• Home
  • 31 Agustus 1974
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 31 Agustus 1974

    Tiwah yang mewah

    MEREKA memenuhi kepercayaan Kaharingan. Yaitu sejenis animisme yang mempunyai cara-cara penghormatan terhadap roh nenek-moyang tak jauh berbeda dengan kebiasaan di Bali, Toraja dan Irian. Bagian penduduk ini menempati daerah Katingan, nun jauh di pedalaman Kalimantan Tengah. Mereka masih terbilang suku Dayak dan telah berpakaian lengkap, artinya bercelana panjang atau kain sarung. Tetapi memasuki wilayah ini pertama-tama yang membedakannya dengan tempat lain tentulah patung-patung kayu yang menancap di halaman-halaman rumah. Patung-patung ini melukiskan manusia laki-laki dan wanita berdiri lurus di atas tiang kayu mencapai ketinggian 3 hingga 4 meter. Benda-benda mati sebagai perujudan kepercayaan Kaharingan ini pada umumnya tergambar dalam tubuh yang terbungkus pakaian rapi, bahkan beberapa di antaranya memakai kopiah. Selain ini di depan rumah mereka tertancap pula tiang-tiang kayu ulin yang mencapai ketinggian sampai 15 meter dari tanah. Lebih penting lagi adalah sandung, yaitu sejenis bangunan rumah-rumah kecil untuk menyimpan tulang-tulang para sepuh si empunya rumah. Rumah-rumah kecil seperti sarang lebah itu berdiri di atas 4 tiang hampir setinggi rumah biasa, beratap sirap atau kulit kayu. Beberapa di antaranya pada dinding dan sisi-sisinya berhiaskan berbagai bentuk ukiran, di samping patung-patung kecil yang berdiri di bawah kolongnya. Pada saatnya, seorang anggota keluarga yang telah meninggal dan dikuburkan di tempat pemakaman di tengah hutan serta telah berupa tulang-tulang belaka akan dipindahkan ke dalam sandung ini. Ada juga di antaranya yang mendirikan sandung-sandung jauh di tengah hutan. Tetapi sebagaimana halnya dengan kebiasaan yang kabarnya selalu menarik perhatian para pelancong di Tanah Toraja, pemindahan tulang dari dalam tanah ke sandung ini dilakukan penduduk Katingan melalui upacara khusus, yang disebut tiwah. Sapi & Kerbau Pembantu TEMPO di Banjarmasin, Yayik Wijaya yang beberapa waktu lampau berkunjung ke daerah itu, mencatat upacara tiwah itu sebagai kebiasaan yang "sangat menarik tetapi merupakan pesta mewah dengan biaya yang mahal". Sebab beberapa saat setelah seorang meninggal dunia -- biasanya orang tua -- dan dikuburkan di dalam tanah, pada saat itu pula keluarga yang ditinggalkan mulai mengumpulkan peralatan pesta. Ini tak lain berupa uang untuk membeli beberapa ekor sapi dan kerbau, beberapa ekor babi dan ayam. Belum lagi berkwintal-kwintal beras dan gula untuk membuat semacam tuak yang disebut baram dan anding Jumlah minuman ini dapat mencapai 5 hingga 6 atau, yaitu sejenis gentong. Makin berlimpah persediaan pesta, nampaknya makin membuat bangga dan mengharumkan nama si punya hajat. Tetapi untuk semuanya itu, tak jarang, si almarhum yang sudah tinggal tulang-tulang di dalam tanah harus menunggu selama bertahun-tahun -- sepanjang waktu ini pula keluarga yang ditinggalkannya harus berusaha sekuat tenaga mengumpulkan kebutuhan-kebutuhan tiwah. Beberapa hari sebelum upacara itu dimulai, semua kebutuhan itu harus sudah tersedia. Termasuk membuat bangunan-bangunan tempat upacara kelak berlangsung. Pada saatnya, gong-pun ditabuh bertalu-talu bersamaan waktunya dengan kedatangan para tamu. Sambil menyaksikan para sanak keluarga yang tua-tua -- laki-laki dan wanita menari-nari dengan khidmat mengitari hewan-hewan yang bakal dikorbankan, para pengunjung mulai meneguk tuak. Hari berikutnya acara dilanjutkan dengan memindahkan tulang-tulang dari dalam tanah untuk disimpan di dalam sandung dengan melewati rumah-rumah keluarga almarhum. Puncak upacara adalah pada saat gong berbunyi dengan keras dan cepat, bersamaan dengan munculnya penari-penari bertumbak. Pada detik-detik yang telah ditentukan, binatang-binatang yang bernama sapi, kerbau atau babi dihunjami para penari dengan tumbak-tumbak tadi. Suasana menjadi semakin panas, pada saat dari tubuh hewan-hewan itu dalam mulai mengucur, mengalir terus dan roboh. Ini artinya tak lama lagi korban-korban tak berdosa itu akan memasuki babak baru sebagai pengisi perut para peserta pesta. Pengawal Roh Upacara tiwah biasanya berlangsung saunpai seminggu lamanya. Tak heran kalau selama waktu itu para pengunjung -- anak-anak dan orang tua, laki-laki atau wanita -- berkali-kali mabuk. Oleh penganut Kaharingan dipercayai, bahwa pada saat-saat mabuk itulah waktu yang paling baik untuk mendekatkan diri dan sekaligus memuja roh leluhur mereka. Tetapi tentang upacara yang harus selalu disertai binatang-binatang sembelihan itu, sering dianggap orang sebagai pengganti kebiasaan orang-orang Dayak dahulu kala memakai manusia sebagai korban. Saat itu dianggap bahwa kepala manusia merupakan pengawal atau pelayan roh nenek moyang yang telah meninggal dalam perjalanan menuju alam abadi. Berapa banyak manusia yang dikorbankan tergantung dari kemampuan para ahli warisnya. Sebab pada waktu itu saja sudah diakui bahwa untuk mendapatkan korban manusia dibutuhkan biaya yang sangat mahal. Beruntung bahwa pada saat ini kerbau dan sapi sudah dianggap mereka dapat mewakili kepala manusia, walaupun untuk itu masih tetap dibutuhkan biaya tidak sedikit.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Bentuk Tanpa Target

Ilustrasi

Peluit bagi sang ikan

Tiwah yang mewah

Buku

Perawan melihat perang

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif