• Home
  • 30 Agustus 1975
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 30 Agustus 1975

    Dekoratif soeparto

    KESUNYIAN dan kelembutan kanvas Soeparto (51 tahun), nyaris senada dengan kesu nyian dan kelembutan kanvas Popo Iskandar. Hanya orang akan cepat membedakan adanya latar belakang teori dalam karya Popo sementara yang satu dalam karya-karyanya nampak intuisi lebih banyak bicara. Kecuali itu, apabila unsur dekoratif dalam karya Popo lebih merupakan ide, dalam lukisan Soeparto kedekoratifan itu bisa dikatakan yang membentuk lukisannya ismenyalah, begitu jelasnya. Satu lagi, jika unsur dekoratif dalam lukisan Popo hadir dari ornamen-ornamen tradisi berbagai daerah, dalam lukisan Soeparto hadir karena memang gaya melukisnya begitu. Soeparto tidak mengambil ornamen, tapi mengornamenkan obyek-obyek. Sebuah lukisannya Pengantin (1962), telah menunjukkan arah yang hendak ditempuh selanjutnya: gaya dekoratif. Bulan tanpa alasan kalau dikatakan rupanya ia banyak belajar dari wayang kulit. Pelukis ini lebih menekankan pada obyck yang diornamen dan dalam karya-karya sebelum 1973 latar belakang banyak yang ditinggalkan kosong, meski bertekstur. Maka silakan bandingkan dengan sebuah wayang kulit yang berdiri di depan geber (layar). Kalau ia pernah menggarap latar belakang dengan mengkotak-kotak dengan warna-warna (Dua Kuda 1967), kiranya karya tersebut terasa kurang sreg. Kelembutan dan ketenangan yang mungkin merupakan watak lukisannya, hilang. Kotak-kotak itu lebih memberikan gerak yang ribut daripada kalem . Maka ketika kemudian hadir lukisannya dengan latar belakang garis-garis warna mendatar dan bergelombang, nampaknya kesoepartoan dalam lukisannya makin kukuh. Bukannya tanpa masalah sebab komposisi jenial yang pernah dicapainya dengan latar yang kosong, misalnya dalam Alam Benda (koleksi Direktorat Kesenian) atau Adam dan Hawa (1969), tak mungkin ia hadirkan lagi dengan garis-garis datar bergelombang ini. Tapi terhadap pelukis yang sudah sejak 1944 mencipta, dan yang menunjuujukkan ketekunan luar biasa dalam karya-karyanya, kurang hati-hatilah bila dikatakan tak berhasil memadukan obyek dan latar belakangnya. Dalam pameran di Mitra Budaya pertengahan Juli ini, sebuah lukisan terbarunya, Bunga (1975) menunjukkan pemecahan itu: obyek sekaligus latar belakang ia bentuk dari bidang-bidang segitiga. Penonjolan obyek dicapainya dengan memberi warna yang lebih tua daripada latarnya. Tanpa mengurangi nilai yang pernah dicapainya, lukisan atau ini meyakinkan kita, bahwa Soeparto masih bisa diharap. Sebagai seorang yang lebih memperhatikan obyek yang diambil, maka patung-patungnya lebih beruntung. Masalah latar belakang tentu saja tak ada di sini, dan karenanya ia lebih bisa mencurahkan perhatian kepada obyek yang digarap. Dalam patung-patungnya inilah Soeparto lebih menampakkan diri sebagai dekoratifis tulen. Ornamen dalam patungnya tidak sekedar mau menjadi dekoratif, tapi memang membawa dimensi lain. Lihat saja Kucingnya yang dilorek-lorek dengan warna-warna bukankah lorek-lorek itu kecuali menimb-ulkan rasa enak dipandang, juga menjadi watak patung tersebut? Atau lebih lagi Kucingnya yang dipahat dengan garis kecil-kecil merata seluruh tubuh. Pun bila tanpa ornamen sekalipun, hanya dengan pelitur yang mengkilap, cahaya yang terpantul darinya sudah seolah ornamen-ornamen. Dan tentu saja memberikan efek optik -- yang dalam beberapa lukisannya hadir juga -- yang menyenangkan. Lihat saja dalam pameran ini: Perenpuan Duduk, Tiduran atau Banteng yang disuguhkan dalam Pameran Patung Kontemporer 1973 lalu. Dan kalau orang mau mencari dekoratif yang tegas, silakan lihat Pohon Hayat dan Daun Mulyanya. Dua patung itu memang mengambil unsur ornamen, dan ia terasa lebih akrab karena lebih terasa sebagai benda sehari-hari daripada karya-karya yang lain. Penyederhanaan patung-patung Soeparto rupanya mirip dengan bentuk-bentuk celengan. Hanya Soeparto dalam menyederhanakan bentuk-bentuk yang berliku kecil, tak jarang menimbulkan rasa risi yang mengganggu: tapak kaki pada patung-patung Kuda atau pada bentuk kaki patung manusia-manusianya. Dibanding patung-patung G. Sidharta yang juga (bekas) pelukis itu, kita lebih bisa menyebut: "Ini patung Dharta!" -- dengan mantap dan jelas. Sementara kita harus masih hati-hati dan sedikit ragu menyebut: "Ini patung Soeparto". Bambang Bujono.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Tugu jatuh bangun

Seni Rupa

Dekoratif soeparto

TEMPO|interaktif

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

Bisnis

Nissan Siapkan Rp 700 Miliar untuk Bangun Gerai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif