Oleh & Untuk Wartawan
King yang rupanya tak ingin kasusnya itu tersiar akhirnya menyerahkan selembar cek Bank Pembangunan Daerah DKI seharga Rp 1,6 juta kepada ketiga tamunya itu. Dari cek itu masing-masing mendapat Rp 500 ribu, sedang yang Rp 100 ribu sisanya konon disisihkan untuk Letkol Polisi Abbas Wiranatakusumah, Humas Komdak Metro Jaya.
Mungkin kasus ini akan tetap tinggal akan di benak ketiga wartawan dan King Hartono saja, sekiranya semuanya sudah merasa puas. Tapi ternyala Rp 500 ribu belum dirasakan memadai bagi H. Ia kembali menemui King Hartono, kali ini sendirian. Kepada King H menyodorkan naskah berita mengenai King yang menurut H akan segera dimuat harian Kompas dan Angkatan Bersenjata. Dari operasi ini, H akhirnya berhasil meraih tambahan Rp 700 ribn dari King. Dengan uang ini H segera berbelanja sebuah motor Vespa baru.
Perbuatan H, ini rupanya diketahui oleh kedua kawannya semula yaitu SS dan AA dan menimbulkan ketidaksenangan keduanya. Tak ayal lagi, AA memberitahukan kepada wartawan Kompas di Komdak bahwa ia dan korannya telah dicatut oleh H. Kerchan ini menyebabkan terjadinya rapat mendadak pala wartawan kepolisian di Komdak Metro Jaya minggu lalu. Dalam pembelannya salah seorang dari trio menyatakan di hadapan rapat: "Pemberian itu dengan rela. Kami jabat tangan segala. Tapi H mengakui: "Itu jelas pemerasan. Kalau tidak memeras kan kita siarkan saja", katanya. H mengkui bahwa ia telah melakukan kesalahan dan karena itu bersedia menerima resiko baik dari korannya maupun dari kawan-kawannya sesama wartawan kepolisian.
Tapi AA dan SS membantah keras bahwa yang mereka lakukan itu adalah memeras Keduanya berpegang pada pendirian bahwa mereka datang dengan baik-baik dan cek diberikan King Hartono dengan rela. Karena itu dalam rapat itu AA menuntut agar rapat hanya membicarakan kasus pencatutan nama Kompas dan AB oleh H saja. Soal cek Rp 1,6 juta. AA keberatan hal itl diungkit-ungkit karena, katanya, itu merupakan jerih payahnya selama berbulan-bulan mengumpulkan data mengenai penyelewengan King Hartono.
Dipecat & Disita
Perkara yang dituduhkan terhadap diri King Hartono itu awal Agustus lalu telah diserahkan kepada Letkol Pol. Abbas Wiranatakusumah dan oleh yang terakhir ini telah disalurkan ke Seksi Ekonomi Komdak Metro Jaya. Abbas sendiri yang disebut-sebut akan diberi Rp 100 ribu dari hasil Rp 1,6 juta yang diterima H, AA dan SS merasa dirugikan namanya. Tapi menghadapi masalah ini, ia nampaknya ingin membiarkan para wartawan kepolisian di Komdak mencari penyelesaian sendiri. Katanya, dia akan mengambil alih persoalan tersebut, kalau memang para wartawan tidak hisa menyelesaikannya sendiri. Tapi sementara itu minggu lalu, Abbas telah menyebut-nyebut rencananya mungkin akan meminta koran-koran bersangkutan menarik ketiga wartawan itu dari penugasan di Komdak Metro Jaya".
Tapi dari trio AA, SS dan H, rupanya nasib H yang dengan cepat meluncur jatuh. Tanggal 21 Agustus kemarin, ia telah kehilangan pekerjaan dipecat oleh koran tempatnya bekerja. Dan pada hari itu juga Vespa yang dibelinya telah disita kedua wartawan Kompas dan AB yang namanya telah dicatut H. Penyitaan ini dilakukan keluanya atas nama Koordinator Wartawan sub-seksi Polri/seksi Hankam. Di amping H, nasib buruk mungkin akan segera menimpa seorang zetter IBM di sebuah percetakan di Jakarta Kota. Sebabnya karena menurut pengakuan H. orang inilah yang telah dimintanya mengetikkan naskahl berita yang disdorkannya kepada King Hartono sebagai berita Kompas dan Angkatan Bersenjata dengan membayar Rp 100 ribu. Belakangan diketahui ada pula seorang wartawan lain bernama Sy. S yang upanya juga telah menghubungi King Hartono dan berhasil mendapatkan pula sejumlah uang.
