil dimunculkam pertama, kwalitas materi-materi fikiran yang diperdebatkan kedua Pak Dullah. Kemudian cara pengarang merangkaikan semua itu dengan potongan-potongan flashback. Dan di sinilah kelihatan betapa perbincangan khususnya antara kedua tokoh tersebut (tentang moral, tentang korupsi, arti sebenarnya dari revolusi, keberanian maupun kesia-siaan) terasa lahir dari rumus-rumus -- butir-butir yang telah diformulir menjadi demikian kering dan formalistis. Tetapi suasana apak lebih-lebih lagi muncul dari jenis kalimat-kalimat Achdiat yang memang tak punya bahasa yang sugestif Karena itu pembicaraannya melingkar-lingkar buat "memperjelas" sasaran: ia bicara empat baris untuk materi yang sebenarnya bisa diantarkan dalam satu kalimat. Lebih lagi di sini tidak terlihat disiplin fikiran: bagai tulisan tangan dengan fulpen yang bocor, dialog banyak sekali meleber dan kadang-kadang menyebar jauh dari fokus -- hal yang juga masih terlihat dalam Raden Sastro yang ditulis kemudian.
Maka hanya dengan daya tahan luarbiasa akhirnya orang berhasil sampai ke bagian akhir: ketika pengarang memberitahukan bahwa menantu Pak Dullah sebenarnya seorang penyelidik (intel, begitu) yang selama ini ternyata sedang melakukan pengusutan terhadap kepala jawatan di mana isteri Pak Dullah bekerja -- sedang si isteri seakan-akan menjadi gula-gula sang kepala justru dalam rangka membantu rencana si menantu. Kejutan berikutnya datang ketika dokter menyatakan, bahwa racun tikus yang dibeli Pak Dullah ternyata belerang biasa. Tapi sementara Pak Dullah melonjak kelewat gembira lantaran lepas dari bahaya maut yang diciptakannya sendiri, penyakit darah tingginya menghajarnya ketika itu: ia menggeletak untuk selama-lamanya.
Panggung Dalam Kepala
Bagian akhir di atas memang merupakan perkembangan dari arus cerita yang mandeg itu: sebuah puncak dari satu "pendakian" yang susah-payah. Iapun sebenarnya bisa mengarahkan cerita yang terdiri dari pecahan-pecahan ke dalam satu kesan yang utuh, kalau saja cara pengarang menyusun panggung -- andaikata mau dituruti berdasar petunjuk yang diterakannya dalam naskah -- tidak sekedar melulu skematis. Achdiat memecah panggung menjadi tiga bagian: bagian tengah di mana kedua Pak Dullah bermain, dan bagian kiri dan kanan yang masing-masing juga dibagi menjadi bidang-bidang muka dan belakang. Bagian-bagian ini seluruhnya merupakan daerah flashback (menunjukkan markas, sel, kantor dan rumah makan), dan masing-masing dibatasi dengan cahaya.
Dengan lampu-lampu yang menyala bergantian, pembagian seperti ini justru lebih menghadirkan suasana statis: drama bermain terpisah-pisah sementara pemberian porsi yang sama belum-belum sudah meniadakan ritme. Pembedaan ruang Pak Dullah sendiri (yang dua kali lebih luas dari daerah-daerah lain) jelas tidak menolong ritme kalaupun memang itu yang dimaksud pengarang -- sebab daerah ini bukan daerah paling sibuk dibanding keempat bagian lain. Di samping itu agaknya masih bisa dipertanyakan: kalau memang ruang-ruang hanya dibatasi dengan cahaya -- yang memang tidak pernah memberi efek "setajam dinding" -- benarkah kelebihan daerah Pak Dullah akan cukup terasa? Bahkan benarkah seluruh pembagian itu tidak sia-sia? Hidup matinya lampu secara berganti-ganti untuk daerah-daerah yang telah ditentukan dengan statis dan terserak-serak tak lebih dari hanya menghadirkan kepingan-kepingan yang tidak mempunyai sebuah jalur perekat.
Faktor panggung itu penting. Sebab pementasan LPKJ justru memperoleh kekuatannya pertama kali dari sana. Sutradara, Pramana Padmodarmaya, dalam menghadapi "panggung dalam kepala Achdiat" telah melakukan tindakan yang sangat bijak: menyingkirkannya dan menggantinya dengan sebuah pola yang lebih padu. Pramana menggunakan level. Lebih separoh pentas Teater Arena malam itu ditutupnya dengan level -- dan itulah seluruh daerah flashback. Hanya di bagian depan sebelah tengah, lebih kecil dan tanpa level, Pak Dullah ditarok bersama duplikatnya plus satu-dua peran lain yang "lebih nyata". Sementara itu di bagian belakang level dibariskannya pula sederetan besar figuran, yang berfungsi sebagai pembangkit sound-effect, dan pembentuk gestur-gestur yang serempak dan manis terutama untuk adegan-adegan flashback. Gestur-gestur itu disorotkan oleh lampu di kaki mereka ke arah dinding putih di belakang kepala, dan demikian semua yang terjadi di pentas mendapat suasana-suasana.
Pengaburan & Penonjolan
Bisa dilihat pertama kali: betapa level dipakai sebagai alat pemberi sugesti yang membedakan daerah khayal dan daerah nyata -- dan tidak sekedar menunjukkan perbedaan tinggi-rendah tempat. (Kesadaran semacam itu memang tidak boleh dikatakan sudah populer ketika Achdiat menulis lakon ini). Antara kedua daerah itu Pramana menciptakan hubungan. Tokoh duplikat Pak Dullah misalnya berada baik di level maupun di bawah. Para pemain "alam nyata" pulang dan pergi dari deretan para figuran di belakang level, melintasi bidang itu dan masuk arena Pak Dullah. Di samping itu Pram mempekerjakan lebih dari seorang pemain untuk satu peran -- dan ini berguna bagi mengaburkan batas-batas antara alam nyata dan alam ilusi, kenangan dan purbasangka di kepala Pak Dullah -- yang akhirnya ternyata memang "tak begitu jelas kebenarannya". Demikianlah terdapat tiga pemain Karlin (isteri), dua atau tiga pemain Ruswan (bajingan kepala jawatan) dan dua pemain Musawir (menantu).
Bahkan peran Pak Dullah sendiri dalam satu adegan flahback mengalami pergantian orang untuk menunjukkan ketidakjelasan. Padahal sebelumnya Pram telah membagi tokoh Pak Dullah II (duplikat Pak Dullah) menjadi dua orang -- semuanya menjadi Pak Dullah, Pak Dullah I dan Pak Dullah II. Ini terutama digunakan untuk membagi dialog dalam naskah antara Pak Dullh & Pak Dullah II yang begitu berpanjang-panjang. Masih belum selesai. Pram mengekstrimkan beberapa adegan dengan mengeksploitir cirinya yang paling khas: adegan penyelundup dalam sel diperankan oleh Cina yang benar-benar totok dan memang lucu. Adegan dukun laki-isteri yang datang mengobati Pak Dullah yang dikira "kemasukan setan", dimainkan oleh seorang anak "tabib" India yang tiba-tiba begitu menggemparkan kocaknya (dan anak-anak yang "khas" agaknya memang tersedia di LPKJ).
Untuk semua konsep itu, hanya terdapat sebuah cacat. Akting-akting khayalan untuk adegan-adegan imajiner (sekretaris mengetik atau mengangkat tilpun, pelayan membereskan meja makan di restoran dan yang seperti itu) betapa pun terasa janggal baik dalam konsep maupun lebih-lebih dalam pelaksanaan. Sekiranya alat-alat pada adegan semacam itu tak boleh benar-benar dihadirkan, betulkah bagian-bagian tersebut tak bisa diganti -- sambil menghindarkan kemauan memperbanyak variasi?
Pentas Akuarium
Toh, dengan pola keseluruhan pentas semacam itu, selain kesan kesatuan terasa kukuh, banyak manfaat diberikan khususnya kepada blocking di ruangan Pak Dullah. Bagian Pak Dullah, yang sebenarnya merupakan "pohon cerita", adalah justru bagian verbal di mana tokoh itu berbaring di kursi malasnya setelah minum racun dan ngomong banyak-banyak. Dengan ruang yang relatif sempit maka garis-garis (gerakan) hanya tinggal dibebankan kepada duplikat-duplikat Pak Dullah plus satu-dua peran lain yang toh tidak harus banyak bergerak. Ini tiba-tiba menjadi penting bila diingat kebiasaan sutradara-sutradara yang baru mulai dalam membuat blocking.
Pementasan Raden Sastro yang telah disebut itu boleh menjadi contoh. Karya Achdiat yang lebih sederhana ini, dengan jalan cerita yang lebih bersih, adalah juga sebuah drama omongan di mana para pemain bergerak hanya di sekitar meja-kursi. Lakon ini menyajikan gambaran kehidupan satu keluarga klas tinggi: yang mengabaikan pendidikan anak-anak, tidak diperhatikan sang ibu yang sibuk berorganisasi, memburu kehormatan-kehormatan lahiriah tapi akhirnya ditinggalkan semua orang. Sudah bisa ditebak: sutradara yang mentah hanya akan menciptakan blocking yang berarti sekedar pergantian antara duduk, berdiri dan berjalan berputar-putar -- semacam ikan-ikan dalam akuarium -- "demi variasi". Dan itulah memang yang terjadi pada pementasan Arvisco Teater tersebut.
Mengantuk & Melek
Tapi betulkah Pramana Pmd, sutradara Pak Dullah telah benar-benar menolong naskah dan mempertunjukkan sebuah lakon yang sangat. memikat? Tidak juga. Pertama, itu disebabkan karena Pramana terlalu setia kepada Achdiat untuk melakukan banyak pemotongan-pemotongan. Penonton disuruhnya menunggu obrolan yang demikian banyak -- kalau perlu sambil mengantuk -- dan kadang-kadang membuka mata kalau-kalau ada kejutan-kejutan baru yang diciptakan sutradara (dan bukan naskah). Kedua, mutu para pemainnya sendiri rata-rata lebih jelek dibanding misalnya para pemain Raden Sastro. Hanya pemegang peran Pak Dullah I, anak perempuan Pak Dullah dan istimewa Pak Dullah sendiri yang boleh dikagumi sebagai potensi-potensi yang bagus. Bisa difaham bila para pemain yang demikian -- apalagi mereka juga banyak lupa -- tak bisa dipercaya buat menjaga tempo apalagi ritme.
Betapa pun itu kelemahan sutradara dari segi cara melatih. Namun mereka memang belum bisa dibandingkan dengan sebagian besar anggota grup-grup remaja-- yang selama ini, sejak April yang lalu sampai Agustus depan, menyelenggarakan 56 buah pementasan di Gelanggang-Gelanggang Remaja dalam rangka proyek pembinaan DKJ untuk para pemenang Festival yang lalu. Anak-anak LPKJ itu sendiri tergabung dalam satu workshop yang baru dua-tiga bulan berdiri. Maksud mereka pada akhirnya memang ikut-serta dalam kesibukan teater di ibukota, sembari mencari imbangan dari apa yang selama ini mereka pelajari di akademi. Namun sampai pada pementasan Pak Dullah yang sudah terasa harus dihormati baru sutradaranya sendiri. Habis dia dosen di sana. Syu'bah Asa_
