• Home
  • 04 Oktober 1975
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Agama
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 04 Oktober 1975

    Biarkan Ramadhan Sunyi

    PADA suatu hari penduduk Banjarmasin turun ke jalan raya gara-gara suara mik yang berkaok-kaok. Sebuah arak-arakan kecil sedang menurunkan sejumlah pengumuman. Di dalamnya ikut serta 11 kepala dari rombongan band Pretty Sister's. Dari landasan Ulin Syamsuddin Noor mereka berusaha menghubungi telinga seluruh wargakota Banjarmasin yang butuh hiburan. Mereka menjanjikan akan bertemu dengan rakyat sejak malam itu untuk tiga malam (2, 3, 5 September) di bioskop Ria atau Lapangan Merdeka. Dapat dimaklumi betapa suka hati penduduk yang jarang dijamah rombongan hiburan yang namanya sering dipajang di koran ibukota. Mereka setuju untuk membeli karcis seharga Rp 2.500 dan Rp 2.000. Celana-celana cutbrai pun segera dikeluarkan untuk dibawa menonton sambil sedikit nampang. Nasib Pemegang Karcis Akan tetapi malang tak dapat ditolak. Fihak Kepolisian dan Pemkodati II Banjarmasin tak senang hatinya. Bahkan mereka terkejut buru-buru mengepitkan catatan untuk meyakinkan bahwa Pemerintah tidak pernah merasa memberikan izin. Terbayang wajah panitia yang bertanggung jawab dalam kerepotan itu yakni Gerakan Pemuda Siswa Mahasiswa (GPSM) Kosgoro dan lebih-lebih lagi terbayang wajah ketuanya yang bernama Damanik. Memang pernah ada rencana GPSM untuk bekerjasama dengan SIWO/PWI untuk menarik acara yang sama. Akan tetapi rencana itu sudah berantakan. "Berhubung tidak diperoleh kata mufakat'', kata Rustam Effendi Karel, sekretaris SIWO. Ikhwalnya berkisar pada ketidak sepakatan soal karcis. Fihak wartawan bermaksud menjual karcis murah seharga Rp 100 untuk pertunjukan di lapangan Merdeka. Tapi GPSM minta dikalikan 2. SIWO yang naga-naganya tak berani menggaet terlalu banyak duit dari kocek rakyat mundur teratur. Kabarnya Walikotamadya sudah ikut serta pula memecahkan soal itu. Ia memberi petuah pada Damanik untuk membiarkan bulan suci Ramadhan muncul dalam-kesunyiannya. Apalagi Agustus yang barusan lewat telah mengocok kota dengan berbagai macam hiburan. Akan tetapi Damanik rupanya telah bertekad. Ia terbang ke Surabaya - pakai pesawat tentu saja. Besar juga minatnya untuk menghibur, kalau memang cuma itu tujuan pokoknya. Bahkan berhasil juga ia menjual karcisnya yang mahal itu dengan gencar. "Apa fihak yang berwajib di sini dianggap patung, kan kalau terjadi apa-apa, tidak hanya panitia yang bertanggungjawab", kata seorang pejabat di Balaikota menanggapi ulah Damanik. Demikianlah asal mulanya, celana-celana cutbrai yang sudah disiapkan oleh para remaja setempat menjadi dingin dan dimasukkan lagi ke almari. Pertunjukan dibatalkan, apa lagi ternyata karcis yang terjual habis juga walau tanpa izin. Damanik dikabarkan bangkrut. Sementara para pemegang karcis belum ketahuan nasibnya. Untunglah di samping melakukan tindakan keras yang berwajib sebagai orang timur mencoba mengoper persoalan seluruhnya. Kodim 1007 Banjarmasin dengan biaya sendiri memulangkan Pretty Sister's ke Surabaya dalam keadaan selamat. Pangdam X/Lambung Mangkurat merestui ketegasan itu. Kontrak yang sudah dibikin disalin ke atas kertas kontrak baru. Bahwa rombongan band Gadis Cantik itu tetap akan muncul nanti, untuk tidak mengecewakan para pemilik cutbrai. Waktunya seminggu sehabis Lebaran. Tak diketahui apa kata Damanik. Akan tetapi fhak panitia kelihatannya sulit dicari. sehingga untuk sementara fihak pemegang karcis merasa cemas. "Kalau kami tahu begini jadinya, kami tak bakalan datang", ujar Sumargo orang tua Pretty- seorang dokterandus ternyata. Bisa juga kebobolan.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ilustrasi

Pantulan-pantulan mode john

Ulah menyiangi penyengat

Jakarta: dari jauh dan dari dekat jakarta: dari jauh dan dari dekat

Agama

H.b. yassin, di mana mulanya puisi...

Bagaimana saya jatuh cinta kepada..

TEMPO|interaktif

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif