Tandingan Bank Asing
Nyatanya pemugaran itu bukan sekedar tambal "sulam. Sebab "selain untuk merubah image masyarakat, maksudnya juga untuk memperluas daerah operasi". Begitu keterangan Idham, presdir Bank Niaga pada upacara peresmian, kantor cabang baru yang sudah dipercantik itu. Khusus untuk menghadiri peresmian kantor cabang itu, Julius Tahiya direktur Caltex Pacific Indonesia yang juga komisaris Bank Niaga datang dengan pesawat khusus. Sedang preskom Bank Niaga, Soedarpo, di hadapan Wakepda DIY Sri Paku Alam ke-8 merasa perlu mengisahkan mengapa Bank-Niaga sampai "mempersunting" Bank Agung yang berpusat di Solo dan punya cabang di Yogya: Soalnya, nama Bank Agung pernah kesohor tahun 1971 karena tidak mampu memenuhi kewajiban pada nasabahnya. Namun setelah mendapat droping $ 1 milyar sambil manajemennya diambil alih oleh Bank Indonesia, kepercayaan masyarakat berangsur-angsur mulai pulih.
Siasat BI
Namun pengoperan saham oleh Bank Indonesia hanyalah satu tindakan darurat untuk waktu yang terbatas. Makanya bulan Oktober 1973 BI bertindak sebagai penghulu mengawinkan Bank Agung dengan Bank Niaga. Siasat BI yang ingin melihat bank-bank bonafid meluaskan sayapnya lewat merger - dan bukan dengan membuka cabang-cabang baru tampaknya cukup berhasil. Dan kali ini, pilihan untuk merehabilitir nama Bank Agung jatuh pada Bank Niaga. Bank swasta milik pribumi ini belakangan ini memang tampak maju pesat di tengah inflasi berkat penambahan modal, peralatan & reorganisasi. Juga berkat latihan teknis bagi karyawan-karyawan Bank Niaga oleh Citibank, hingga berhasillah Bank Niaga dibaptis menjadi bank devisa Desember tahun lalu. Kemajuan itu memang didukung oleh peningkatan kepercayaan, masyarakat, yang bisa terlihat dari jumlah aktiva bank tersebut.
Kalau di tahun 1973 jumlah aktiva Bank Niaga baru berjumlah Rp 1,7 milyar, pada akhir Pebruari lalu telah mencapai Rp 5,5.milyar. Atau lebih 2,5 kali dibandingkan setahun sebelumnya. Di Yogya sendiri, kalau sebelum merger orang bisa "main bola" kini 23 orang karyawannya sibuk melayani nasabah yang jumlahnya juga berlipat ganda, tapi yang menarik di kantor Cabang Bank Niaga Yogya ini adalah diterapkannya "sistim satu loket", seperti yang berlaku di Citibank Jakarta. Yang berarti, para nasabah atau calon nasabah langsung dilayani tanpa harus menunggu atau mondar-mandir.
Tidak Brengsek
Namun begitu, dalam merebut simpati masyarakat, tampaknya Panin Bank cukup berhasil. Ketika peresmian petubukaan cabang "Semarang dan cabang pembantu di Solo Pebruari, lalu, tidak hanya dibanjiri oleh kaum pedagang tapi juga dihadiri oleh para koresponden asing dari berbagai negara. Dilihat dari segi asset atau aktiva pertumbuhan Panin Bank tampak pesat. Kalau waktu merger pertama (1971) jumlah aktivanya berjumlah Rp 2,3 milyar, sebelum merger dengan Bank Pembangunan Ekonomi Semarang jumlah aktivanya menunjukkan Rp 31,5 milyar. "Dan itu mengalir, dari 13 cabang di, Jawa dan Sumatera, ujar Andi Gappa, Preskom Panin Bank. Selain itu, juga disebabkan karena 4 buah cabangnya yang sudah berfungsi sebagai bank devisa.
Malah, dalam waktu yang tidak lama lagi Panin juga akan membuka cabang di Banjarmasin (Kalimantan). Sehingga dengan demikian, jaring-jaringnya sudah meliputi seluruh Indonesia. Tapi dari pembukaan kantor cabang, melalui proses merger ini yang penting agaknya apakah bank yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat sekitarnya. Namun seperti dikatakan oleh Abdullah. Ali dari Bank Indonesia, Yang Paling bertanggung jawab berhasil tidaknya usaha bank terletak pada manajemen bank itu sendiri. Tapi yang jelas tambah Sarono SH dari Perbanas, perkembangan usaha Panin Bank merupakan bukti nyata bahwa bank swasta nasional tidak seberengsek dulu. Dan mudah-mudahan dapat menandingi operasi, bank asing di daerah-daerah.
