• Home
  • 17 Agustus 1974
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 Agustus 1974

    Osaka kita

    RUPANYA beca barang atau beca dayung tidak cukup memenuhi kebutuhan orang Padang Sidempuan. Bukan berarti kendaraan-kendaraan tersebut tidak bisa dimiliki atau diangkut dari pabriknya di Medan. Inisiatif lain datang dari sebagian otak penduduk ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan itu. Untuk kendaraan yang dapat mengangkut barang-barang jarak dekat mereka telah ramai-ramai membikin semacam gerobak dan bentuknya agak mini. Ini kendaraan mempunyai dwi-fungsi juga. Selain bisa melalui jalan-jalan yang lebar tapi bisa pula masuk ke lorong-lorong dan gang-gang sempit. Panjang itu gerobak sekitar 2 1/2 meter dan lebarnya 1 meter. Gerobak pengangkut khas orang Padang Sidempuan ini mulai tampil sejak tahun 1969 yang lalu. Pada waktu itu muncullah dalam fikiran seorang pengusaha pribumi yang punya toko merk "Maju" untuk membuat kendaraan khas Padang Sidempuan. Namanya Jameter. Itu gerobak sederhana benar. Bentuknya seperti tong panjang dan di bawahnya memakai kerangka "speksi" seperti mobil sedan. Rodanya empat buah, pakai per pula, yang terbuat dari kawat waja. Lingkaran rodanya itu terbuat dari papan tebal, dan supaya timbul menggelinding diberi berkaret. Ban mati. Di bagian belakangnya diberi cagak agak tinggi, tapi bisa berputar ke kiri dan ke kanan. Fungsi tiang ini selain untuk pegangan bagi pendorongnya juga bisa jadi stir atau kemudi. Sehingga kalau gerobak ini dibelokkan serupa benar seperti kendaraan sodok barang di pelabuhan untuk dipunggah ke kapal. Ide Jameter ini akhirnya berkembang biak. Dan gerobak mini yang didorong manusia minp seperti mainan kerek anak-anak itu diperhitungkan sudah berpinak sampai 70 buah. Dan karena daerah operasinya di sekitar pasar Padang Sidempuan pemerintah setempat juga tidak picing mata pada sang gerobak. Semacam pening seperti dikutip pada beca-beca juga dikenakan pada itu kendaraan. Tapi bukan tidak ada yang liar. Cuma bagaimana mau mengutipnya kalau tidak dijebak? Kasihan Allah Sang gerobak supaya menarik diberi cat wama-warni sehingga suasananya cukup mambo. Dan sesuai dengan penderitaan hidup penolak atau pemiliknya nama itu gerobak macam-macam pula. Tapi umumnya merk tersebut diambil dari kata-kata yang bisa memancing belas kasihan orang. Misalnya "Usaha Derita", "Usaha Kasihan" dan sejenisnya. Sedangkan untuk nama kendaraan yng ditolak dengan tenaga manusia itu sebutannya juga agak aneh bagi orang luar Padang Sidempuan. Mirip nama kota di Jepang, Osaka. Tapi ini hanya semacam gabungan dari kata-kata yang telah menjadi akronim. Kepanjangan OSAKA adalah "Orang Sabar Kasihan Allah". Nah! Nama ini kabarnya diciptakan oleh si Jameter, yang ternyata kaya juga dengan ide-ide aneh itu. Tapi gerobak itu bukan sembarang osaka. Sekarang karena sudah berkembang, ongkos pembuatan itu kendaraan perbuahnya sudah mencapai Rp 14.000. Bagi toke-toke yang tebal kantongnya mereka membuat beberapa buah osaka. Lalu disewakan sehari Rp 75 perbuah. Dan umumnya yang menarik osaka ini adalah anak-anak atau pemuda-pemudi tanggung. Ongkos angkut barang dari pasar ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh pergerobak mereka kutip hanya Rp 50. Isi osaka itu ada yang sampai 500 kg. Syahlul Nasution (15 tahun) yang punya pendidikan SD sampai kelas 4 saja menceritakan pengalamannya, bahwa ia satu hari bisa mengumpulkan duit dari menarik osaka itu rata-rata Rp 600. Penghasilan itu di luar makan. Sedangkan dia sendiri mmenumpang makan pada si pemilik osaka itu di Padang Sidempuan".

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Memandu transmigrasi

Osaka kita

Seni Rupa

Lubang Dan Telur

Bali Yang Baru

TEMPO|interaktif

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

Nasional

Seribuan Kura-kura Moncong Babi Dilepas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif