• Home
  • 28 Mei 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 28 Mei 1977

    Sejarah suatu bangsa

    SURABAYA, Nopember 1945, penuh kepahlawanan. Dan juga kekerasan. Kita dapat membayangkan apa yang terjadi lewat novel kecil Idrus, Surabaya, yang tersohor itu. Atau kita bisa memetik sedikit dari kenangan Ruslan Abdulgani yang diterbitkan Universitas Monash, 1973, dengan judul panjang: Nationalism, Revolution and Guided Democracy in Indonesia. "Di Surabaya, dalam beberapa minggu, berturut-turut bergantian semua tahap dari Revolusi Perancis", tulis Ruslan, "sejak dari pengambil-alihan pertama sampai dengan terornya". Mahkamah-mahkamah rakyat didirikan. Orang Indo, orang Belanda, Jepang, Gurkha dan bahkan orang Indonesia sendiri -- yang dituduh jadi "mata-mata" -- dituntut. Beberapa di antaranya diserahkan kepada kerumunan orang banyak untuk dipukuli dan ditusuk bambu runcing sampai mati . . . Memang kejam. Tapi kemudian orang dapat menghibur diri, sebagaimana halnya Ruslan Abdulgani. Ia mengutip kalimat dari buku Nehru, Glimpses of World History. "Kekejaman satu gerombolan orang", tulis Nehru, "bukan apa-apa jika dibanding dengan kekejaman suatu Pemerintah yang terorganisir ketika mulai bertingkahlaku seperti satu gerombolan". Sejarah memang menGatat pemerintah-pemerintah yang berlaku seperti suatu mob dan melakukan kekerasan. Tapi adakah sejarah dapat menghibur bagi mereka yang sedang terkena kekerasan itu? Mungkin tidak. Tapi setidak-tidaknya ia bisa berharga lain. Ada satu buku menarik yang terbit tahun lalu tentang kehidupan di Uni Soviet. Buku setebal 600 halaman lebih ini ditulis oleh Hendrick Smith, koresponden Amerika pemenang hadiah Pulitzer yang pernah tiga tahun tinggal di Moskow. Judulnya: The ussians. Satu babnya mengisahkan bagaimana orang Rus kini mulai melupakan kekejaman yang berlangsung di masa Stalin -- belum lagi 25 tahun pemimpin itu wafat. Orang Rusia, kata Smith "menderita amnesia sejarah". Ia mengutip cerita penyair Yevtushenko, yang terkenal sering mengutuk masa kesewenang-wenangan itu dalam puisinya. Suatu hari di musim panas di Siberia, Yevtushenko berkemah bersama 20 mahasiswa. Dalam suatu kesempatan seorang yang hadir usul untuk minum bagi Stalin. Yevtushenko bertanya kenapa Stalin. "Karena waktu itu semua rakyat yakin pada Stalin dan karena keyakinan itu mereka menang", jawab si mahasiswa. "Tiba-tiba saya mengerti", kata Yevtushenko, "bahwa generasi muda kini benar-benar tak punya sumber untuk mengetahui kenyataan tragis tentang masa itu, sebab mereka tak dapat membacanya dalam buku atau buku pelajaran. Bahkan ketika artikel terbit di koran-koran tentang para pahlawan Revolusi kami yang mati dalam masa penindasan Stalin, koran-koran itu toh diam tentang sebab kematian mereka... Kebenaran telah digantikan oleh diam, dan kediam-dirian sebenarnya adalah sebuah justa". Kediam-dirian, setidaknya, meniadakan keseimbangan. Kebenaran dengan demikian diborong oleh pihak yang tidak diam: propaganda pemerintah. Sejarah jadi timpang. Suatu bangsa dengan itu tidak bisa berdialog dengan masa silamnya secara jujur. Maka ia pun tak tahu bagaimana posisinya di masa kini. Benarkah yang dialaminya kini suatu kemerGsotan? Benarkah yang dialaminya kini suatu kemajuan? Pernah adakah pada dirinya suatu bekal untuk berbuat mulia? Adakah kebobrokan yang dialaminya kini suatu bagian dari watak yang permanen? Sejarah, yang sudah dan sedang terjadi, memang kadang menakutkan untuk didengarkan. Tapi sebuah bangsa perlu harga diri dari prestasi masa lampaunya -- sebagaimana juga ia perlu nembersihkan diri dengan pengakuan atas dosa masa silamnya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Sejarah suatu bangsa

Agama

Keprihatinan Sekretaris Mawi ...

Seni Rupa

Yang narsisus dan yang bisu

Tari

Putri putih kena cula

Suka Duka

Memiliki dan mencintai 400 lukisan

TEMPO|interaktif

Para Ahli yang Identifikasi Korban Sukhoi

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif