3 Kecamatan Kritis
Tanah sawah tadah hujan terdapat di 3 kecamatan yang masuk dalam jaringan 'daerah kritis Lombok Selatan'. Tanahnya tergolong tanah margalit: yang jadi keras pecah-pecah di musim kemarau, dan berubah jadi seperti rawa-rawa kalau hujan turun. Di tahun-tahun lewat, khususnya penduduk di kawasan daerah kritis ini sering diserbu wabah kelaparan. Bencana kelaparan yang paling berat menghimpit penduduk di kawasan ini dalam 10 tahun terakhir ini terjadi antara tahun 1964-1965.
Urbanisasi
Penduduk yang masih bisa bernafas dan tak sudi keburu mati, lantas dengan tertatih-tatih ber-urbanisasi ke Lombok Barat: jadi gelandangan atau peminta-minta dan tak sedikit yang terpaksa jadi wts kelas rendahan. Keadaan seperti itu terus menerus berjalan sepanjang tahun, meski kelaparan memang tak timbul lagi di daerah asal mereka. Buktinya, dalam dua tahun terakhir ini panen padi di Lombok terbilang berhasil dengan memuaskan. Bahkan boleh dibilang surplus. Tapi, jumlah gelandangan atau tuna wisma di Lombok Barat kian bertambah saja.
Menurut R. Rusdi, Bupati Lombok Timur, masalah pokok dalam usaha menanggulangi masalah daerah kritis Lombok Selatan ini adalah kesulitan mendapatkan air. Di kabupaten ini, khususnya di bagian selatan, sejak dahulu kala 'air' memang selalu jadi benda ekonomis yang sulit diperoleh, khususnya untuk keperluan irigasi. Di musim kemarau sungai banyak yang kering di sana, sementara air sumur belum tentu bisa diperoleh pada kedalaman 15 meter. Kalau keadaan sudah seperti ini, bisa dibayangkan: betapa paniknya para petani di sana, meski di Lombok Timur ini terdapat 84 buah dam permanen 255 buah dam-subak darurat. Tapi kalau panen padi berhasil di Lombok Timur ini, berasnya akan mengalir ke kabupaten Lombok Barat. "Mengatur, menyalurkan, dan memanfaatkan air untuk daerah kritis Lombok Selatan secara memadai, mungkin dapat diatasi dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun. Tapi membuat air yang akan disalurkan ke daerah itu akan memakan biaya dan waktu lebih dari itu", kata Rusdi.
