Setelah Pandu Ibuku
Ada Umur
Betul juga toh tak ada lagi orang Indonesia yang keseleo menyebut pandu, walaupun dalam lagu kebangsaan Indoesia Raya masih ada kata " . . . Jadi Pandu Ibuku". Yang penting adalah mencatat apa yang hendak dicapai Pramuka lewat Musyawarah Nasional yang akan diadakan dari tanggal 20 hingga 30 Nopember ini. Ada tiga acara pokok bagi pertemuan yang dihadiri sekitar 200 orang ini. Pertama, laporan dan pertanggunganjawab Kwarnas tentang pelaksanaan tugasnya selama empat tahun yang terakhir ini kemudian menyusun garis besar rencana kerja untuk 4 tahun masa bakti berikutnya -- dan ketiga pemilihan pengurus baru. Pokoknya, semualah, yang berhubungan dengan peningkatn missi pramuka yang sudah diberikan masyarakat kepadanya. Patutlah, karena itu dicatat harapan Ibu Tien agar masyarakat turut mendoakan semoga Munas berjalan baik-baik saja adanya, demi kepentingan anak didik -- yang tak lain buat nusa dan bangsa jua.
Menyebut anak didik, dalam hubungan kepramukaan memang sepatutnya. Bukankah para ahli pendidikan juga menekankan bahwa pendidikan itu pada hakekatnya bukan hanya yang didapati di bangku sekolah -- tapi lebih-lebih lagi yang didapatkan di luar ruang yang makin sempit itu. Hal ini jelas ditampung baik dalam Anggaran Dasar maupun Anggaran Rumah Tangga Gerakan tersebut. Tujuan Pramuka dikatakan untuk mendidik anak dan pemuda Indonesia, menurut sistim pendidikan kepramukaan untuk menjadi warganegara atau anggota masyarakat yang baik. Ini dibuktikan lewat data statistik Polri bahwa sampai saat ini tidak ada anggota Pramuka yang terlibat dalam urusan kriminil, atau pecandu ganja. Apa yang digalakkan terhadap 9- 10 juta anggotanya -- angka ancer-ancer menurut dr. Azis Saleh, Sekjen Kwarnas angka resmi belum bisa diketahui, sayang -- tak lain dari peningkatan ketrampilan berbagai bidang. Dengan tidak meninggalkan prinsip yang ditinggalkan oleh Baden Powell sebagai Bapak Pandu, Pramuka telah mengembangkan diri sehingga aalam contoh kecil organisasi itu tidak hanya diikuti oleh pemuda dan pelajar, tapi juga lapisan masyarakat yang ada umur. Horison juga tidak terbatas.
Suatu Munas akan meminta biaya yang besar. Ini pasti sudah. Tapi untul Munas yang di Menado ini belum dapat dikatakan berapa duitnya. Namun dapat dibuat perhitungan begini: setiap propinsi, minimal terdiri dari 10 orang. Mereka diwajibkan membayar Rp 1500 sehari. Hitung saja bila ada 200 peserta dari 26 porpinsi. Dijelaskan bahwa hasil kampanye yang sudah dihentikan sejak 20 Agustus yang lalu, telah berhasil dikorek dari pengusaha swasta nasional dan pemerintah uang Rp 231 juta. Tentu saja bilangan ini tidak dihabiskan semua untuk keperluan Munas 10 hari ini.
Tentang cara-cara penarikan dana, sebetulnya Kongres 1970 sudah sepakat untuk tidak menyetujui cara menyetop kendaraan di jalan raya, sebagaimana yang dilaksanakan PaLang Merah Indonesia dalam rangka "Bulan Dana"nya. Dinilai hal itu tidak cocok dengan harkat pramuka dengan akibat bisa hilangnya simpati masyarakat. "Bukan Bulan Dana", seru Sarbini, "tapi Kampanye Bulan Dana" yakni usaha pemberian penerangan kepada masyarakat. Kaau yang diberi penerangan sudah mengerti lanjutnya, maka mereka diperkirakan akan dengan senang hati menyumbang. Tentu saja pimpinan harian pramuka ini nomor satu menyampaikan harapan itu kepada Menteri Penerangan Mashuri yang memimpin pertemuan itu -- untuk membuka jalan bagi kampanye penerangan untuk dana ini.
