Olahraga

Menanti Prestasi Tinton cs

Kini pembalap mobil tak ada masalah pembiayaan. ada sponsor asal pembalap berprestasi. tinton suprapto menilai, cara kerja panitia perlombaan indonesia menghambat prestasi pembalap kita. (or)
DUNIA balap mobi kini bukan lagi merupakan gambaran suram bagi penggemar olahraga kendaraan bermotor. Sejauh kesuraman itu dikaitkan dengan angka pembiayaan untuk persiapan dan latihan (berkisar antara 2--3 juta rupiah) yang memusingkan pembalap. "Sekarang ini asalkan kita punya prestasi dalam balap, sponsor itu akan datang dengan sendirinya" komentar Tinton Suprapto sambil menyingkap tabir: meningkatnya persaingan pemasaran mobil belakangan ini menyebabkan perusahaan kendaraan bermotor mulai turun tangan mencari pembeli lewat promosi balap. "Dulu, jangankan untuk menjadi sponsor penuh membantu separohnya saja pun mereka enggan".

Melihat kenyataan yang mulai elok itu tidak mengherankan bila gairah datang menggeluti pembalap. Sebab dalam kondisi serupa nama-nama seperti Beng Suswanto Hanny (Chepot) Wianno atau Tinton Suprapto adalah orang yang diuber perusahaan kendaraan bermotor untuk mau duduk di belakang kemudi produksi mereka, dengan adanya perhatian yang lebih baik dari para asembler mobil itu kita bisa lebih mengkonsentrasikan diri pada balapan itu sendiri. Tidak seperti dulu di mana fikiran kita sering terbagi: mana untuk cari biaya dan mana buat balapan tambah Tinton. Bertolak dari ucapan itu bukan aneh bila masa lalu pembalap-pembalap Indonesia agak berhati-hati mengendalikan kendaraan mereka selama latihan. Dan untuk menuntut prestasi dari mereka dalam keadaan serupa itu jelas suatu hal yang sulit. Tapi, adakah perubahan nasib ini akan membawa perbaikan reputasi bagi mereka dalam menyaingi jago-jago kebut luar negeri dalam Grand Prix di Indonesie Nopember nanti? Kenapa tidak, tutur Tinton yang memilih Honda Civic bersama Beng dan Chepot untuk Grand Prix itu karena dalam soal teknik balapan tidak ketinggalan dibanding mereka.

Manja

Jika demikian di manakah titik kelemahan pembalap-pembalap Indonesia selama ini? Menurut Tinton ketidakmujuran itu sering berpangkal dari cara kerja panitia perlombaan yang suka memanjakan pembalap asing. Misalnya dalam penentuan rade (urutan start) waktu balapan umumnya pembalap-pembalap luar negeri itu diberi tempat yang lebih baik oleh panitia. Sedang kita diberi tempat nomor buntut kilah Tinton sembari mengungkap kisah yang dialaminya dalam balapan-balapan sebelumnya di mana ia hampir tidak pernah menempati grade di bagian depan, sementara pembalap-pembalap asing dengan mudah mendapatkannya. Apa cara kerja demikian tidak menyakitkan hati pembalap-pembalap kita? ucap pembalap yang tergabung dalam Jakarta Karting Club itu. Selain kritik yang dialamatkan pada panitia perlombaan itu Tinton juga mengilik rekannya yang kurang belajar dan kurang hubungan dengan pembalap luar negeri. Hal ini sangat penting untuk menunjang prestasi tambah Tinton kalau tidak bagaimana kita bisa mengetahui perkembangan-perkembangan dalam dunia balap. Apakah dipenuhkannya tuntutan itu lalu pembalap-pembalap dalam negeri akan berprestasi baik? Jaga saja tanggal mainnya.
POKOK & TOKOH

Selamat datang heneke

Rima melati melahirkan anak perempuan yang pertama dari suaminya yang ke-4, frans tumbuan, diberi nama heneke adinda. heneke diambil dari nama mendiang kakak frans. (pt)

KOLOM

Risdianto, iswadi, abdul kadir,...

Kongres pssi di medan melarang pemain nasional yang baru pulang dari luar negeri bermain dalam waktu 9 bulan untuk kesebelasan bond. demi mutu, mereka bisa main di tingkat klub dan kesebelasan nasional pssi.