• Home
  • 17 Agustus 1974
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 Agustus 1974

    Bali Yang Baru

    ORANG-ORANG bule yang memuja kesenian masyarakat terkebelakang -- terkebelakang dalam segi kehidupan sosial dan ekonomi -- memuja seorang pembuat patung dari desa Mas Bali yang bernama Ida Bagus Tilem. Sedikit sekali yang faham bahwa yang lebih pantas dihormati adalah justru ayahnya yang bernama Ida Bagus Nyana, yang pernah mendapat anugerah seni pada tahun 1971 sebagai pemahat yang kreatif. Seorang brahmana yang bermuka aristokrat, dengan muka yang keras, mulut pendiam tetapi kejernihan yang cemerlang dalam karya-karya patungnya. Dialah orangnya yang pertama kali membuat sepotong kayu menjadi seorang gendut yang sedang meniup suling sambil menyilangkan kaki -- figur yang kemudian ditiru dengan latah dan boleh dikata menjadi ungkapan seni rupa untuk melambangkan sesuatu yang bersifat seni -- bahkan menjadi cap dagang sebuah restoran di Gua Gajah yang bernama Puri Suling. Produksi Masal Di lobi hotel Borobudur yang dahulunya mau dinamakan hotel Banteng, selama awal bulan Agustus ini dapat ditonton satu contoh patung dari Nyana dan Tilem. Di lobi itu juga dapat dilihat sejumlah hasil patung seorang pemuda 7 tahun, putera Nyana yang lain. Sebuah koran ibukota bahkan melaporkan bahwa pemuda yang terakhir ini sedemikian cemerlanghya sehingga melahirkan satu aliran baru dalam dunia perpatungan Bali -- yang disebut "tantraisme". Sampai-sampai Dan Suwaryono -- itu kritikus seni rupa yang paling sulit dibaca pendapat-pendapat seninya -- kelihatan bersusah payah untuk merekam hasil patung itu. Adakah ini pertanda bahwa Bali sesudah Cokot mencoba lagi mengorbitkan satu puteranya untuk mengibaskan kegiatan produksi masal patung- patung -- sehingga orang cenderung menamakannya sebagai barang kerajinan untuk menyukakan hati para turis -- daripada sebagai hasil sebuah proses kreatif. Tantra -- Ida Bagus Tantra -- yang mulai memegang palu dan pahat sejak berusia 13 tahun, memiliki raut muka dari sinar muka seperti Nyana. Tidak seperti Tilem yang kelihatannya terlalu sibuk untuk mengurus Art-shopnya sehingga tak banyak lagi waktunya untuk menelorkan kerja patung -- pemuda yang menurut kartu namanya juga sudah punya sebuah gallery ini, masih beringas untuk menghasilkan barang kesenian. Dengan kesombongan seorang seniman, ia menunjuk hasil-hasil tangannya yang tak akan mungkin diproduksi dua kali karena hampir keseluruhannya merupakan penerusan ekspresi akar-akar pohon. Akar-akar tersebut merupakan sumber inspirasi untuk kemudian menyampaikan bentuk menjangan atau Anoman yang sedang dililit naga atau bentuk-bentuk kepala seorang Rama atau Shinta. Atau sebaliknya, ia menggagas sesuatu terlebih dahulu, lalu mencari akar-akar pohon yang dapat menolongnya melahirkan gagasan itu dalam bentuk nyata. Berbeda dari sang ayah -- Nyana -- yang mempergunakan sepotong kayu biasa dan menitik beratkan kekuatannya pada inspirasi dan kehalusannya dalam menstilir bentuk-bentuk. Tantra yang pada mulanya -- melihat hasil-hasilnya yang terdahulu -- banyak dipengaruhi oleh Nyana, sekarang meninggalkan stilisasi dan humor halus Nyana -- ia mengambil bentuk-bentuk wayang yang banyak memerlukan ornamen. Tetapi karena akar merupakan sasaran pokoknya, maka ia mempunyai kelebihan dalam menangkap gerak dan melantunkan ekspresi. Kontemplasi yang merupakan ciri Nyana, tidak hening lagi pada Tantra. Ia meronta. Dalam perontaannya inilah terlihat kekayaan imajinasinya. Agaknya suasana keparawisataan yang sedang mengamuk di Bali, bagaimanapun juga tetap mempunyai pengaruh juga, tetapi pengaruh ini dimanfaatkan oleh Tantra, sehingga kemolekan yang meloncat dari ornamen-ornamennya yang subtil tidak menjadi gincu yang menjatuhkan pribadinya. Anak ini justru membiaskan kepribadian yang utuh. Dia memang seorang putera Nyana dan seniman muda yang beruntung lahir sesudah kebesaran Cokot sah. Latar Magis Kalimat yang terakhir ini penting diberi tanda petik, meskipun terasa hanya untuk menarik garis-garis pengaruh Nyana dan Cokot pada hasil karya Tantra. Cokol juga menarik batang-batang kayu yang hanyut disungai, cabang-cabang kayu dan akar kayu yang menggoda dan menggigit inspirasinya. Tetapi Cokot tidak memiliki latar belakang seorang ayah yang tersohor kehidupan sosial yang baik serta masyarakat yang sudah lecet karena turis. Karya-karya Cokot berbau pedalaman dengan hatinya yang penuh lumut, dengan motif-motif raksasa, mata membelalak, bentuk yang simpang siur yang menyemburkan asap magis. Tantra mempunyai kebebasan jiwa seperti Cokot, tetapi ia lebih menitik beratkan pada bentuk dan kesan-kesan dramatik yang mungkin didorongkannya dari tingkah akar yang merupakan pemberian alam tersebut. Ia tidak sampai pada kesan-kesan yang magis, ia adalah anak muda Bali yang baru, yang mengejar harmoni yang cantik, keharuan yang dramatik dan kehalusan anak kota. Tetapi ia juga adalah anak muda yang boleh diharapkan, kalau saja terus dapat mempertahankan kesombongannya. Putu Wijaya

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Memandu transmigrasi

Osaka kita

Seni Rupa

Lubang Dan Telur

Bali Yang Baru

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif