• Home
  • 13 November 1976
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 13 November 1976

    Penghisap Darah Pertamina

    DI tengah beban hutangnya yang tak kunjung selesai, usaha penyempurnaan personalia perlahan-lahan terus berlangsung dalam tubuh Pertamina. Jumat 5 Nopember lalu jabatan Ir. Wiyarso selaku Direktur Umum Pertamina -- pos baru yang dibentuk akhir Agustus tahun lalu -- kini dipegang Ir Soedarno Martosewoyo, tadinya Direktur Pengolahan & Petrokimia, yang selanjutnya dipercayakan kepada Ir Singgih Darsono, salah seorang wakil Soedarno. Pelantikan dan serah terima jabatan yang berdasarkan Keppres itu tetap menunjuk Wijarso meneruskan jabatan lamanya sebagai Direktur Direktorat Migas. Menteri Pertambangan Dr Sadli yang hari itu memimpin upacara di balairung Ditjen Migas, menjelaskan kembali penuhnya Wijarso ke Migas adalah untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya "perbenturan kepentingan" dari jabatan yang dirangkapnya. "Dwi fungsi saudara Wijarso harus dianggap sebagai suatu kebijaksanaan yang sementara", kata Sadli. "Jadi tak ada sangkut pautnya dengan integritas saudara Wijarso yang saya kenal baik dan tekun dalam kerjanya". Memberi sambutan tanpa teks Menteri Sadli kembali mengingatkan agar orang-orang Pertamina meninggalkan "kehidupan yang mengarah ke Houston, Texas. Tak sanggup kita untuk begitu", katanya. Di hadapan para direktur dan pejabat teras Pertamina dan Migas, Sadli mengingatkan agar pengeluaran-pengeluaran yang tak perlu dalam Pertamina itu ditinggalkan. Juga agar orang-orang Pertamina itu tak begitu saja menerima pembelian-pembelian dengan harga yang keliwat tinggi. "Tapi perlu meneliti dan menguji harga dan kwalitas barang yang akan dibeli". katanya. Mengapa Menteri Pertambangan beberapa kali merasa perlu mengingatkan di depan umum begitu, agaknya tak terlepas dari hutang Pertamina yang hingga kini masih dikejar-kejar para penagih di luar negeri. Sekalipun tak sedikit perkara hutang sudah terselesaikan, Menteri Sadli beranggapan masih ada dua hal yang memusingkan. "Ada dua beban besar yang sejak dulu sekarang dan nanti menghisap darah Pertamina", katanya. "Kerugian dari operasi tanker samudera dan beban bunga yang timbul dari hutang yang bermilyar-milyar dollar". Selesai upacara, kepada pers Sadli tak bersedia menjelaskan lebih jauh tentang kemelut tanker samudera dan jumlah beban bunga itu. Tapi kalau saja diingat bahwa bunga pinjaman yang terjadi selama Pertamina dulu itu rata-rata adalah 10% setahun, seluruh beban bunga itu tak mustahil akan mencapai ratusan juta dollar. Dari sisa hutang yang resminya tinggal AS$ 6 milyar itu, sebuah penelitian menaksir beban bunga akibat hutang besar Pertamina itu kini sudah mencapai sekitar AS$ 400 ribu. Dan dipastikan bakal meningkat dari tahun ke tahun sebelum semua hutang itu lunas. Sedang masalah hutang tanker samudera, yang kini dikejar-kejar, masih belum diketahui kapan beresnya. Mingguan Far Eastern Economic Review yang terbit 22 Oktober lalu, memaparkan bagaimana suatu konspirasi dari para pengusaha tanker itu telah menjerumuskan Pertamina ke dalam lumpur hutang yang diperkirakan berjumlah AS$ 2,7 milyar. Kontrak pencarteran 23 tanker samudera itu ditandatangani oleh 6 orang yang mewakili 11 perusahaan pencarteran tanker. Yakni Bruce Rappaport, Jospeh Gilbert, B.G. Robinson, Elias Kulukundis dan B. Aranda. Meskipun namanya tidak tercantum sebagai penandatangan kontrak, dari ke-11 perusahaan pencarter tanker itu dimiliki oleh Stephen Morelle alias Stephen Spencer Davids, broker utama bagi tanker-tanker Pertamina di masa itu. Dia ini paling erat hubungannya dengan Bruce Rappaport dan Elias Kulukundis, itu makelar tanker Yunani yang juga berhubungan dengan Ibnu Sutowo dalam urusan tanker LNC. Davids itu, adalah wakil presiden perusahaan Nirut, salah satu perusahaan Panama yang memiliki satu tanker Pertamina yang diperdebatkan itu. Sedang Bruce Rappaport adalah presiden Nirut. Davids juga memiliki 100% saham Astrofino, perusahaan Panama yang memiliki 3 tanker Pertamina. Sedang Bruce Rappaport diangkat jadi direktur Astrofino. Selanjutnya Astrofino memiliki 50% saham Burmast Shipping & Exploration -- yang memiliki 4 tanker Pertamina. Sedang 50% saham lainnya dimiliki oleh Burmah Oil Tankers (100% milik Burmah Oil), yang waktu itu dipimpin oleh Elias Kulukundis. Kulukundis itu, pada saat yang sama juga mengepalai Amvrakia Steamship dan Ippokampos Steamship, yang memperoleh kontrak Pertamina melalui negosiasi Spencer Davids. Bruce Rappaport sendiri, selain mengepalai Matropico, juga memimpin Rasu Maritima, Inter Maritime Owners dan Inter Maritime Tankers. Davids, Rappaport, Kulukundis dan ketiga orang penandatangan kontrak-kontrak tanker itu, menurut para ahli hukum Pertamina telah menciptakan hutang itu "yang jauh di atas harga pasaran tanker yang wajar pada waktu itu", sebagai hasil "tawar-menawar yang menyudutkan (arms-length bargaining)" Ibnu Sutowo waktu itu. Sebagai contoh disebutkan tanker Jalna yang kontraknya ditandatangani oleh Rappaport a/n Rasu Maritima. Carter yang orisinil tadinya besarnya $AS 56 juta untuk sebuah tanker baru dengan bobot mati 133 ribu ton. Namun yang diterima Pertamina akhirnya sebuah tanker yang sudah 3 tahun umurnya dengan berat 145 ribu ton, tapi dengan harga 2 x harga semula pada saat pasaran tanker sedang anjlok.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Mas djan-saingan sawito ?

Wadah baru di luar dgi

Soal "pusat" dan "daerah"

Seni Rupa

Tanpa Bau Manusia

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif