Stadion Judi
Panitia Pembangunan Stadion merencanakan Anggaran Pembangunan sekitar Rp 400 juta. Pembangunan agaknya berjalan licin ketika masih diperoleh dana dari bermacam perjudian dan undian seperti toto koni, toto raga, bermacam totto, dan sebagainya, yang tersebar di seantero tempat. Sekalipun pada secarik kertas kupon terpampar, tulisan blok "anak-anak/pelajar/anggota ABRI dilarang beli", siapa yang berani menjaminkan larangan ini diaminkan.
Kepala Kucing
Pada akhir 1974 pasukan bulldozer dan kesatuan traktor mulai beraksi menggusur tanah, membuka semak dan meratakan lapangan Baciro. Namun sebuah yang tidak pernah disentuh yaitu kuburan Simbah Budho. Tidak satu orangpun tanpa persyaratan khusus berani mengusik. Baru pada bulan Mei 1975 ketika seorang kyai berani menjamin keselamatan para pekerja dengan syarat selamatan dan kenduri tanam 3 buah kepala singa. Karena yang empunya kebon binatang Gembira Loka tidak merelakan satu kepala singa dan dua kepala harimau ditumbalkan, maka cukup diganti miniaturnya 3 buah kepala kucing. Insya Allah maka dapat digali dan yang disebut Simbah Budho ujudnya sebuah keris tua berbungkus kain kafan ukuran sepenuh mayat. Konon tersebutlah Simbah Budho seorang hamba sahaya kerajaan Mojopahit yang beragama Budha mati sekian ratus tahun lalu yang kini setelah ditemui berubah bentuk menjadi keris. Wallahualaml
Tahap pertama semula ditargetkan rampung bulan Juli 1975, berupa lapangan untuk jenis-jenis olah raga: badminton, tenis, pingpong dan sebuah tempat parkir kendaraan yang luas. Dalam kenyataan tidak tercapai, bahkan kurang dari 20%, meskipun lapangan hijau dengan rerumputan dan sepasang gawang sudah bisa dipakai. Dianjurkan oleh yang empunya wewenang agar bisa digunakan untuk latihan-latihan. Mudah-mudahan dengan itu tidak rusak kemudian, sebelum rampung seluruhnya, maklumlah kebudayaan kita bisa bikin, bisa pakai sering tidak bisa pelihara.
Tahap kedua kompleks di seputar stadion untuk perkantoran dan keperluan para pemain, tahap ketiga kamar kamar untuk berganti pakaian dan gudang, tahap ke empat atau terakhir jalur jalan Baciro - Kridosono sebagai jalur olah raga se DIY. Tapi apa lacur dana belum cukup terkumpul, mendadak segala macam bentuk perjudian sebagai sumber air susu pembangunan olah raga harus terkubur. Dan agaknya begitu pula nasib stadion Baciro.
