• Home
  • 13 November 1976
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 13 November 1976

    Si Nelayan Dan Minat Baca

    LETIH dan setengah mengantuk, Ajat, nelayan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, pagi 4 Nopember kemarin, baru tiba di pantai. Membenahi jaring sambil menghitung hasil penjualan ikannya, nelayan setengah baya itu mengaku tak pernah pinjam buku di perpustakaan desa. "Teu aya waktosna" (tidak ada waktunya), ucapnya dalam bahasa Sunda. Ajat bukan tidak tahu, sebagaimana sekolah, perpustakaan lewat buku-bukunya bisa menambah pengetahuan. Namun dia merasakan waktu untuk membaca buku hampir tak pernah ada, tersita oleh waktu untuk cari makan. Tentang sekolah? Ayah yang salah seorang anaknya duduk di kelas I SD itu, kecewa. Bukan hanya mesti bayar Rp 150 per bulannya tapi keharusan anaknya untuk membawa beras per kotak korek-api seharinya ke sekolah -- di daerah ini pemberian itu disebut, perelek -- membuat si ayah yang bermuka suram itu semakin kelihatan tua. "Lihat SD itu", katanya dengan suara pelan "itu kan bantuan Presiden, kenapa kita mesti bayar". Ajat yang jalan pikirannya polos itu memang tidak tahu, kalau bantuan itu hanya berupa gedung, tidak berarti sekolah gratis. Sehingga ketika dibilang tahun depan SPP kelas I sampai III akan dihapus, Ajat tidak percaya. "Ah, wadul hungkul" (Ah, bohong doang), katanya pendek. Tentu saja, Ajat hanya salah seorang dari sekian penduduk Kabupaten Sukabumi yang dua kecamatannya dijadikan Proyek Perpustakaan Taraf Desa sejak Pebruari tahun ini. Percobaan yang ditangani Pusat Pembinaan Perpustakaan P&K dengan biaya seluruhnya Rp 22 juta itu meliputi ll desa di Kecamatan Cibadak dan Kecamatan Pelabuhan Ratu. Dalam umurnya yang baru 8 bulan ini, proyek yang bertujuan agar (terutama) orang-orang dewasa di desa-desa dapat memelihara, meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya itu -- selanjutnya diharapkan bisa meningkatkan taraf hidupnya -- agaknya masih butuh waktu yang panjang. Dari rata-rata jumlah penduduk 9 sampai 10 ribu per desanya, masing-masing baru terdaftar sebagai anggota perpustakaan sebanyak 300 sampai 800 orang. Itu pun ternyata rata-rata 75% anggotanya adalah pelajar. Sisanya, terdiri dari guru, pegawai negeri dan yang paling sedikit datang dari kelompok petani atau nelayan. Kelompok seperti Ajat itulah, yang bukan tidak mungkin justru merupakan kelompok terbanyak di masyarakat pedesaan. Pengantar Filsafat Dibangun dengan semacarn sistim dana imbalan (buku dan mebeler dari Proyek, tempat dan personil dari Pemda Sukabumi), perpustakaan desa itu rata-rata menyimpan buku sebanyak 1500 buah. Dengan pembagian 60% buku fiksi, 40% buku-buku non-fiksi (meliputi bidang-bidang umum, seperti agama, pengetahuan sosial, pengetahuan teknologi) perpustakaan yang juga menyediakan harian dan majalah itu, tidak memungut bayaran kepada anggota maupun peminjam. "Pada prinsipnya memang tak boleh dipungut bayaran, karena di mana pun tak ada pengetahuan yang dipajaki", ucap A.S. Nasution, Kepala Pusat Pembinaan Perpustakaan P & K. Meskipun begitu, dengan jumlah peminat yang masih sedikit itu, perpustakaan desa nampaknya masih perlu penelitian. Misalnya selain minat baca juga jenis buku yang disesuaikan dengan selera pembaca. Beberapa buku, seperti Pengantar Filsafat Hukum karya Roscoe Pound, Ilmu Tanah karya Dr. Ir. Tan Kim Hong, ternyata belum pernah disentuh pembaca. "Terlalu tinggi", ujar seorang petugas perpustakaan. Sementara buku-buku non-fiksi yang banyak dipinjam terutama yang mengenai agama misalnya karya Hamka, dan bukubuku fiksi terutama karangan Karl May. Dengan jumlan buku yang dipinjam per harinya rata-rata 20 sampai 50 buah, perpustakaan yang dibuka rata-rata mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore setiap hari kerja (bahkan ada yang buka pada hari Minggu), untuk taraf desa memang sudah lumayan. Meskipun 10% dari buku-buku itu hilang. Tapi, "kehilangan sebesar itu di dunua perpustakaan biasanya dianggap wajar", ucap Suratman, Kepala Proyek Perpustakaan di Sukabumi itu. Sementara perpustakaan keliling (menggunakan pick up Datsun) yang termasuk eksperimen yang tengah dijalankan di daerah itu, dengan jumlah buku yang dibawa sebanyak lebih 2600 buah, rata-rata per posnya dipinjam pembaca sampai 500 buku. "Kita memang sedang menyelidiki selera pembaca", ucap Nasution lagi. Bisa berhasilkah proyek perpustakaan ini? Pada tahun 1950-an pemerintah pernah melakukanhal yang sama dengan membuat perpustakaan umum di sekitar 15 ribu desa."Perpustakaan itu sekarang, sulit dicari bekasnya", ucap Nasution. Dulu, proyek itu segalanya termasuk gedung dan personil dibiayai pemerintah. "Ternyata segala sesuatu yang disediakan oleh Pusat, gagal", tambah Kepala Pusat Pembinaan Perpustakaan itu. Itulah sebabnya proyek yang sekarang, meskipun imbalan yang diberikan Pemda belum memadai (misalnya tempat perpustakaan yang selain masih nebeng di kantor Kepala Desa, dengan ruangan rata-rata hanya 4x4 meter dan personil yang digaji Pemda masih dianggap kecil), diharapkan tidak akan bernasib sama dengan perpustakaan yang sudah-sudah. Karena perpustakaan desa yang kini sedang dalam taraf percobaan itu, pada akhirnya pihak Pemdalah yang mengelolanya, bukan pemerintah pusat. Cara yang kini sedang ditempuh, memang belum tentu berhasil. Soalnya masih menyangkut hal paling dasar yang nampaknya masih menjadi masalah: minat baca. Karena bagaimana bisa diharapkan buku akan menjadi alat untuk menambah pengetahuan bila minat baca itu sendiri belum tumbuh? Belum banyaknya jumlah anggota perpustakaan, rasanya karena bersumber dari minat baca yang belum ada-terutama dari petani atau nelayan, kelompok masyaraka tterbanyak yang sebenarnya jadi sasaran proyek perpustakaan tersebut. Tapi mengambil langkah untuk mencoba menumbuhkan minat baca, berarti bagaimana membuat buku yang menarik, baik isi maupun bentuknya. Justru buku-buku serupa itulah yang boleh dibilang tak ada di pasaran. Bahkan dengan buku yang ada sekarang, proyek perpustakaan hanya berhasil membeli 50%, dari target yang direncanakan. Karena persediaan tidak ada. Akhirnya proyek perpustakaan yang mestinya bertujuan baik itu, mesti berjalan pada tempat yang tidak licin. "Namun baik mina baca maupun niat untuk menambah pengetahuan masyarakat, diharapkan bisa dituju oleh proyek perpustakaan ini",ujar Nasution. Tentang hasilnya, hata Nasution lagi, memang tidak dapat dilihat segera. "Ini pekerjaan prosais", katanya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Mas djan-saingan sawito ?

Wadah baru di luar dgi

Soal "pusat" dan "daerah"

Seni Rupa

Tanpa Bau Manusia

TEMPO|interaktif

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

Soal Larangan Konser Lady Gaga, Apa Kata Hakim MK

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif