• Home
  • 18 Januari 1975
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 18 Januari 1975

    Hantu Baru

    BERDASARKAN angka pengamatan: hasil panen padi di NTB tahun ini meliputi jumlah 651.000 ton padi-kering-lumbung. Dan kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk NTB yang hampir 2« juta jiwa, maka hasil panen sebanyak itu menurut Yakob Marjadi Kepala Dinas Pertanian NTB mengalami surplus sebanyak 27.000 ton. Dibandingkan dengan hasil panen tahun 1973 yang berjumlah 580.123 ton, hasil tuai yang dilakukan juga kali tahun ini memang sangat memuaskan. Dan kalau saja bisa terns dipertahankan berikut diimbangi pula dengan manajemen yang baik dapat dipastikan: rakyat di NTB, khususnya yang berdiam seputar daerah- kritis Lombok Selatan, bakal terhindar dari sergapan hantu-hantu lapar yang sebelumnya selalu gentayangan di penghujung tahun. Dolog Padi & gabah yang telah disedot ke pabrik-pabrik penggilingan padi yang jumlahnya sekitar 26 buah, dan sebagian besar numplek di kawasan Lombok Barat, jumlahnya sudah lumayan banyak. Belum lagi terhitung jumlah yang disedot para saudagar bermodal pas bandrol yang mau coba-coba bermain spekulasi. Ke-26 perusahaan penggilingan padi tersebut tidak seluruhnya mengikat kontrak dengan fihak Dolog NTB. Beberapa di antaranya, semata-mata karena terbentur pada jumlah modal, cuma mencak-mencak seputar kerja menerima ongkos giling. Di halaman-halaman atau gudang pabrik penggilingan padi, teristimewa yang milik kontraktor non-BUUD, tumpukan-tumpukan padi tampak begitu padat, dan disusun secara rapi. Rata-rata adalah dari jenis padi bulu yang berasnya terkenal itu. Belum jelas diketahui, apakah padi yang ditumpuk itu sedang antri untuk digiling jadi beras, ataukah si pemilik pabrik mau bermain spekulasi dalam soal harga. Tapi tampaknya, untuk bermain spekulasi, tahun ini mereka lebih banyak takut daripada berani'. Soalnya, harga padi & gabah yang dibeli dari para petani produsen di desa-desa lewat tangan para saudagar, masih tetap rendah, rata-rata Rp 33.000 per ton frangko gudang pembeli. Atau, kalau langsung membeli dari tangan para petani-produsen, tanpa lewat tangan saudagar, bisa di bawah harga Rp 30.000 per ton. Dan menurut keterangan beberapa pemilik perusahaan penggilingan padi yang diliubungi TEMPO, harga tersebut tak bakalan bisa naik, kecuali kalau beras dari daerah ini diperbolehkan dikirim ke luar NTB dalam jumlah banyak. Sedangkan para petani produsen di desa-desa tidak sedikit yang mengobral keluh kesah akibat dari rendahnya harga padi. Biaya untuk mereka melakukan ibadah haji, umumnya bersumber dari hasil penjualan padi ini di samping palawija. Sedangkan harga palawija juga idem ditto, akibat dari lesunya kegiatan perdagangan baik ekspor maupun interinsulair di daerah ini. Harga beras di pasaran umum di sana pada saat laporan ini ditulis rata-rata berada di bawah harga pembelian Dolog, yaitu sekitar Rp 65 per kg. Sedangkan harga pembelian Dolog NTB pada para kontraktor adalah ini: dari BUUD/KUD untuk beras giling kwalitas I B Rp 68,50 per kg tanpa pembungkus harga beli dari kontraktor non-BUUD Rp 68 per kg. Pembungkus (karung goni) jadi tanggungan fihak pembeli (Dolog). Sedangkan, ongkos angkut ke gudang Dolog, jadi tannggungan fihak penjual (kontraktor). Gudang Dolog yang jumlahnya tidak banyak dan tersebar seputar kota Mataram-Cakranegara-Ampenan itu, sering mengalami 'kepenuhan', sehingga sering pula untuk beberapa hari pemasukan beras ditunda, sampai ada gudang yang kosong. Selama ini Dolog NTB karena miskin gudang, terpaksa harus menyewa gudang, yang kwalitetnya tentu saja tidak selalu harus memenuhi persyaratan yang baik. Menurut R. Soelistyono, kepala Dolog NTB, untuk mengatasi masalah pergudangan ini Dolog NTB telah membeli tanah di Dasan Cermen (calon daerah lokasi industri di Lombok Barat) untuk membangun sebuah gudang. Biayanya didrop dari pusat. "Kami harapkan, dalam tempo dekat ini pembangunan gudang tersebut harus selesai. Kebutuha sih begitu mendesak", kata Soelistyono kepada TEMPO. Selama ini, beras-beras yang ditolak Dolog, oleh pemiliknya (kontraktor), terpaksa di drop ke pasaran umum yang harganya di bawah harga Dolog itu. Pada zaman sebelum perang tempoe doeloe, Lombok memang pernah dinyatakan sebagai daerah surplus, gudang beras. Sampai-sampai untuk melawat ke tempat orang mati, yang dibawa bukannya uang, tapi justeru beras. Maka adalah lucu sekali kalau akhir-akhir ini Lombok terbalik jadi daerah yang cukup sering diserbu hantu-hantu lapar. Tapi kini hantu baru muncul, yaitu dengan rendahnya harga beras di sana. Para petani pun mengeluh. Bagaimana mengatasi hal ini? Beras harus dikeluarkan dari daerah tapi dalam jumlah tertentu, kata Yakob Marjadi. Berapa jumlah tertentu itu? "Maximal sebanyak jumlah padi yang surplus itu. Itu kira-kira 25.000 ton", kata Yakob. Ini untuk meningkatkan income petani, ujar Yakog, biar petani bisa tersenyum mengecap hasil jerih payahnya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Kissing gourame di ancol

Bukan bibit unggul

Seni Rupa

Pulanglah, picasso

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif