Tokoh

Nikolai, si pembangkang

Chiang ching-kuo, anak chiang kai-shek, yang menggantikan ayahnya sebagai perdana menteri taiwan, dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. ia berdisiplin tinggi, cerdas. pernah belajar di rusia. (tk)
KEHIDUPAN pribadinya tak banyak dibicarakan. Kemana pun Ia pergi selalu dalam pengawalan ketat polisi rahasia. Begitu pula rumah dan kantornya. Tapi mobil yang ditumpanginya tak pernah dikawal sepeda-sepeda motor dengan polisi berseragam. Hanya beberapa intel berpakaian preman membayang-bayanginya di depan dan belakang dalan mobil-mobil samaran. Namanya Chiang Ching-kuo (sering dipanggil dengan sebutan akrab CCK). Ia anak mendiang Chiang Kai-shek, Presiden Republik Nasionalis Cina di Taiwan yang meninggal awal April kemarin. Diangkat sebagai Perdana Menteri sejak 1972, ia juga menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Ketua Partai Kuomimintang. Di kalangan pers Taiwan ada semacam kode etik tak tertulis untuk tidak menyiarkan kehidupan pribadi dan keluarganya.

Sekalipun begitu ia berusaha intim dengan orang lain. Misalnya sering tampak rileks di rumah Li Huan membicarakan soal-soal pribadi sambil membuka baju seperti di rumah sendiri. Huan sekarang Kepala Urusan Politik Partai Kuomintang -- sejak dulu selalu membantunya, juga ketika ia memimpin pertahanan di Kiangsi Selatan pada zaman pendudukan Jepang. Berbeda dengan ayahnya yang cenderung mengasingkan diri, ia sangat dekat dengan rakyat Taiwan yang 16 juta itu. Baginya, pimpinan yang baik ialah yang bisa bergaul dengan rakyat. Ia sering mengunjungi pertemuan-pertemuan umum. Dengan bebas dan langsung berbicara dari hati ke hati.

CCK memang sering nyerempet-nyerempet bahaya. Tanpa memberi tahu petugas sekuriti, kadang-kadang ia mengunjungi sebuah restoran kecil bersama beberapa teman. Dan duduk begitu saja di antara tamu-tamu lainnya, suatu ketika ia makan siang di rumah keluarga seorang nelayan, bergurau dengan para pemuda dan . . . membayar makanan yang dihidangkan kepadanya. "Ching kuo memang sangat tertarik pada kehidupan rakyat kecil. Ia lebih suka makan bersama orang-orang kebanyakan dari pada resepsi-resepsi kenegaraan", kata seorang pejabat Taiwan. Setiap bulan, beberapa kali ia nylonong ke luar kantor tanpa protokoler menemui para petani, buruh pabrik, kelompok pemuda atau militer. Di kantornya sendiri jalan Chungshan di Taipeh, ia sering ngobrol dengan staf atau pembantu-pembantu lain pada kesempatan sarapan pagi. Itu tak berarti ia suka meninggalkan disiplin, Jan 07.30 ia selalu sudah siap di belakang meja kerjanya.

Hari-harinya memang sibuk dengan beberapa acara. Cukup tekun dalam kerja, toh ia tak melewatkan rekreasinya: melancong ke luar kota. Mendaki bukit-bukit kecil di belakang rumahnya atau sesekali mengunjungi pulau Quemoy dekat pantai Fukien. Di sana bukan tanpa pengawalan ketat, tentu ia bergaul dengan nelayan-nelayan yang ramah dengan perkampungannya yang menyenangkan. Dan pada jam-jam istirahatnya, ia selalu membaca terutama novel-novel Hemingway. la memang menguasai bahasa Inggeris dengan baik. Tapi dalam upacara-upacara resmi lebih senang menggunakan juru-bahasa. Suka makan masakan berlemak (dan makanan khas Ningpo, masakan asli Taiwan) tapi ia harus berjuang melawan penyakit kencing manis yang bertahun-tahun diidapnya.

Yang jelas, CCK termasuk salah seorang tokoh penting di Asia yang dalam tahun-tahun mendatang akan ikut menentukan peta politik wilayah ini yang tengah memasuki babak baru. Setidaknya dalam hal kedudukan Taiwan sehubungan dengan sikap dan peranan politik luar negeri AS di Asia. Nasib Taiwan boleh dikata ditentukan oleh orang ini. Republik Cina ini berdiri 1949 sejak Kuomintang terdesak oleh Mao Tset Ung sampai ke Taiwan, pulau seluas 13885 mil persegi sebelah selatan daratan Cina. Dengan bantuan AS, akhirnya Generalissimo Chiang Kai-shek bukan saja berhasil membikin makmur tetapi peranan Taiwan dalam percaturan dunia internasional pun menonjol. Republik kecil ini mengklaim bahwa wilayahnya meliputi seluruh daratan cina yang kini disebut Republik Rakyat Cina, sebaliknya Peking menganggap Taiwan sebagai daerah kekuasaannya yang suatu waktu akan direbutnya kembali.

Mao Chien-ju

Ketika Kuomintang terusir, CCK banyak membantu ayahnya. Kesulitan-kesulitan dalam pemerintahan usiran banyak ia atasi, terutama bidang ekonomi yang hancur akibat inflasi dan korupsi. Tahun 1965 ia membentuk Departemen Pertahanan, dari mana ia memperbaiki Angkatan Perang -- baik segi teknis administratif maupun persenjataannya. Empat tahun kemudian ia meninggalkan Departemen tersebut dan menjadi Wakil Perdana Menteri. Di sinilah ia memusatkan perhatian pada perbaikan ekonomi. Di luar blok komunis, boleh dikata Taiwan merupakan salah satu negara baru yang mampu dengan pesat mencapai kemajuan ekonomi.

Barangkali karena kebetulan ia anak Chiang Kai-shek maka kariernya mudah menanjak. Tapi ia memang orang cerdas. "Berbicara dengan dia, kita tidak bisa seenaknya. Ia dengan cepat dapat menguasai setiap persoalan, menangkap maksud pembicaraan dengan tepat dan selalu ingin langsung pada pokok masalah tanpa dikuasai emosi", kata seorang pejabat Kedutaan Besar AS di Taipeh. Ketenangan emosinya tampak ketika tahun 1970, di New York, Ia lolos dari percobaan pembunuhan. Para pengawalnya sudah pada panik. Tapi dengan tenang ia berkata: "Apakah di antara kalian ada yang terluka . . . ?"

Sejak Washington merubah sikapnya terhadap Peking (1972) orang mulai mempertanyakan kedudukan dan nasib Taiwan. Jawabnya, banyak tersimpan di kantong orang ini. Ia juga amat prihatin terhadap perkembangan dunia tahun-tahun terakhir ini, terutama tentu saja yang menyangkut kepentingan negerinya. Misalnya tentang dicopotnya Taiwan dari keanggotaan PBB dan semakin merosotnya simpati negeri-negeri sedang berkembang terhadap Taiwan. Tentang daratan Cina, ia pernah bilang: "Saya tak pereaya AS bisa mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan Cina Komunis. Setiap usaha ke arah penyatuan Cina akan merupakan bencana bagi umat manusia". Lalu tak lupa ia 'mengancam' AS: "Kami tak pernah dan tak akan pernah mendekati Soviet Rusia. Kami anti komunis. Tapi fihak Barat kelak akan menyadari kalau kami merubah prinsip ini".

Kepribadian orang ini agak unik, nyata dari latar belakang kehidupannya yang begitu kontras dengan peranan yang kini dipegangnya. Masa mudanya, lebih dari 12 tahun, sama sekali tenggelam dalam pendidikan sebagai kader komunis di Uni Soviet. Ia lahir 66 tahun lalu di Chikow, kota kuno di pantai Chekiang. Ibunya. Mao Chien ju, adalah gadis desa yang tak kenal sekolah. Chienju kemudian bercerai dan Chiang Kai-shek kawin dengan Soong Mei-ling. Madame Chiang yang sekarang). Di masa kanak kanaknya CCK sangat jarang bertemu dengan ayahnya yang pada masa revolusi itu aktif dalam kemiliteran.

Leon Trotsky

Setelah bersekolah di Shanghai, CCK melanjutkan pelajaran ke Peking. Di ibukota inilah, pada usia 15, ia aktif dalam gerakan-gerakan mahasiswa 1, pernah ditahan selama 2 minggu karena memimpin demonstrasi. Ketika itu Partai Komunis baru saja berdiri dan masih bekerja sama dengan Kuomintang. Tentu saja dengan restu Uni Soviet, bahkan tak sedikit penasehat politik dan militer Rusia dikilim ke negeri Cina. Bukan itu saja, Soviet juga membuka pintu bagi pemuda-pemuda Cina untuk belajar di Rusia. CCK, yang sudah mulai terkenal di kalangan mahasiswa Peking, tak menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Pemuda yang lagi dibakar idealisme ini sangat tertarik pada negeri yang banyak mengilhami gerakan-gerakannya itu. Maka, di sanalah ia belajar bahwa "tak ada satu kekuasaan pun juga kekuasaan tuhan -- yang manipu mengalahkan kekuasaan kaum buruh dan tani". Dua belas tahun kemudian ia menulis buku Hari-hariku Di Uni Soviet--memapar kan pengalaman-pengalamannya selama di sana. Antara lain terbaca: "Aku menjadi korban psikologis dari keadan waktu. itu " .

Prestasinya sebagai mahasiswa Universitas Sun Yat-sen (kemudian dirubah namanya menjadi Universitas Lenin) memang menonjol. Teman-temannya terdiri dari para mahasiswa anggota Partai Komunis dan Kuomintang, toh ia lebih tertari kepada yang pertamanya. Dimatanya, mahasiswa-mahasiswa Komunis tampak lebih sederhana dan berdisiplin dibanding mahasiswa Kuomintang yang urakan. Ia pun masuk dalam Korp Pemuda Komunis. "Partai Komunis Cina punya cabang di Moskow dengan organisasi dan metode pendidikan kader yang terencana baik", tulisnya dalam bukunya.

Kegiatan Ching-kuo dalam Korp Pemuda Komunis sangat menarik perhatian penguasa Rusia. Tulisannya yang 'revolusioner' dalam salah satu penerbitan mendapat pujian. Tapi debutnya tergoncang ketika tahun 1927 ayahnya berbalik memusuhi Partai Komunis, sementara ia sendiri juga mengalami perkembangan baru. Ketika itu ia sudah pula dilatih sebagai kader komunis di bawah Karel Radek. Di bawah pengaruh Radek, ia Iebih condong kepada Leon Trotsky, pemimpin gerakan oposisi melawan Stalin--sikap yang banyak diikuti oleh teman-temannya mahasiswa lain.

Maka ia pun memimpin gerakan Trotskyist di bawah tanah. Baginya, gerakan revolusi Stalin tidak sehat, tidak bisa ditrapkan di tanah Cina. Ia bertemu muka dengan Stalin pertama kali ketika pemimpin komunis itu memberi kuliah di universitasnya tentang kesalahan-kesalahan Klik Trotski. Stalin memang ingin mempengaruhi mahasiswa. Tapi dalam bukunya kemudian Chingkuo menulis "kuliah itu tidak menarik. malah membuat saya semakin bersemangat melawan Stalin".

Tukashevsky

Tahun 1927 menyelesaikan studinya, semula ia bermaksud pulang. Tapi orang-orang komunis khawatir kalau-kalau ia bergabung dengan ayahnya. Agar tetap tinggal di Soviet ia ditawari masuk Tentara Merah. Semula ia ragu-ragu. Akhirnya setahun kemudian ia memutuskan masuk seleksi di Pusat Pendidikan Militer dan Politik Tolmatchev di Leningrad, dan termasuk satu dari 5 kader terbaik yang lulus seleksi. Instrukturnya seorang jenderal senior, Tukashevsky, yang kemudian dihukum mati oleh Stalin.

Ching-kuo mulai tertarik dengan kehidupan barunya dalam pendidikan militer. Ia khusus memusatkan perhatian pada teori perang gerilya. Di samping menulis tentang perang dan politik, ia mengambil paper Beberapa Taktik Perang Gerilya. Tak ayal lagi, ia mulai terkenal di kalangan calon-calon perwira tinggi Rusia yang mengambil pelajaran di Pusat Pendidikan tersebut. Tapi karena ia anak Chiang Kai-shek, orang-orang komunis (Cina dan Rusia) selalu mencurigainya. Setelah lulus, Mei 1930. ia tidak langsung diangkat sebagai tentara meskipun sebelumnya telah dicalonkan sebagai Komandan sebuah Divisi. Ia dituduh terlibat dalam gerakan mahasiswa anti Stalin di Universitas Lenin (sebab di sana pun ternyata pengaruhnya masih kuat).

Keluar dari pendidikan militer ia bekerja di perusahaan listrik sambil belajar teknik di malam hari. Dalam waktu singkat ia diangkat sebagai pembantu bidang teknik. Tapi oleh Partai Komunis pengangkatannya dibatalkan. Tak lama kemudian oleh Chen Shao-yu, pimpinan Komunis Cina di Moskow ia dihukum kerja paksa. Mula-mula di sebuah pertanian kolektif dekat Moskow kemudian sebagai buruh tambang di Siberia. Tak kurang dari 3 tahun bekerja berat, kemudian diangkat sebagai pembantu Direktur Pabrik Alat-alat Berat Ural di Sverdlovsk dan sempat menjadi redaksi surat kabar lokal, Heavy lndustry Daily.

Itu tak berarti lepas sama sekali dari incaran komunis. Tahun 1935 ia dipanggil ke Moskow, karena ayahnya minta kepada pemerintah Soviet agar anaknya diijinkan pulang. Chen, musuh lamanya itu, sudah siap menghadang. "Kau harus menulis surat kepada orang tuamu bahwa kau di sini bekerja biasa dan benar-benar bebas". Katanya. Di bawah tekanan Chen (dan setelah 4 hari diinterogasi) akhirnya Ching-kuo menandatangani surat yang didiktekan dengan harapan suatu waktu kelak bisa pulang ke tanah air. Ketika itu ia baru saja menikah dengan gadis Rusia, buruh wanita di pabriknya bernama Faina.

Nikolai

Setahun setelah itu ia dipecat. Akhirnya datang juga saatnya ketika Jepang menyerbu daratan Cina. Menghadapi bahaya ini, Partai Komunis bekerja sama lagi dengan Partai Kuomintang (lagi-lagi di bawah restu Soviet). Mendadak Ching-kuo diijinkan pulang. Bersama Faina dan kedua anaknya, 1936 ia meninggalkan Rusia dan pada bulan Agustus 1937 ia diangkat sebagai Komandan Pasukan di Kiangsi Selatan. Selama dalam pengawasannya, daerah ini tak pernah bisa direbut oleh Jepang. Maka Kai-shek semakin yakin akan kemampuannya. Setelah perang usai, ia duduk sebagai salah seorang anggota delegasi ke Rusia merundingkan masalah Mongolia Luar dan Manchuria. Beberapa kali ia sempat bertemu muka dengan Stalin. Sebagai wakil Cina ia menunjukkan kemampuan diplomasinya dan sama sekali tak ada tanda-tanda terpengaruh oleh pendidikannya sebagai kader komunis. Maklum, ia memang seorang pembangkang. Dan ayahnya puas.

Dalam waktu singkat Ching-kuo cukup bisa menyesuaikan diri dengan tata cara hidup secara adat Cina. Ini mungkin karena pengalaman hidupnya yang keras selama di Rusia. Dan tentu saja karena rasa enak menjalankan peran sebagai 'putera mahkota' dalam rejim Nasionalis--yang selama 12 tahun tak pernah dikenalnya.

Faina, isterinya, juga sudah cukup jinak dengan lingkungan barunya. Ia sering tampak main golf. Kepada suaminya ia masih biasa memanggil Ko singkatan dari Nikolai, nama yang dipakai CCK semasa di Rusia. Perempuan Rusia ini bahkan sudah menguasai baik bahasa nasional Cina maupun dialek Taiwan Ningpo. Keluarga Ko--berikut Faina dengan 4 anaknya, 3 lelaki dan seorang perempuan--oleh Chiang Kaishek dengan keras dididik (kembali) dalam suasana Kristen Metodis. Tapi iman CCK sendiri konon diragukan orang. Seorang pejabat yang dekat dengan keluarganya pernah berkomentar: "Saya tak tahu apa dia sekarang Kristen betul apa bukan . . . ".
POKOK & TOKOH

Selamat datang heneke

Rima melati melahirkan anak perempuan yang pertama dari suaminya yang ke-4, frans tumbuan, diberi nama heneke adinda. heneke diambil dari nama mendiang kakak frans. (pt)

KOLOM

Risdianto, iswadi, abdul kadir,...

Kongres pssi di medan melarang pemain nasional yang baru pulang dari luar negeri bermain dalam waktu 9 bulan untuk kesebelasan bond. demi mutu, mereka bisa main di tingkat klub dan kesebelasan nasional pssi.

TempoInteraktif

Ekbis
Produksi Pupuk Ditambah
-----------------
Timteng
Israel Pertimbangkan Usir Diplomat Venezuela
-----------------
Pemilu2009_berita_mutakhir
Baru Empat Partai yang Serahkan Rekening ke KPU
-----------------
Perbankan_keuangan
Polisi Lacak Duit Nasabah PT Sarijaya
-----------------
Hukum
Mahkamah Agung Juga Akan Laporkan ICW ke Polisi
-----------------
Nasional
Ulama Indonesia Diminta Haramkan Produk AS dan Israel
-----------------
Nusa
Penjahat Berpistol Gasak Uang Nasabah Bank
-----------------
Ekbis
PT Sarijaya Cabang Tegal Jamin Uang Nasabah
-----------------
Nusa
Pendemo Pro Palestina Serukan Indonesia Keluar dari PBB
-----------------
Nusa
Korban Lapindo Dirikan Tenda di Kahuripan Nirwana Village
-----------------