Mencari Penyakit Hati
Dr. Burhanuddin ini adalah lulusan FK Unair. Para dokter spesialis yang berkunjung ke NTB ini diberi predikat yang cukup keren, The Visitting Specialists. Karena Visitting Specialists ini diterbangkan dari Surabaya ke NTB, maka mereka kemudian lebih populer dengan predikat 'dokter terbang'. Setiap kali kunjungan, team dokter terbang ini terdiri dari 5 orang. Sampai dengan saat ini sudah berlangsung 5 kali kunjungan kerja.
Nah, dalam kunjungan-kunjungan tersebut, para dokter terbang ini banyak menemukan penderita hepatitis (sejenis penyakit hati) yang tanpa gejala alias Asimptomatik Hepatitis. Karena tanpa gejala (gejala-gejala dari penyakit ini umumnya berupa: rasa mual, nafsu makan menurun, air seni berwarna coklat gelap, warna kuning pada selaput mata dan pembengkakan pada hati), umumnya para penderita tak merasa perlu pergi ke dokter. Dan baru pergi ke dokter setelah penyakit mereka berada pada stadium yang tinggi. Dengan kata lain: karena tiadanya gejala, mereka tak tahu kalau tubuh mereka sudah dirongrong hepatitis.
Menurut keterangan seorang dokter yang bertugas di RSU Mataram, hepatitis ini bisa disebabkan oleh virus, kuman, parasit, alkohol atau bahan-bahan tertentu yang terdapat dalam rmakanan sehari-hari. "Tapi dari semua penyebab itu, virus menduduki tempat teratas," katanya. Virus yang menyebabkan Hepatitis ini ada dua macam: Virus A & Virus B. Tapi di antara kedua virus itu, yang berbahaya adalah Virus B. Hepatitis akibat dari serangan Virus B relatif lebih berat, lebih banyak menimbulkan komplikasi dan kematian. Virus B ini menyerang mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek. Cara penyebaran Virus B ini antara lain lewat darah (melalui alat suntik, alat operasi, dan transfusi darah), lewat hubungan kelamin, gigitan serangga, tewat hubungan erat antara seseorang dengan penderita pembawa virus. Sedangkan Virus A cuma menyerang anak-anak yang berumur di bawah 15 tahun dan hanya menyebabkan hepatitis ringan dan jarang menimbulkan kematian. Penyebaran Virus A ini lewat tinja atau lewat makanan dan minuman yang dicemari tinja penderita. Virus B ini lebih banyak menimbulkan hepatitis kronis yang sulit diobati. Dan untuk bisa mengetahui apakah seseorang mengandung Virus B atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah ini dinamakan 'Pemeriksaan Terhadap Hepatitis B Antigen (HBAg) atau sering pula disebut sebagai 'The Australian Antigen' karena virus ini pertama kalinya ditemukan secara kebetulan pada seorang bangsa Maori dari Australia. Dan pemeriksaan HBAg itu saat ini sedan dilakukan di NTB oleh sebuah team dokter yang sejak awal Juni kemarin mengadakan survei hepatitis di NTB.
Survai tersebut merupakan kerja sama antara Kanwil Depkes NTB dengan FK Unair, dan dibiayai oleh Lembaga Penelitian & Pengembangan Depkes. Survai tersebut dilakukan berdasarkan 'pengalaman para dokter terbang yang banyak menemukan penderita hepatitis di NTB.' Yang dijadikan sample dalam survai ini adalah para pelajar & mahasiswa di kota Mataram. Meliputi 1000 orang.
100 Pejabat
Menurut dokter Soewignyo, 31 tahun, yang menjabat sebagai Ketua Pelaksana Survey Hepatitis B Depkes NTB, survai seperti ini baru pertama kali diadakan di luar Jawa. "Karena penderita hepatitis di NTB disinyalir berada di atas angka normal," kata dr. Soewignyo kepada Oka Sunandi Pembantu Tetap TEMPO di Ampenan.
Bagaimana hasil survai terhadap para pelajar dan mahasiswa tersebut? "Belum bisa diambil kesimpulan, karena survai tersebut sedang berjalan," kata Soewignyo. Menurut Soewignyo, sebelum survai resmi yang dibiayai pusat ini dilakukan, para tahun 1975 telah dilakukan General Check Up (GCU) terhadap sekurangnya 100 orang pejabat di kota Mataram. Dan hasil daripada GCU itu cukup mengagetkan. Mereka, para pejabat tersebut, umumnya penderita hepatitis asimptomatik. Menurut dr. Soewignyo, asimptomatik hepatitis ini justeru lebih banyak menimbulkan penyakit hati kronis yang sulit disembuhkan. Pada Cirrhosis hepatitis, menurut Soewignyo, hati jadi mengkerut dan sering menimbulkan busung perut, dan muntah darah. "Itulah sebabnya penyakit hati kronis ini sulit diobati, karena akan banyak menimbulkan komplikasi," kata Soewignyo.
Adapun angka yang diperoleh dari hasil GCU terhadap para pejabat di kota Mataram tersebut masih dianggap belum representatif, karena belum bisa dijadikan sebagai gambaran umum. Nah itulah sebabnya mengapa Kanwil Depkes NTB dengan bekerja sama dengan FK Unair merasa perlu mengadakan survai secara resmi dan yang lebih umum sejak bulan Juni kemarin. Tujuan utama dari survai yang diberi judul 'Virus Hepatitis B Pada Pelajar & Mahasiswa di Mataram' ini menurut dr. Soewignyo adalah "untuk mengetahui berapa prosen dari pelajar dan mahasiswa di kota Mataram yang mengandung Virus B." Mengapa yang dijadikan sasaran contoh cuma pelajar dan mahasiswa saja?
"Karena pelajar & mahasiswa dianggap dapat menggambarkan keadaan masyarakat setempat, maka prosentase yang didapat dalam survai nanti tak akan jauh berbeda dengan prosentase yang terdapat dalam masyarakat," jawab Soewignyo. Selanjutnya ia mengatakan, bahwa bila angka yang diperoleh dalam survai cukup besar, maka akan dilakukan tindakan pencegahan yang terarah, misalnya dengan mengadakan vaksinasi massal.
Menurut Soewignyo seseorang akan mudah terkena serangan hepatitis B antara lain kalau orang tersebut menderita kekurangan protein. Nah, kalau ini benar, maka bisa diperkirakan lebih separoh dari penduduk NTB yang berjumlah nyaris 2« juta jiwa adalah penderita hepatitis B tanpa gejala. Sebab sebagai kata dr. Burhanuddin Anwar Tayibnapis MPH, Kepala Kanwil Depkes NTB, di NTB, khususnya di Lombok, penduduk yang berdiam di desadesa banyak yang mengalami malnutrisi. 80% dari penduduk NTB berdiam di desa-desa.
Tapi mengapa dalam GCU yang dilakukan terhadap 100 orang pejabat di Mataram tempo hari, banyak dari mereka yang ternyata menderita asimptomatik hepatitis? Apakah para pejabat tersebut kurang protein? "Protein itu adalah soal ilmu. Jadi tak mesti setiap pejabat tahu, jenis makanan apa yang banyak atau sedikit mengandung protein," tangkisnya.
