• Home
  • 20 Agustus 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Pendidikan
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Agustus 1977

    Atlit Daerah, Di Mata Juri Daerah

    APAKAH yang akan anda katakan jika seorang juri menilai kurang loncatan anda, hanya lantaran anda tidak mewakili daerah yang sama dengannya? Anda cuma bisa mendongkol dalam hati. Maklum juri punya wewenang penuh untuk meilai apa yang anda lakukan, sesuai dengan pengamatannya. Apalagi penilaian loncat indah tidak didasari perhitungan angka-angka yang eksak yang terlepas dari pertimbangan subjektifitas, bukan? Dalam pertandingan loncat indah PON IX lalu, taktor subjektifitas itu tak kurang mengkatrol peloncat indah ke tempat terhormat. Misalnya, peloncat indah Harli Ramayani dari Jakarta. Ia mungkin tidak akan meraih medali perunggu, seandainya juri M. Murni tidak memberi perbedaan angka yang tinggi dibanding penilaiannya terhadap Lie Fung Ing dari Yogya. Murni dari Jakarta memberi penilaian akhir untuk Harli 345,75. Sedang Lie Fung Ing ditempatkannya di bawah urutan tersebut dengan perbedaan angka 10,50. Angka final kedua peloncat itu terpaut dalam selisih perhitungan yang tipis -- Harli 343,38 dan Lie Fung Ing 342,84. Keputusan itu dituangkan setelah penilaian ketujuh juri digodog untuk penentuan akhir. Sukar Dielakkan Yang berlaku subjektif, bukan hanya Murni. Juga juri Yogya, Soepadmo. Ia menempatkan Lie Fung Ing sebagai caIon peraih medali perunggu. Dan menggeser Harli ke urutan kelima. Perilaku yang menyolok dari kedua penilai itu menyebabkan mereka menempati terbawah dalam rangking juri -- Murni menduduki urutan keenam, Soepadmo di tempat ketujuh. "Faktor subjektifitas juri itu memang sukar dielakkan dalam menilai loncat indah," ujar tokoh loncat indah Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI), Yasin. "Terutama bila yang dinilai itu adalah atlit daerahnva sendiri." Hal serupa juga terjadi dalam mata lomba senam. Karena cabang olahraga ini pun belum mempunyai perhitungan yang pasti. Dalam Olympiade Montreal, tahun 1976 lalu penilaian juri atas Nadia Comaneci, bintang senam Rumania yang tanpa kesalahan sama sekali, tak kurang mengundang protes. Para tukang protes menganggap hasil penjurian terlalu berlebihan. Comaneci mendapat nilai 10 hampir untuk setiap nomor peragaannya. Semua itu dilakukan oleh jurijuri yang sudah teruji kebolehannya. Apalagi dengan hasil akhir nomor senam PON IX yang masih belum taraf Olympiade, bukan? Mengingat nomor-nomor ini memungkinkan subjektifitas juri dituangkan pada penilaian ketrampilan atlit, Ketua Komite Olympiade Internasional, Lord Killanin tak kurang mengajukan rencana untuk menghapuskan semua mata lomba yang penilaiannya didasarkan pada kebijaksanaan manusia. Ide ini mungkin jalan ke luar yang terbaik daripada penilaian selalu disertai sikap ketidak-puasan dari mereka yang dirugikan. Bagaimana di Indonesia? Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tampak belum menyinggung masalah serupa. Atau sikap subjektif para juri tersebut memang tak perlu dipersoalkan di sini?

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Telah berubah

Buku

Catatan '45

Ilustrasi

Banyak ditiru orang mampu

Panggil dia mas broto

TEMPO|interaktif

Para Ahli yang Identifikasi Korban Sukhoi

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif