• Home
  • 06 November 1976
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 06 November 1976

    Urang awak dan kisah anjingnya

    MEMANDIKAN anjing lebih penting dari anak sendiri? Ini boleh jadi keterlaluan. Tapi begitulah keadaannya di kalangan penggemar anjing di Sumatera Barat. Apa boleh buat. Bukan anak tak disayang, namun urusan anjing merupakan satu kesibukan tersendiri lagi. Itu sebabnya sering nampak di banyak tempat orang membawa anjing. Bukan saja waktu berburu babi, melainkan juga ketika tiap pagi dan sore mereka memandikannya di tepi kali -- atau berbarengan nyemplung ke air. Anjing dan babi di Sumatera Barat, bukan seperti hidupnya makhluk itu di daerah Tapanuli atau Bali: bisa hidup berdampingan secara damai. Dua jenis hewan itu adalah seteru bebuyutan. Bukan melulu lantaran babi tak dihalalkan hadir sebagai hidangan di meja makan tapi lebih dari itu: babi itu merusak tanaman penduduk. Sebegitu jauh memang belum diselidiki sejak kapan urang awak punya tradisi berburu babi hutan. Tapi yang jelas penggemar buru babi ini makin hari kian meluas: tak terdiri dari kalangan tua saja, tapi orang muda juga. Pejabat pemerintah juga, yang selain mendorong pembasmian hama tanaman itu, rupanya juga sukar mengelak dari ketagihan berburu. Boleh diingat, berburu itu sendiri kata orang bisa menimbulkan kecanduan. Jumlah penggemar buru babi di daerah ini belum lagi seluruhnya tercatat. Tapi taksiran kasar memperkirakan sekitar 50 ribu orang. Meski begitu toh kegiatan berburu babi ini punya organisasi. Namanya: PBB alias Persatuan Buru Babi. Tapi kemudian dipermak. Nama baru itu disingkat sebagai PORBBI atau Persatuan Olah Raga Buru Babi Indonesia. PORBBI memang menjalar ke desa-desa. Di kota-kota pun kumpulan ini ada. Dengan organisasi itu kegiatan berburu, komunikasi antara peminat -- terutama tentang acara berburu -- dengan mudah bisa diatur. Begitu pula hubungan dengan para penggemar dari luar Sumatera Barat, misalnya di Medan dan Riau. Itu sebabnya pula belakangan ini penggemar buru babi makin mudah berkumpul di satu tempat yang merupakan sasaran perburuan. Di tiap daerah di propinsi Sumatera Barat niscaya ada medan perburuan yang menarik. Ini jadi ukuran pula ramai tidaknya perburuan. Namun keramaian itupun banyak tergantung dari penyelenggaraannya. Apakah bersifat propinsi atau daerah tingkat II. Namun begitu toh penggemar bakal datang juga dari daerah yang berdekatan. Menarik sekali menyaksikan arakan orang pergi berburu itu. Ketika menuju daerah sasaran keadaannya nyaris seperti konvoi. Mobil beriringan bagai mobil pejabat. Puluhan bahkan ratusan kendaraan hilir mudik. Biasanya ini mobil carteran, yang ditandai bendera guna menjelaskan dari daerah mana mereka datang. Di Kabupaten Agam, maka Tamar Jaya merupakan medan yang menarik, seperti dituturkan Chairul Anwar. Ia sehari-hari sekretaris PORBBI kabupaten dan kotamadya Payakumbuh. Sedang rekannya St. Penghulu, menambahkan: "Daerah Sijunjung di Muara Bodi, Palangki, Padang Sibusuk dan negari sekitar jalan lintas Sumatera". Selain itu daerah Suliki Gunung Mas disebut Batu Tagak, merupakan tempat yang menarik pula. Tapi Chairul toh lebih yakin bahwa di Kabupaten 50 Kota bukit Alang Laut (15 KM di selatan Payakumbuh) merupakan medan perburuan yang paling ideal. Sebab ada bukit, lembah dan dataran bagus. Di Alang Laut ini saja ditaksir 25 ribu penggemar bisa datang. Dan daerah lain yang tak kurang sebagai sasaran perburuan juga adalah di Tikalak, Kabupaten Solok. Desa di tepi Danau Singkarak ini menjadi pilihan pula, karena bisa lebih komplit lagi. Usai berburu, para penggemar bisa sekaligus santai di sekitar danau. Ini merupakan daya tarik lain buat orang datang berburu ke sini, seperti diungkapkan Malin Marajo, seorang pemburu dari Solok. Tiap perburuan babi itu biasanya berhasil membunuh sekitar antara 25-40 ekor untuk medan buru yang terkenal tadi. Dan dari sudut ini pemerintah daerah setempat tentu saja berkepentingan. Meski tak ada bantuan keuangan untuk para penggemar buru, namun bantuan moril terus mengalir. Setidaknya dalam kelancaran organisasi. Biasanya Pemda setempat akan membantu dalam hal programa undangan perburuan ke tiap daerah. Begitu pula buru babi besar-besaran berlangsung dalam aneka acara penting. Misalnya, dalam memeriahkan acara-acara peringatan. Apa sih yang membikin orang kecanduan buat berburu babi ini? Kaum buruwan itu sepakat untuk menunjuk adanya kebanggaan bila tiap anjing di tangannya adalah anjing pertama yang melukai babi. Biasanya bila terdapat noda darah di mulut anjing itu tak diseka lagi. Tapi dibiarkan begitu sampai pulang ke rumah. Ini sekedar contoh puncak kegembiraan dan lambang kemenangan. Sekaligus merupakan semacam promosi tentang yahutnya seekor anjing. Bila prestasi hewan itu sudah mencapai bahan percakapan umum, maka rasa letih hampir dilupakan. Bayangkan saja, bila dalam semak-semak itu anjing mengejar di depan, pemburu berlari mengikutinya -- dan sering sampai 5 Km. "Mereka menjadi tak tahu diri lagi ketika itu" ulas Bahrum, seorang pemburu yang sudah ubanan dari Padang. Dan Azwar Dt Mangiang -- anggota DPRD Sumatera Barat, yang juga gemar buru babi bahkan memberi arti kiasan bagi senjata pemburu. Disebut tombak, "runcing yang tak ditusukkan seenaknya". Parang sebagai "tajam yang tak melukai". Sedangkan rantai pengikal anjing, "panjang yang tak mau putus". Kenyataan memang tak begitu, kata Dt Mangiang: "Senjata dan peralatan tentu digunakan juga", tapi kiasan begitu jelas mengundang tafsiran tentang seorang pemburu. Meski suka berburu toh berbudi halus juga. Adakah ini ajaran adat? "Boleh jadi begitu" jawab datuk pemangku adat itu. TIBA kini giliran mengenal anjing yang berbakat dibawa berburu. Yang jelas tak semua anjing bisa diandalkan. Tapi anjing yang dipergunakan berburu di Sumatera Barat ini mungkin mudah dicibirkam Jenisnya: sebutlah anjing kampung. Istilah ini diberikan Kepala Dinas Kehewanan Kotamadya Payakumbuh. Perawakan anjing itu kecil saja. Tapi kecil cabe rawit alias "terrier", biar kecil toh gesit. Cepat dan cekatan menyelusuri semak belukar yang rapat di tengah hutan. "Anjing semacam inilah yang cocok di sini" kata Chairul Anwar pula. Bagaimana pula dengan herder? Para penggemar hewan mewah ini mungkin bakal kecil hati bila disebut bahwa herder ternyata tak bermanfaat. Geraknya lamban untuk di tengah hutan. "Hutan di sini lain dari Eropa. Banyak belukar" kata Chairul pula. Itu sebabnya di Sumatera Barat apa yang dinamakan anjing kampung itu lebih beroleh pasaran ketimbang herder. Akan halnya anjing ras sebangsa herder itu, hanya bisa menjadi anjing rumah saja. Untuk lebih memperinci jenis anjing pemburu ini, maka anjing yang punya ekor lurus, bulu putih atau hitam mulus, inilah dia yang paling mahal. Bahkan merupakan ukuran terhormatnya seorang pemburu. Sebab anjing sudah identik dengan kebolehan pemiliknya. Selain itu masih ada syarat lain: harus tanpa pusar di bawah telinga, atau sebaliknya mesti punya dua pusar. Anjing dengan ciri seperti itu tak kenal lelah menguber mangsa. Bila kondisi itu dipenuhi, ia bakal dijuluki sebagai "paunan" di bursa anjing. Dan harganyapun bisa sampai 5 ringgit emas atau sekitar Rp 1 50 ribu. Bursa anjing itu terdapat di medan perburuan. Ini dibuka ketika istirahat. Pada acara ini bisa saja terjadi tukar tambah. Jika bukan dalam bentuk uang, penukaran boleh juga dilakukan dalam bentuk emas. Maka tiap berburu orang membawa lebih dari satu anjing. Cuma jangan keliru, meski ada sangkut paut dengan ukuran emas segala, tak berarti kegiatan buru babi ini sebagai milik kaum berada. "Tidak sama sekali" tangkis A. Syahdin, Ketua PORBBI Sumatera Barat ini sehari-hari adalah Bupati Agam. "Seorang penggemar yang miskin pun akan berupaya membeli anjing mahal itu" Sehingga dapat dibayangkan betapa khasnya kedudukan anjing di masyarakat Sumatera Barat. Ada cerita lain di samping anjing buat berburu ini. Orang Minang juga mengenal pacu anjing seperti yang terdapat di Senayan Jakarta. Pacu anjing itu dilangsungkan di sebuah tanah lapang. Bila anjing yang digunakan di Senayan itu memang terdiri dari jenis paling dungu (greyhound) -- dan tak jemu-jemunya memburu tikus-tikusan elektronik, maka di Sumatera Barat pacu anjing masih menggunakan anjing kampung itu. Untuk merangsang mereka balapan adalah seekor babi hidup. Dalam jarak 100 meter, babi yang berada dalam kerangkeng itu harus dikejar oleh anjing tersebut. Siapa yang sampai paling dulu, dia yang menang. Balapan anjing ini sebenarnya tak lebih dari satu kegiatan promosi, buat menarik penggemar baru. Sebab anjing yang disertakan bukan anjing yang sudah jago berburu, tapi yang masih dalam tahap latihan. Dan pemilik anjing yang menang, biasanya pula lantas menjadi penggemar buru babi. Sebab "candu" sudah mulai melekat. Tentu saja bagi anjing yang menang tadi, ada hadiah. Baik berupa uang kontan, rupiah emas sampai bintang emas. Bukan main. Biarpun anjing bisa berharga mahal, sebegitu jauh belum lagi ada pemburu yang disebut pedagang anjing. Sebab urusannya suka dikaitkan dengan hukum haram. Anjing, seperti juga habi, di daerah ini terbilang haram untuk dimakan. Itu sebabnya hasil jual beli tadi biasanya balik lagi ke anjing. Sementara itu bagi yang sudah terlanjur makan dari hasil jualan anjing, bisa juga muncul alasan: yang dijual itu bukan anjingnya, melainkan keahliannya. Sebab keahlian itu memang hasil latihan selama di medan perburuan. Namun yang benar-benar hidup sebagai saudagar anjing, belum pernah terdengar. Setidak-tidaknya seorang pemburu tak akan mengakui, sekalipun ia sempat memamah uang hasil penjualan anjingnya. Dari rangkaian gambaran tersebut nampak, di samping ada manfaat untuk olahraga, atau bisnis kecil-kecilan, kegiatan buru babi ini tak kurang pentingnya bagi kalangan petani di pedalaman. Karena sebagian kerisauan mereka -- alhamdulillah - tertolong juga.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Mochtar Tanpa Warna Lokal

Ilustrasi

Hidup anjing mode baru: piara anjing

Mode baru: piara anjing

Urang awak dan kisah anjingnya

TEMPO|interaktif

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif