• Home
  • 30 Agustus 1975
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 30 Agustus 1975

    Tugu jatuh bangun

    Djakarta, 16 Agustus (Ant.) Tugu jang terletak didepan gedung Pegangsaan Timur 56 dan selama ini dianggap tugu Proklamasi, Senin malam tampak sudah dirobohkan. ............. Menurut Presiden, tugu jang sekarang ada di Pegangsaan Timur 56 bukan Tugu Proklamasi, tetapi "Tugu Linggardjati.'' (Pantja Warta d/h Sin Po, Selasa 16 Agustus 1960). MAKA sejak itu lenyaplah tugu itu, setelah sejak 17 Agustus 1946 secara resmi berdiri di sana. Sejak itu setiap orang akan payah mengingat-ingat bahwa di sana Pernah ada sebuah tugu bersejarah. Apalagi beberapa waktu kemudian di sana berdiri gedung megah yang kemudian dikenal sebagai Gedung Pola. Lenyaplah seluruh isi pelataran Jalan Pegangsaan Tirnur 56 alias Jalan Proklamasi 56 itu: sebuah tugu dan gedung tempat Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan, bangsa Indonesia. Disusul lagi kemudian dengan dihapuskannya gambar tugu dari lambang DKI, yang pada 30 Juni 1962 berganti gambar. Maka sempurnalah kehilangan itu. Tapi suasana politik pun berobah. Orang mulai teringat lagi pada tugu dan gedung tersebut. Orang pun insaf bahwa pembongkaran benda-benda bersejarah itu cumalah salah satu rangkaian intrik politik. Dan julukan Tugu Linggarjati, cumalah dicari-cari. Maka menjelang peringatan hari Proklamasi 1972, fihak DKI dengan restu dan bantuan Pusat membangun kembali tugu bersejarah itu. Dan sejak 17 Agustus 1972, kembali sebuah tugu baru dengn model serupa yang dulu, resmi terpacak di tempat semula. Berbentuk seperti jarum tapi dengan bentuk segi empat meruncing dan dasarnya trapesium, memakai ukiran rada marmer peta wilayah Rl, teks Proklamasi. Dan "oleh kaum Wanita Jakarta" sebagai pembuatnya, tugu ini tegak di antara bangunan-bangunan yang bermunculan kemudian di jalan Proklamasi 56 itu. Sudah tentu suasananya tak sehidmat dan semenggugah keadaan tempo hari. Alkisah adalah Nyonya Jo Masdani, 64 tahun, seorang Manado bersuamikan seorang Aceh. Nyonya Jo yang paling tahu bahwa tugu itu tak punya sangkut paut dengan peristiwa Linggarjati. "Saya ingat", tuturnya kepada DS Karma dari TEMP0, "baru pada Nopember 1946 orang membicarakarn Linggarjati. Dan baru Maret 1947 perjanjian Linggarjati diratifikasi di Malang". Ny. Jo tahlu betul hal itu karena suaminya anggota KNIP. Ada seorang anggota MPRS dulu (tapi Ny. Jo keberatan menyebut namanyak yang mengoceh kepada Presiden Sukarno dulu bahwa tugu itu tugu peringatan Linggarjati. Padahal itu dusta besar. Dan saya ingat betul bahwa Bung Karno beberapa tahun sering meletakkan karangan bunga di tugu itu setiap menjelang peringatan Proklamasi. Dan baru tak dilakukannya tatkala Dwi Tunggal Sukarno-Hatta pecah. "Memang benar yang meresmikan adalah Bung Syahrir. Tapi itu cuma karena pertimbangan sebagai PM dan anggota pemerintahan di Yogyakarta yang ada di Jakarta waktu itu. Dan Syahrir mem1ang kemudian sangat dibenci Bung Karno". Ny. Jo mengisahkan bagaimana tugu itu tercipta. Waktu itu menjelang hari ulang tahun Proklamasi yang pertama. Tampuk pimpinan Pemerintahan Rl sudah pindah ke Yogyakarta Meski begitu Jakarta tetap berperanan penting. Untuk tempat perundingan-perundingan. PM Syahrir selalu mondar-mandir Jakarta-Yogya. Lagipula Jakarta tetap sebagai pemerintahan Republik yang dipimpin Walikota Suwirjo. Di samping kaum lelaki, kaum wanita ikut aktif berjuang. Dengan antara lain untuk mengadakan dapur umum, kegiatan palang merah, mengumpulkan dana dan melatih kader perjuangan dengan organisasi dan kursus-kursus. Di tengah-tengah kesibukan berjuang itu mereka teringat bahwa hari Proklamasi sudah akan berumur satu tahun. Ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Harus diperingati. Maka kaum wanita membentuk satu panitia yang diketuai Ny. Sunarjati Sukemi dan Sekretaris Sukanti Surjotjondro. Panitia ini menetapkan antara lain akan membangun sebuah tugu peringatan Proklamasi. Ini mutlak, begitu keputusan rapat. Dan tugas tersebut diserahkan kepada Ny. Jo Masdani sebagai penanggung jawab Sub panitia Pendirian Tugu, yang dibentuk akhir Juni 1946. Dengan bantuan Mien Wiranatakusumah (Ny. Sudarpo). Zus Ratulangi (puteri Dr. Sam Ratulangi), Zubaedah Ny. Gerung (pemilik toko Bunga Florida di Jl. Gereja Theresia), Ny. Jo sibuk mencari uang untuk biaya tugu yang pada waktu pembentukan panitia tak satu-sen pun tersedia. "Bayangkan saya sibuk' cari uang di Zaman perang. Benar-benar menyambung nyawa. Dan sering belum mengetuk pintu sudah diusir orang", Ny. Jo berkisah. Akhirnya bisa terkumpul uang sebanyak Rp 60.000 (uang Jepang). Sebelumnya telah dihubungi Biro Teknik Salam pimpinan Aboetajib di Kebon Sirih agar bersedia membangun tugu. Berdasarkan gambar tugu yang disiapkan Ny. Jo, biro Salam segera membangunnya tanpa menunggu biaya. Uang baru sebesar Rp 33.000 baru kemudian diserahkan. Begitu tugu yang dikerjakan kira-kira selama sebulan selesai, panitia menghadap Walikota Suwirjo, melaporkan rencana perayaan HUT Proklamasi dan peresmian tugu, pada tanggal 17 Agustus. Tapi berdasar pertimbangan keamanan Pak Wirjo menyarahkan agar upacara dilakukan tanggal 1 saja. "Kalau tanggal 1, biarlah pak Wirjo saja yang membukanya" usul Ny. Jo Masdani. Akhirnya kaum wanita tetap melaksanakan rencananya dengan pada malam 16-nya kurang lebih 300 orang mengadakan api unggun berjaga-jaga. Dan keesokan harinya kurang lebih 150 orang yang berkumpul di gedung SKP Pegangsaan (kini gedung bioskop Megaria) turut bergabung setelah menembus penjagaan tentara Inggeris Gurkha).

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Tugu jatuh bangun

Seni Rupa

Dekoratif soeparto

TEMPO|interaktif

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

Sebelum Tabrakan Cisarua, Penumpang Ingatkan Sopir  

Izin Operasi Bus Maut di Cisarua Dicabut

Nasional

Faisal-Biem Merasa Dijegal Aturan KPU DKI

Nasional

Partai Demokrat Segera Pecat Kader Bermasalah

Olahraga

Kisah Perempuan Afganistan di Ring Tinju Olimpiade

Olahraga

Mali Juara Ketiga Piala Afrika 2012  

Rentetan Kecelakaan di Jalan Raya Awal 2012

Nasional

Jokowi: Jangan Sampai Pemimpin Itu Melow

Olahraga

Barca Ditekuk Osasuna 3-2

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif