• Home
  • 23 Juli 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 23 Juli 1977

    Kereta Sudah Berangkat Tut. Tut. Tut

    KEJUARAAN Nasional Bridge Indonesia tahun ini tidak diadakan, karena adanya PON IX. PON tahun ini dengan predikat PON Prestasi, juga menyertakan olahraga bridge. Cuma, kriteria untuk bisa serta dalam acara PON ini, oleh sementara ahli hridge masih dirasakan belum dapat menjamin prestasi objektif. Hal ini terbukti dengan syarat daerah untuk regu empat kawan plus cuma para peserta yang lolos dari pra-kwalfikasi daerah ini saja yang berhak turut dalam kejuaraan pasangan. Terdapat enam daerah yang berhak serta dalam PON ini, yaitu DKI Jaya, Jabar, Jateng, Jatim, NTB dan Kalbar. Sulut yang punya materi kuat, ternyata gugur di babak pendahuluan, karena daerah itu diwakili oleh pemain-pemain yang kurang meyakinkan berhubung adanya sedikit kericuhan intern mereka. NTB dan Kalbar yang beruntung masuk, secara objektif belum merupakan pemain yang dapat mewakili wilayah lain yang kebetulan absen. Dan cuma dari enam daerah ini, yang terdiri dari 6 kali 3 pasang yang berhah pula di dalam kejuaraan pasangan. Padahal klasifikasi kejuaraan ber-Regu dan Pasangan, merupakan dua jenis pertandingan yang sifat dan tujuannya berbeda. Faktor inilah yang tak mendukung kondisi objektif prestasi yang dapat dihasilkan dari PON IX ini. Pada tahun ini, sebagaimana tiap tahun, PB Gabsi harus membentuk sebuah Regu Nasional yang akan diterjunkan di dalam Kejuaraan Timur Jauh di Manila mula Nopember nanti. Untuk membentuk sebuah Regu Nasional dibutuhkan syarat-syarat dan penyelenggaraan yang harus sesuai pula dengan Peraturan Teknik yang berlaku. Aturan itu menyebutkan, bila terdapat kejuaraan Nasional, maka akan diselenggarakan Seleksi Nasional guna membentuk Regu Nasional. Atau, bila dianggap perlu, boleh dalam bentuk Invitasi Nasional. Sifat dan jenis Seleksi Nasional serta Invitasi Nasional ini berbeda walaupun punya tujuan yang sama. Mana yang mau dipakai? Komisi Sembilan Bagi PB Gabsi, tahun 1977 ini merupakan tahun cobaan. Soalnya ialah bahwa Peraturan Teknik yang ada sudah harus direvisi oleh Komisi Sembilan, sesuai dengan putusan Kongres Yogya tahun yang lalu. Komisi Sembilan ini pertama kali dibentuk bulan April 1976, diketuai oleh Djanwar dan harus rampung Juni 1976. Haznam menulis (TEMPO, 9 Juli 1977) bahwa rapat tak pernah ada dan tak tahu bagaimana, serta konon Djanwar diberhentikan. Memang benarlah, bahwa hasil dari Komisi Sembilan periode tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Dan Ketua Umum PB Gabsi di akhir 1976 membubarkan komisi tersebut dan membentuk Komisi Sembilan yang baru (Nomor 105/PB/1976) yang terdiri dari Yan Wullur, B. Hutagalung Jack Rimbuan, Ny. Contha, Umbas, Sam Tontey, R. Siregar, Max Horhorow dan A. Madjid. Dan inti Peraturan Teknik Komisi Sembilan yang ini sudah diterima oleh PB Gabsi. Yang tinggal cuma soal redaksionilnya, yang pada pertemuan Pengda se-Indonesia pada PON IX nanti akan diedarkan. Dengan kondisi peralihan seperti inilah maka PB Gabsi memilih jenis Invitasi Nasional. Dan semua kemungkinan yang dapat menimbulkan hal-hal yang kurang memuaskan seperti yang dikeluhkan oleh Haznam sudah ditampung. Jika seandainya pasangan Lasut/Aguw sebagai kesatuan regu dari Manoppo Bersaudara sakit, maka orang ketiga masih bisa diganti dengan orang lain, dengan terlebih dahulu mengusulkannya kepada PB Gabsi. Bila PB Gabsi menyetujui usul itu, tentunya dengan syarat tertentu pula, maka persoalannya pun tak ada lagi. Kabarnya Hengki Lasut akan berpasangan dengan Polisi. Dan mengenai kemungkinan ribut di Gabungan dengan memilih empat orang dari kemungkinan 18 orang, saya fikir bukan suatu keributan melainkan suatu kasus yang memang harus diselesaikan dengan seksama. Dalam hal ini gabungan tidak mungkin pilih kasih, karena gabungan hanya bisa mengusulkan dan PB Gabsi yang memutuskan. Demikian juga dengan pasangan ketiga dari setiap eks Regu PON yang berhak ke Invitasi Nasional ini, sudah disarankan untuk membentuk Regu Empat kawan lainnya dengan mengusulkannya pada PB Gabsi. Dan bila usul-usul itu memenuhi syarat ketentuan Invitasi Nasional, mengapa pula harus dihalangi? Dan Pengda sendiri punya hak untuk memberikan saran dan usul, di mana tentunya PB Gabsi tidak akan tinggal dalam begitu saja. Patuhi Aturan Dan yang menarik dari ketentuan baru ini ialah bahwa setiap pemain sudah harus memenuhi syarat keahlian dengan angka master diberi predikat Master Nasional ke atas. Akan tetapi dari Regu Empat Kawan, seorang Master Daerah masih diijinkan bermain bila berpasangan dengan seorang Life Master. Klasifikasi ini bukan berarti kembali ke aturan tahun 60-an dengan predikat Master dan Non-Master, akan tetapi lebih mengetatkan ke arah tercapainya prestasi yang lebih baik di masa mendatang. Selain itu, juga mempercepat proses kenaikan tingkat dari pemain-pemain yang di bawah. Invitasi Nasional 1977 ini akan diselenggarakan tanggal 5 sampai 9 Agustus dengan mengambil tempat di Press Club, Jalan Veteran, Jakarta, dengan sponsor Sasana Gajah Mada pimpinan Amran Zamzami. Pimpinan Teknis Invitasi ini oleh Yan Wullur dan Sam Tontey. Kereta sudah berangkat. Tut, tut, tut.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Candu buat penguasa

Ilustrasi

Aji-aji dressker di desa jitar

Bisnis Saimin

Tari

Sugriwa itu pahlawan besar sugriwa itu pahlawan

Seni Rupa

Prasarana Seni Rupa Juga

TEMPO|interaktif

Para Ahli yang Identifikasi Korban Sukhoi

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif