Kembang, Sendratari Dan Dokter Anak
Hanya separo tempat duduk balai sidang itu terisi, namun pembukaan hari itu tetap memberikan kesan besar-besaran. Di tengah-tengah ruangan sekuntum kembang teratai kuncup setinggi tiga meter dibangun, sebagai lambang dari thema kongres: Tumbuh Kembang di Asia Tenggara. Kongres ini semula akan diselenggarakan di Hongkong, tetapi kota koloni itu ternyata mengundurkan diri, karena kesibukan dokter dan kurangnya persiapan. Indonesia menyanggupkan diri untuk mengambil-alih tugas tersebut dan panitia begitu hebatnya hingga dapat mengumpulkan uang sebanyak Rp 80 juta. Menurut panitia 40% dari jumlah itu datang dari pemerintah, sedangkan sisanya sumbangan dari perusahaan swasta dan yang terkumpul dari kalangan dokter sendiri.
Sendratari
Hari itu selain dari Presiden ada pula pidato dari Menteri Kesehatan Siwabessy, Sekjen Ikatan Ahli Kesehatan Anak Internasional, Stapleton dan dari AH Markum, Ketua Paniia Kongres. Sehabis pidato-pidato dipilihkan pula sebuah acara hiburan yang dibuat "berisi", yaitu sebuah sendratari yang dimainkan oleh grup Rudy Wowor, yang menggambarkan masa anak dikandung, besar dan menjadi dewasa. Ketika kuntum bunga menguak dan meloncatlah seorang anak perempuan, Nyonya Tien Soeharto diminta turun ke panggung untuk menebarkan beras kunyit ke arah kuntum bunga yang jadi mekar itu..."Sebagai tanda ikatan yang tak putus-putusnya antara seorang ibu dengan anaknya", kata pembawa acara.
Setelah pembukaan di Balai Sidang,kegiatan kongres tumpah ke Hotel Indonesia. Bali Room yang sewanya sehari sekitar Rp 750.000 menjadi pusat pertemuan untuk membicarakan naskah-naskah ilmiah yang masuk dari berbagai negara. Indonesia mengemukakan naskah yang cukup aktuil, yaitu gejala penyakit Rye, satu gejala penyakit yang ditemukan sarjana Australia Rye, berupa gejala penyakit seperti radang otak dan panas kejang. Kelompok dokter dari RS Sumber Waras telah melaporkan beberapa kasus yang mereka temukan di rumahsakit tersebut tahun 1975 di Bangkok. Namun kali ini gejala-gejala penyakit itu mereka bicarakan lagi dengan tambahan kasus.
Meskipun begitu, laporan kelompok Sumber Waras yang tempohari di Bangkok itu sama sekali ditolak oleh Prof dr Sutejo, Kepala Bagian Penyakit Anak RSCM/FKUI. Dalam sebuah konperensi pers, sebelum kongres dibuka, dia mengatakan laporan Sumber Waras itu "tidak ilmiah, karena salah satu syarat, yaitu pemeriksaan Glutamic Acid tidak mereka lakukan". (Namun dr Hansa Wulur dari kelompok Sumber Waras di lain kesempatan dengan menyodorkan beberapa tulisan dari luarnegeri menjawab dengan tegas: "Pemeriksaan Glutamic acid hanya bersifat anjuran belaka, bukan patokan yang harus diikuti. Tetapi bagaimana pun kami akan melakukan pemeriksaan ke arah itu. Kami kesukaran dalam memasukkan alat pemeriksaan cairan otak tersebut").
Walaupun rupanya masih ada perkara antar-dokter yang semacam itu,Kongres Kesehatan Anak Asia Ke-II di HI itu sungguh meriah. Ruangan lobby disunglap menjadi tempat kesibukan sekretariat. Di pintu masuk Bali Room ada pameran kesehatan anak dan berdampingan dengan ruangan itu ada pula pasar oleh-oleh -- mulai dari batik, keramik sampai ke tanaman bonsai.Pendeknya, para dokter anak bertemu, dan perdagangan jalan terus.
