• Home
  • 13 November 1976
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 13 November 1976

    500 Tanki Berkarat

    RUPANYA bukan armada tanker dan pesawat terbang Pertamina saja yang gede. Tapi juga armada mobil tanki yang dimaksudkan untuk menyalurkan BBM (bahan bakar minyak) di darat. Tak begitu jauh dari pacuan kuda Pulo Mas Jakarta, di gudang induk terbuka Pertamina, tampak berderet ratusan calon mobil tanki yang belum dipakai. Tak begitu jelas apakah mobil-mobil tanki Mercedez Benz yang dibiarkan berkarat itu adalah akibat perencanaan pembelian yang keliru. Tapi menurut sebuah sumber di Pertamina, gudang induk beserta halamannya yang lebih luas dari lapangan bola, sejak awal 1975 lalu dijadikan semacam "Pulau Batam"nya calon mobil tanki minyak. Tempat penimbunan truk itu sendiri tampak sepi. Selain beberapa petugas yang jaga di situ, seluruh medan gudang terbuka itu dikelilingi pagar kawat duri rangkap dua. Menurut seorang petugas, jumlah mobil tanki itu kini tinggal 500 buah. "Tadinya memang lebih banyak" katanya. Menurut seorang pejabat di lingkungan Migas, pada mulanya jumlah truk tanki yang ditimbun di sana kurang lebih 800-an. "Tapi kemudian dipencar di beberapa tempat", katanya. Pejabat itu tak bersedia menerangkan lebih jauh. Sekalipun begitu, seorang pegawai di kantor PDN (Perbekalan Dalam Negeri) di jalan Merdeka Utara, menolak anggapan itu. Menurut orang PDN itu, "statusnya bukan milik PDN, tapi berada di bawah direktorat yang mengurus logistik Pertamina". Adapun armada mobil tanki PDN beserta cadangannya, menurut anak buah direktur PDN Yudo Sembono itu, selalu di-pool di Tanjung Priok, di depot induk Pertamina. "Cadangan itu perlu untuk sewaktu-waktu mengatasi kemacetan distribusi BBM di Jakarta, juga untuk berjaga-jaga mengganti mobil rusak atau yang harus diservis", katanya. Mana yang benar, entahlah. Tapi yang pasti, banjir mobil tanki sebanyak itu merupakan salah satu warisan gaya manajemen Pertamina yang lama. Menurut catatan Pertamina sendiri, di akhir 1971 mereka mengimpor 2.200 truk tanki minyak untuk digunakan sendiri. Dan sebagian dijual pada penyalur-penyalur swasta yang tergabung dalam Gapermigas (Gabungan Perusahaan Minyak dan Gas Bumi). Impor truk tanki minyak sebanyak itu telah meningkatkan daya angkut ke berbagai pelosok Indonesia menjadi 1,3 juta kiloliter atau sekitar 8,4 juta barrel BBM. Pembelian di tahun 1971 itupun sesungguhnya sudah meliwati kebutuhan daya angkut. Sebagaimana dikatakan Menteri Pertambangan Moh. Sadli beberapa waktu lalu, konsumsi BBM sehari baru mencapai 250 ribu barrel. Kalau saja setiap mobil tanki minyak selama seminggu bergerak dari depot ke konsumen minyak -- kemudian kembali lagi dalam keadaan kosong ke depot -- maka daya angkut yang dibutuhkan paling banter baru mencapai 14 x 250 barrel menjadi 3,5 juta barrel. Dengan begitu masih terjadi kelebihan daya angkut sebesar 5 juta barrel. Kalau armada tanki minyak PDN itu saja sudah berlebihan, mau dikemanakan ratusan truk yang kini nongkrong di Pulo Mas? Beberapa langkah untuk mengatasi kongesti mobil tanki itu bukan tak ada, sekalipun efeknya tak seberapa. Atas Instruksi Presiden untuk membantu daerah-daerah di Jawa Tengah yang dilanda kekeringan, fihak Sekretariat Negara (Sekneg) memang telah mengajukan permintaan untuk membeli 20 truk tanki yang menganggur itu. Tapi yang diperoleh kabarnya cuma 12 truk, yang setelah diubah catnya berfungsi sebagai mobil tanki air untuk mensuplai kebutuhan minum di beberapa daerah kering itu.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Mas djan-saingan sawito ?

Wadah baru di luar dgi

Soal "pusat" dan "daerah"

Seni Rupa

Tanpa Bau Manusia

TEMPO|interaktif

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif