• Home
  • 31 Agustus 1974
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 31 Agustus 1974

    Bentuk Tanpa Target

    KRITIKUS drama Martin Esselin, menulis pengantar untuk buku Absurd Drama -- yang memuat sejumlah naskah sandiwara yang disebutnya absurd. Antara lain ia mengatakan bahwa: ditinjau dari cara berfikir pengarang drama absurd, drama-drama konvensionil justru sangat tidak realistis. Dalam bidang seni lukis, cara melihat seperti ini muncul dari tokoh yang diserempet oleh kritikus senilukis dari Jogja Sudarmadji dalam tulisannya di majalah Budaya Jaya nomor 74. Tokoh itu bernama Theo van Doesburg. Ia mengemukakan bahwa seni lukis abstrak lebih konkrit dari senilukis yang meniru jejak alam. Karena dalam seni abstrak cat adalah cat, garis adalah garis dan bidang adalah bidang. Sementara dalam lukisan naturalis goresan-goresan dalam kanvas harus diartikan bunga, gunung dan benda-benda lain yang ditiru. Masalahnya ialah: setiap orang kemudian dihadapkan kepada seleranya sendiri-sendiri yang subjektif. Tetapi sementara itu apresiasi senilukis tetap pula memungkinkan seseorang untuk, di samping punya nilai-nilai subjektif terhadap satu subjek atau objek, memiliki pula keawasan untuk mendapatkan ukuran-ukuran objektif dalam menilai berbagai hasil dari berbagai kandang aliran. Sehingga kita tidak kaget kalau seorang Fajar Sidik cukup sah menilai lukisan-lukisan figuratif atau seoran Nashar cukup sah menilai hasil karya yang dinamakan pop art. Rupa-rupanya bagaikan bahasa yang boleh saja macam-macam cengkokannya, makna-makna tetap punya tangga-tangga kedalaman dalam setiap hasil kesenian. Kosmetik Begitu pula bila orang menghadapi sejumlah lukisan S. Saman yang disponsori Subagio Art Gallery di Balai Budaya pada bulan Proklamasi ini. Tidak menjadi masaalah apakah ia di tengah arus orang yang mau memberontak -- kadangkala tanpa mengerti apa yang diberontaknya -- Saman melukis dengan segala cintanya pada kecantikan tanpa mempedulikan objek apa yang dihadapinya. Iapun melukis pasar di Bali dengan molek, para penari Bali dengan kagum, beberapa wajah wanita yang cantik dan seorang lelaki dengan latar belakang tembok berisi tulisan: Merdeka atau Mati. Seandainya objek-objek yang dipilihnya benar-benar berperan sebagai media untuk melantunkan impian atau kerinduan pada keindahan yang mulus, mungkin sekali hasil-hasil yang dipamerkannya akan memberikan suara yang lain. Tapi yang kita hadapi bukan keinginan seorang mata keranjang yang ingin membuat semua perempuan cantik seperti Basuki Abdullah. Bukan keinginan seorang Trubus yang merindukan kelembutan, bukan seorang Raden Saleh yang memberikan sugesti kehidupan dari lukisan-lukisannya. Bukan impian seperti Agus Jaya dengan lukisan-lukisannya yang melantunkan satu suasana yang magis. S. Saman tidak mengejar sesuatu, kecuali komposisi yang harmonis serta bentuk-bentuk yang proporsinya seimbang. Dan ini dapat dilakukan oleh banyak orang yang tekun mempelajari soal-soal teknis melukis. S. Saman memang hanya mengejar bentuk, dan tidak bermaksud melantunkan apa-apa dengan lukisannya. Tentu saja seni lukis begini banyak juga penggemarnya. Terutama yang menganggap lukisan sama fungsinya dengan kosmetik untuk seorang wanita. Putu Wijaya

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Bentuk Tanpa Target

Ilustrasi

Peluit bagi sang ikan

Tiwah yang mewah

Buku

Perawan melihat perang

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif