• Home
  • 19 Maret 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 Maret 1977

    Ambisi Inkafi

    PT Inkafi Raya masih kecil. Tapi ambisinya besar untuk mengimbangi PT Adhiguna Shipyard, terutama dalam pembuatan kapal kecil untuk olahraga, nelayan maupun pelayaran sungai. Sesudah S bulan bekerja, Inkafi Raya akhir minggu lalu meluncurkan produksunya yang pertama: suatu bis-sungai. Dengan bangga direktur Herman Spiro berkata pada Harun Musawa dari TEMPO: "Mutu kami tak kalah dari buatan impor, dan pasti lebih murah". Spiro dan 2 orang saudaranya serta beberapa tenaga pekerjanya adalah jebolan dari Adiguna Shipyard. Pokoknya, segala pengalaman Adiguna mau ditransfer-nya. Sekarang Inkafi Raya membuka bengkel kecil di Pulo Gadung, Jakarta. "Jika semuanya beres", tambah Spiro, akan dibangunnya pabrik kapal baru di Tangerang. Beres apanya? Inkafi Raya rupanya sedang memajukan permohonan PMDN, berarti mengharapkan kredit investasi dari bank. Dia juga menanti pesanan lebih besar dari pemerintah. Bis sungai yang baru saja diluncurkannya, berkapasitas 42 penumpang, berharga sekitar Rp 50 juta, adalah pesanan pemerintah. Sebagai perbandingan, kapal kayu dengan mesin yang sebesar bis-sungai modern itu, biayanya hanya Rp 3,2 juta. Tentu saja kapal kayu itu tak begitu tergantung pada impor, sebagaimana halnya dengan fibreglass. Sekarang ini Inkafi Raya tetap ada kerja, tidak kuatir akan menganggur, walaupun konsumennya terbatas. Untuk jenis kapal fibreglass, satu-satunya saingannya adalah Adiguna Shipyard. Konsumen utama baginya adalah pemerintah. Kebutuhan instansi pemerintah, seperti Ditjen Perhubungan Darat dan Bea & Cukai, akan kapal fibreglass bakal banyak tampaknya. Tapi Bea & Cukai, demikian pula sektor PMA, di anggap sudah terbiasa memesan kapal dari luar negeri. Pembuatan lokal, menurut Spiro, akan bisa bersaing harga, apalagi "ongkos buruh di sini jauh lebih muran". Bissungai yang dibuatnya, tentu saja, memakai bahan impor, misalnya untuk fibreglass dan toik?t. Barang impor termahal (Rp 20 juta) yang dipakainya ialah 2 mesin disel, masing-masing 300 PK, yang membuat kapal bisa melaju 800 Km non-stop. Juni nanti, diadakan pameran kapal internasional di Singapura. "Agen kita di sana", kata Spiro lagi, sudah memesan 2 kapal untuk disertakan dalam pameran itu. Pengusaha domestik ini memang kencang. Di bidang pembuatan kapal fibreglass, Adiguna Shipyard sudah jauh berada di depan. Bayangkan, sudah 1000 unit dihasilkannya sampai awal 1977 ini. Juga pemerintah merupakan konsumennya yang terbesar. "Untuk pemilu saja", berkata Hadi Yusman, manager bagian fibreglass di Adiguna Shipyard, pada Zulkiny Lubis dari T. M 10, "Pemerintah memesan 129 unit". Fibreglass menjadi perhatian Adiguna Shipyard sejak melihat sekelompok pemuda, antara lain Ponco Sutowo, anak laki-laki tertua bekas dirut Pertamina Ibnu Sutowo, berolahraga air dengan kapal kayu nelayan pada tahun 1969. Berbeda dengan kapal kayu, kapal fibreglass "tapi, kuat, bagus dan tidak membutuhkan biaya pemeliharaan besar" ucap Yusman bernada iklan. Kini Adiguna Shipyard pada hakekatnya sudah mendorong orang gandrung fibreglass, apalagi sudah macam-macam kapal dibikinnya dengan bahan ini. Bukan untuk kesenangan Ponco dan kawan-kawan saja, melainkan juga untuk survei, patroli, angkutan air dan nelayan. Sebagai pemegang lisensi dari Hines Hunter Australia, yang punya reputasi internasional, Adiguna Shipyard yakin bisnis di bidang fibreglass, dengan kata-kala Yusman, "akan cukup cerah".

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Mereka Bukan Anak-Anak

Ilustrasi

Pendekar kalajengking di blang ...

Jual barang, bukan impian jual barang, bukan impian

TEMPO|interaktif

Para Ahli yang Identifikasi Korban Sukhoi

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif