• Home
  • 29 Maret 1975
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 29 Maret 1975

    Bali: upacara-upacara

    MANUSIA itu lahir cacat. Kecacatan itu akibat amal-perbuatan yang salah atau memang cacat dari penjelmaanpenjelnaan yang terdahulu, yang disebut acuba karma wartacana. Untuk menghapuskannya, kita harus astiti, berbakti kepada Sanghyang Saraswati. Demikian tersebut dalam satu pustaka Bali bernama Tutur Bangbulangan. Maka beberapa kesempatan khusus untuk berastiti bisa dilakukan misalnya pada saat-saat menjelang tileming kesanga -- jatuh pada 12 Maret kemarin, satu hari sebelum hari raya Nyepi. Ini adalah saat bulan mati pada peralihan tahun Icaka alias Icakawarsa. Pada hari ini orang-melakukan bhutayadnya: mengalihkan perhatian khusus kepada upacara-upacara yang dimaksud "untuk menghilangkan unsur-unsur kejahatan". Tetapi upacara-upacara astiti sebenarnya bisa dimulai sejak 10 hari sebelum itu. Misalnya upacara sembahyang di tepi laut. Dengan pakaian rapi dan warna-warni, di bawah pimpinan pedanda, orang beriringan menuju pantai. Sesajen-sesajen mereka bawa, juga boleh diboyong pratina alias benda-benda keramat berupa patung-patung, keris dan lain-lain. Di sanalah dilakukan upacara mekias atau melasti ke segara. Sesajen-sesajen ditenggelamkan, setelah sebentar hanyut pulang-balik dibawa ombak. Pada hari tileming kesanga sendiri, sore hari diadakan upacara cara atau korban di perempatan jalan. Bila dilakukan di pelempatan jalan desa atau sebuah kota (perempatan agung, misalnya air mancur di perempatan Jl. Thamrin untuk Jakarta), maka caranya ialah can panca sanak. Ini caru harus terdiri dari lima ekor ayam dengan macam-macam warna bulu: putih, biying (kemerahan) kekuningan, hitam dan brumbun alias campuran. Ditambah seekor itik warna burung elang, plus seekor anjing bulu bang bungkem (merah tua). Sementara itu di setiap pintu pekarangan diadakan caru nasi manca warna sembilan tanding, daging ayam brumbun yang telah diolah, ditambah tetabun alis tuak atau minuman keras. lni adalah labaan kepada Sang Bhuta Kala dengan tambahan lauk jejeron matah yakni isi perut babi. Berikutnya dilakukan upacara ngerupuk. Bukan menggoreng kerupuk, tetapi menyuruh pulang Bhuta Kala -- sebab caru toh sudah diberikan. Ini harus disertai orob-orob api (api membakar) sambil menggumamkan mantra. Bahasa aslinya rada susah, tapi terjemahannya begini: O Tuhan, mohon para pengganggu kaki rabhyan, nenek rabhyan, kakek Presat nenek Presit, janganlah kamu mendekati, mengganggu aku, gurumu ada di sana, berbuat baiklah (berdamailah), hai kamu si bhuta gila, si jahat berbuat baiklah. O Sanghyang Purusangkara, engkau guru semua bhuta, suruhlah mereka pulng dan jauh dari kami, masing-masing bhuta-bhutamu Oh, bhuta Sangkara, salam kami padamu. Duniapun Pecah Semua itu hrus berakhir manakala sang surya memasuki jam tidurnya. Dan begitu malam menyelimuti Bali dan semua wilayah dimana putera-puteranya berjaga, saat-saat menyepi pun mulailah. Inilah hari raya Nyepi, jatuh pada 13 Maret kemarin. Di sini orang amati geni, samadhi, tidak mengepulkan asap di manapun juga, dan sedapat mungkin tidak keluar rumah. Sepi, lengang, suwung. Matahari masuk ke tempat tidur dan suasana masih tetap khidmat, hanya jantung dan mantra yang berdetak. Sampai matahari kembali muncul esok paginya, dari balik atap meru di pura-pura. Maka duniapun pecah. Inilah kira-kira Idul fitrinya Bali, atau Natal atau Imlek atau Tahun Baru. Dan memang hari ini, 14 Maret 1975, bilangan tahun Caka bertambah satu. Segala pakaian baru dikeluarkan, segala jamuan dan pesta-pesta. Meski begitu, sebagaimana hari Natal atau Idulfitri, di pura-pura tetap akan terasa suasana agamanya di banding di jalan raya. Di Jakartapun suasana ini bisa ditangkap: di pura-pura Cijantung, Tanjung Priuk dan Rawamangull. Dan ini baru sebagian: orang dilahirkan dan hidup dari upacara ke upacara.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Bangkitnya Klenteng Tirtowinoto

Bali: upacara-upacara

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif