• Home
  • 31 Agustus 1974
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 31 Agustus 1974

    Perawan melihat perang

    PENGALAMAN Dl DAERAH PERTEMPURAN MALANG SELATAN. Oleh Roswita T. Djayadiningrat Terbitan Balai Pustak 1974. Tebal 110 halaman. *** BERSAMAAN dengan terbitnya buku ini, diterbitkan pula buku yang sama dalam bahasa Belanda dengan julul Herrinneringen van een Wrijhe iddjdster oleh penerbit Martinus Nijhoff Den Haag. Kata pengantar diberikan Mr. Mohammd Roem, sama seperti yang terjadi pada buku lndnesianya. Buku ini merupakan catatan harian seorang gadis yang ikut berjuang sebagai juru rawat PMI di daerah Malang Selatan, yang berlangsung empat bulan, selama Aksi Polisionil Belanda yang pertama tahun 1947. Bukan suatu yang mustahil jika dalam sebuah buku harian terdapat kesantaian dalam caranya menceritakan, meskipun terasa kurang hidup bila dituangkan dalam bentuk novel misalnya. Membaca helai demi helai buku ini, terasa seolah-olah kita membuka album lama atau melihat slide demi slide masa perjuangan yang dialami seorang gadis terpelajar cukup usia, berpendidikan, berasal dari keluarga ningrat, bebas dalam pergaulan sehari-hari, dan punya kesadaran yang tinggi terhadap kemerdekaan tanah air. Tapi kerjasamanya dan sekaligus persahabatannya dengan beberapa orang dokter di belakang garis pertempuran itu tidak jarang menimbukan konflik-konflik yang tak mudah segera bisa diatasi atau dilupakan. Dokter Imam adalah salah satu sahabatnya yang banyak ditampilkan dalam buku hariannya ini -- yang aslinya berbahasa Belanda-bukan saja karena ia merupakan dokter senior. tetapi lebih dari itu ia dipandangnya sebagai orang yang paling mengerti tentallg dirinya, baik secara individuil maupun kedudukannya dalam keluarga Djajadiningrat yang banyak dipergunjingkan orang karena adanya beberapa Djajadinilrat yang pro dan memihak Belanda. Bahkan penulis sempat mencela tindakan beberapa anggota keluarganya yang bekerjasama dengan Belanda. "Apakah dia tidak mengerti bahwa ini adalah suatu kesalahan terhadap nusa dan bangsanya?" tulis Ruswita pada suatu hari tentang Oom Hilman sebagai tokoh Recomba yang telah diangkat Belanda sebagai Pemimpin Jawa Barat. Tidak hanya karena kesadaran akan arti kemerdekaan, tetapi tindakan sang paman itu dicelanya juga lantaran ambisinya untuk tetap bertahan sebagai bupati. Penulis juga menyebut seorang pamannya yang lain, Profesor Husein, yang juga memihak Belanda -- salai satu alasan pula yang menyebabkan dia sering dicurigai para gerilyawan, di samping tingkah lakunya yang bagi sementara pejuang kemerdekaan waktu itu dianggap terlampau bebas dan modern. Tetapi bukan kecurigaan itu benar yang merisaukannya, walaupun karena itu dia sempat diinterogasi Polisi Militer Republik. Penderitaan! Inilah inti dari buku ini. Sejak dari awal ia telah memperkenalkan segalanya yang bertalian dengan korban-korban: Brankar, operasi, amputir, transfusi, patah tulang dan sebagainya, yang semuanya itu hanya ditemui dalam peperangan dan dunia kepalang-merahan. Namun betapapun di tengah-tengah engahan nafas para penderita dan derunya senapan mesin, Roswita masih juga sempat menuliskan sekilas-sekilas apa yang membersit dalam hatinya, tentang hubungannya dengan Jauzan, dan dengan Suryono laki-laki yang tiba-tiba muncul dan mengganggu fikirannya, dan dengan salah seorang kemenakannya Ahmad, yang telah gugur di medan pertempuran meskipun sama sekali kepada yang terakhir ini tak ada hubungan apa-apa kecuali hubungan keluarga. Sebenarnya buku ini bisa menjadi lebih mantap dan berbobot, seandainya Roswita mau agak mendramatisir kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya, betapapun tidak harus menjadi seperti buku hariannya Anne Frank yang kesohor itu. Sayang ia telah lebih senang dengan gayanya yang prasaja, yang tidak lebih seperti segulung film dokumentasi yang disiapkan untuk dinikmati nilai-nilai dokumenternya saja. Dan tentang bahasa yang dipakainyapun kelewat prasajanya, sesederhana plot berikut strukturnya. Tak ada ungkapan-ungkapan yang disaslera-sasterakan atau kata-kata yang, sukar untuk dikunyab awam. Namun justeru karena adanya beberapa kata-kata baru -- yang pada saat revolusi berkecamuk belum terdengar -- yang muncul di sana-sini seperti kata-kata: anda, genit, keki, sinting, aji mumpung dan sebagainya, buku ini terasa jadi berkurang nilai keantikanuya. Akhirnya, kelemahan buku ini justeru dipertebal oleh penerbitnya sendiri yang telah begitu banyak membuat kesalahan cetak, yang notabene bukan sekedar keliru, tapi mendatangkan fatal bagi kata-kata itu sendiri. Seperti: menyumbangkan berobah jadi menumbangkan, menenangkan jadi memenangkan, mungkin jadi mungkir, turun jadi lain dan sebagainya yang seharusnya tidak usah terjadi pada badan penerbit yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu. Sedangkan tentang tanda titik-titik yang sudah jadi klasik tapi masih juga banyak dipakai oleh penulis-penulis buku di negeri ini, daam buku Roswita ini hanya kedapatan 34 saja. Jajak MD

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Bentuk Tanpa Target

Ilustrasi

Peluit bagi sang ikan

Tiwah yang mewah

Buku

Perawan melihat perang

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif