"goro-goro" rendra, 1957
"Sambil merasa malu terhadap anak sulung saya Teddy Nugraha yang sudah bisa menulis sajak lebih baik dibanding sajak masa remaja saya, maka sebagai rasa terimakasih kepada Saudara DS Moeljanto saya akan membacakan sajak-sajak yang sudah saya lupakan dan saya tak punya arsifnya ini. Saya tak akan menjadi penyair kalau Saudara Moeljanto dulu tidak suka 'mencuri' tulisan-tulisan saya lalu mengirimkannya ke majalah. Ketika itu saya lalu sadar akan kepenyairan saya. Tetapi lebih senang lagi karena menerima honorarium.. " kata Rendra di panggung, bertelanjang kaki Terasa vulgair memang, tapi jelas masih tampak 'garis alur gaya' yang bersambungan dengan sejumlah puisi Rendra sebelum ia ke Amerika.
Adapun sajak-sajak Rendra yang ia tulis tahun ini (Gadis dan Majikan, Rakyat adalah Sumber ilmu, Songgok jagung Di Kamar dan terutama Mencari Bapa-- "sajak terpanjang yang pernah saya tulis") masih terasa gayanya yang lama, ballada. Mencari Bapa, sebenarnya cukup bagus kalau saja berakhir pada baris-baris surrealistis, yang menggambarkan kereta api melaju menembus ruang dan waktu. Keutuhannya justru tak tertolong ketika ia menempelinya dengan berbagai doa Katholik, Islam, Budha, bahkan doa meditasi Yogya) meskipun kemudian dibuntuti dengan "ya Bapa, ya Bapa, ya Bapa.... "
Pagi sebelumnya, di tempat yang sama, dengan upacara yang khidmat campur gelak santai, Rendra untuk pertama kalinya) berkesempatan mengucapkan pidato resmi Di bawah ini nukilan-nukilannya:
Yogya Yang 'Gawat'
Pepatah mengatakan: "Di dalam ilmu silat tidak ada juara nomor dua, di dalam ilmu surat tidak ada juara nomor satu".
***
Jadi mustahil bila saya menganggap bahwa penghargaan dari Akademi Jakarta ini bisa menjadi ukuran mutu bagi kesenian saya, di dalam perbandingannya dengan karya seniman-seniman lain yang tidak mendapatkan hadiah pada tahun ini. Maka kegembiraan saya hari ini tidak ada hubungannya dengan rasa unggul. Lalu apakah dasar kegembiraan saya yang sangat besar hari ini?
Di kota di mana saya tinggal, di Yogya, sejak pementasan drama saya ,Mastodon dan Burung Kondor, saya belum pernah diizinkan untuk melakukan pementasan sandiwara lagi Alasan pelarangan-pelarangan terhadap pementasan saya itu tidak bisa diterima oleh akal sehat. Oidipus Berpulang dan lysistrata yang sudah diizinkan dimainkan di Jakarta itu, tidak diizinkan untuk dimainkan di Yogya. Naskah Oidipus Berpulang itu dilarang karena pertimbangan dari atasan dan karena dinilai tidak sesuai dengan naskah Sophocles yang asli. Tetapi apakah ada undang-undang yang melarang penyaduran? Sedang Lysistrata dilarang berdasarkan pertimbangan atasan, serta mengingat "situasi dan kondisi di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini". Astaga, jadi rupa-rupanya saat ini, menurut keterangan di dalam surat polisi itu, keadaan Yogya dalam keadaan sedemikian rupa sehingga pementasan sebuah sandiwara semacam Lysistrata saja dianggap akan bisa membahayakan suasana.
Kalau begitu secara tidak langsung diakui bahwa Yogya penuh dengan keadaan yang tidak normal? Ataukah keadaan Yogya diakui selalu tegang dan gawat terus-menerus? Bagaimana kah sebenarnya? Sebagai penduduk Yogya saya kurang tahu duduk perkara keadaan aneh semacam itu. Pemerintah pusat, para wakil rakyat dan para wartawan harus menyelidiki "situasi dan kondisi di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini" seperti yang dikhawatirkan oleh polisi Yogya tersebut di atas. Apakah para atasan yang disebut oleh polisi itu benar-benar sudah tidak bisa menguasai suasana sehingga mereka menjadi repot hanya oleh sebuah sandiwara? Ini harus benar-benar diselidiki. Apakah mereka takut menghadapi sindiran dan kritikan? Kalau begitu apakah kewibawaan mereka sudah sedemikian tipis sehingga gentar menghadapi kritikan?
***
Goro-goro & Setengah Badan
Adapun sandiwara-sandiwara saya tak lebih dari sebuah goro-goro. Di dalam goro-goro, Semar, Bagong, Gareng dan Petruk memang melancarkan kritikan yang menginginkan keadilan yag merata, namun tidak menyarankan perubahan kekuasaan. Goro-goro yang sudah bisya mainkan di Jakarta tidak pernah menimbulkan anarki, karena pada hakikatnya saya anti anarki. Jadi kenapa para atasan yang disebu oleh polisi di Yogya itu melarang, goro-goro saya yang menentang anarki itu? Ini menimbulkan keprihatinan saya yang dalam....
***
Bencana dan keberuntungan manusia ialah bahwa ia terdiri dari roh dan badan. Modern atau tidak modern, manusia harus mempertahankan keseimbangan antara roh dan badannya, demi kesehatan. Di dalam masyarakat, modern atau bukan modern, pembagian roh dan badan itu tetap ada. Lembaga. hukum, adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan, itulah badan. Nilai dan mimpi, itulah roh. Adalah tugas para ulama, cendekiawan dan seniman untuk menjaga peranan roh masyarakat. Kerjasama dengan badan harus dilakukan. Keseimbangan harus dijaga. Kesepuluh anggota Akademi Jakarta adalah cendekiawan cendekiawan yang terpandang dan masing-masing sudah nyata jasanya. Di aman dahulu orang-orang seperti mereka disebut empu-empu. Dan kedudukan mereka masing-masing di mata masyarakat adalah penjaga nilai-nilai rohani. Maka, raja berumah di Kraton dan empu berumah di angin. Begitu kata pepatah yang tersangkut di ranting pohonan. Jadi kenapa kesepuluh empu-empu ini mesti dilembagakan? Bukankah sejauh jauhnya empu berlembaga pasti hanya menjadi lembaga setengah badan?
***
Tentu saja, demi ketangkasan kerjasama di dalam masyarakat untuk memperjuangkan perubahan itu, para empu- yah maksud saya cendekiawan, ulama dan seniman -- perlu juga disetengah badankan. Jadi akhirnya saya bisa menerima dan mengkaitkan kedudukan. Akademi Jakarta, Dewan Kesenian, Majelis Ulama dan sebagainya kepada kebutuhan masyarakat. Meskipun tentu saja akan tetap ada cendekiawan atau seniman yang tidak mau disetengah badankan, misalnya saya dan banyak lagi yang lain. Yah, saya ingin tetap tinggal di angin.
Begitulah memang seharusnya keseimbangan di dalam masa-masa perubahan. Badan + setengah roh, setengah badan + roh. Salah satu ditiadakan, keseimbangan akan terguncang. Tugas penjaga roh--ialah mereka yang berumah di angin - adalah untuk mencari inspirasi dan daya hidup. Tugas penjaga badan--ialah yang berumah di Kraton --adalah untuk menjalankan pelaksanaan, menjaga ketangkasan dan kerapian. Sedang tugas yang setengah roh setengah badan--ialah mereka yang berumah di dewan -- untuk menjabarkan nilai roh dan nilai badan sehingga menjelma menjadi perumusan yang bisa dilaksanakan. Inilah tugas yang berat dan gawat, karena menuntut kebijaksanaan dan kematangan jiwa.
***
Disiplin Ilmiah & Ali Sadikin
Orde Lama jatuh karena mencap orang-orang yang berumah di angin sebagai golongan anti revolusi, sehingga tak ada lagi imbangan kontrol yang bisa memberi tanda bahaya. Dan sekarang bagaimanakah keadaan orang-orang yang berumah di dewan di saat sekarang? Rakyat ingin melihat dan membuktikan. Apakah orang-orang yang berumah di dewan sanggup membela orang yang berumah di angin? Apakah mereka sanggup merapikan orang Yang berumah di Kraton? Apakah mereka sanggup membela keadilan kerakyatan dengan lebih mendorong agar bisa tercapai demokrasi politik yang Iebih bijaksana' Apakah mereka sanggup lebih mendorong terlaksananya demokrasi ekonomi? Apakah mereka sanggup mendorong tercapainya demokrasi pendidikan? Sebab inilah semua alur perubahan yang diperlukan untuk membela rakyat .
Tetapi juga ini: apakah orang-orang yang berumah di dewan akan sanggup mendor ong agar nilai ilmiah benar-benar bisa diterapkan di dalan melaksanakan kemajuan'? Yang saya maksud, agar urutan disiplin ilmiah- mengumpulkan fakta, menyusun fakta, menganalisa fakta, membuat kesimpulan dan membuktikan kesimpulan --- benar-benar bisa diterapkan di Indonesia. Tanpa salah satu dari kelima disiplin itu tidak akan mungkin bisa ada penghayatan ilmiah. Jadi sangat penting agar penghayatan ilmiah bisa dilaksanakan, bahwa semua fakta bisa terbuka untuk mereka dan mereka pun harus dibebaskan untuk mengumpulkan fakta apa saja. Selanjutnya harus pula ada kesempatan untuk membuktikan kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada. Tanpa kesempatan semacam itu sikap ilmiah adalah omong kosong.
***
Tentu saja semuanya juga akan berkaitan dengan imbangan yang lain, yaitu kepemimpinan Saudara Ali Sadikin Tetapi di dalam hal ini Akademi Jakarta sungguh beruntung karena mempunyai pemimpin yang tidak terlalu tegang dengan kekuasaan. Tetapi justru karena ia santai dengan kekuasaan, maka rakyat memberinya wibawa. Sebagai orang yang berumah di angin, sebagai orang yang bernaluri penyair, saya merasakan getaran wibawa yang enak dari orang ini. Wibawa yang bersifat membebaskan. Wibawa yang tidak takut terhadap kritikan. Bukan orang yang sempurna tentunya, tetapi orang yang mampu memberikan harapan akan perkembangan kebudayaan.
Sekarang saya ambil hadiah dari Akademi Jakarta. Terimakasih. Saya akan kembali ke angin. Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa.
