• Home
  • 27 Agustus 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 27 Agustus 1977

    Hujan es, pupuk dan garam

    HARI Minggu lalu, berakhirlah hujan lima hari yang menyirami bumi Wonogiri dan Pacitan - dua daerah tandus yang menjepit perbatasan selatan Jateng dan Jatim. Hujan itu bukan hujan biasa, karena butirannya lebih besar, lebih dingin dan lebih keras dari tetesan air hujan yang paling deras. Sebelumnya, hujan serupa telah turun pula di daerah Parung, Lebakwangi dan Bogor, tiga hari berturut-turut (26 - 28 Juli). Inilah percobaan "hujan buatan" yang pertama di Indonesia, hasil kerjasama antara IPB, Deptan, Lembaga Meteorologi & Geofisika, TNI-AU, Pertamina dan PT Nurtanio. Pemrakarsa dan penanggungjawab: Menteri Riset dan Sekretaris Negara. Kepala tim: ir Subagio. Prinsipnya sederhana saja. Daerah yang tandus bukannya tak pernah dilewati awan hujan. Namun arus udara panas yang naik ke angkasa dari tanah gersang itu mencegah kondensasi uap air dalam awan. Malah angin panas itu boleh dikata "mengusir" awan hujan itu menjauhi daerah tandus. Sehingga konvoi awan itu berlalu begitu saja, tanpa mendrop muatannya yang sangat didambakan manusia, hewan dan tumbuhan di daerah tandus itu. Sudah Dua Abad Eksperimen Nah, di situlah perlu bantuan campur tangan manusia untuk "memaksa" sang awan mendrop muatannya di tempat yang dikehendaki - kemudian sirna. Sudah dua abad lamanya eksperimen diadakan. Baik didasarkan ilmu pengetahuan modern, maupun yang diilhami tradisi masyarakat primitif, seperti penyalaan api unggun raksasa agar bibiti ihit air dalarn awan berkondensasi akihal rangsangan partikel asap. Tahun 1890 misalnya, seoang jenderal di Texas (AS), Robert G. Dyrenforts, menembakkan sejumlah bahan peledak ke awan sementara balon-balon berisi oxydydrogen diletuskan di angkasa. Hasilnya: Hujan lebat. Tapi para ahli cuaca waktu itu --dan sampai kini -- masih meragukannya. Juga di abad ini, di California pernah diadakan percobaan merangsang hujan dengan tenaga listrik. Maksudnya agar ion-ion listrik di udara menjadi inti kondensasi uap air di atmosfir. Tapi percobaan ini -- yang diilhami oleh munculnya hujan deras sesudah petir menggelegar - tak begitu berhasil rupanya. Cara lain yang kini paling populer dan juga ditiru dalam eksperimen di atas Bogor, Wonogiri dan Pacitan itu -- ditemukan oleh Vincent J. Schaefer dan Irving Langmuir, dua ahli dari laboratorium General Electric, AS (1946). Mereka menaburi awan-awan yang sudah 'hamil tua' itu dengan bahan kimia yan super dingin, seperti karbondioksid C02 ) padat alias dry ice yang suhunya Jninus 40ø C. Atau menembaki awan-awan dengan perak xiodida (AgJ2) yang efeknya sama dengan penaburan awan (cloud seeding) dengan 'es kering' tadi. Hasilnya: suhu uap air turun hingga mencair (kondensasi), dan menetes ke bumi bersama debu es kering atau perak xiodida itu. Itu sebabnya butiran hujan buatan itu terasa lebih dingin, lebih keras dan lebih besar daripada tetesan hujan biasa. Dalam percobaan di Bogor dan di perbatasan Jateng-Jatim itu, diperkenalkan suatu variasi baru. Bersamaan dengan penaburan 100 gram CO2 padat di atas tiap bungkah awan, para penerbang juga menyebarkan masing-masing 1,5 ton pupuk urea dan 1,5 ton garam dapur di atas tiap 25 Km2 bumi. Maksudnya untuk sekaligus menyuburkan tanah yang disirami hujan itu - dua lalat sekali tepuk. Setidaknya menetralisir akibat negatif terhadap kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman karena konsentrasi CO2 dan AgJ2 dalam tanah meninggi karena rembesan hujan buatan itu. Pengalaman AURI Percobaan itu dapat dilakukan, juga berkat pengalaman penerbang TNI-AU - khususnya yang terlibat dalam Satuan Wara Pertanian (SUP), itu proyek kerjasama TNI-AU dan Deptan - menyemprotkan pestisida dan DDT ke bumi serta penaburan bibit dari udara. Ini jauh lebih sulit dilakukan dari pada menerbangkan pesawat pancargas sebangsa Mig 19 dan Mig 21 - yang sudah lama nongkrong karena kehabisan onderdil. Penyemprotan dari udara tak membutuhkan kecepatan terbang yang tinggi. Namun perhitungar} kecepatan angin lebih vital. Juga pengaturan derasnya semprotan serta viskositas cairannya. Sebab yang diperlukan adalah lapisan semprotan tipis meliputi bidang luas, tapi terbatas. Seluas daerah yang mau dihujani itu sajalah. Makanya, boleh dikata tanpa operasi penyemprotan hama SUP - yang sudah merenggut nyawa seorang penerbang, Kapten (U) Kadar Sidik - eksperimen hujan buatan minggu lalu itu tak akan sesukses seperti yang digambarkan ketua tim, ir Subagio pada Antara. Namun selain prestasi para penerbang itu, apa yang dapat diharapkan dari eksperimen hujan buatan itu sendiri? Penaburan awan secara besar-besaran dengan seluruh armada TNI-AU, SUP dan Pertamina di atas tanah-tanah tandus? Masih dalam taraf eksperimentil, percobaan itu masih akan dilanjutkan di Sumbawa. Kemudian, mungkin ke Sulawesi. Namun kalau toh mau dilakukan dalam taraf sungguhan, mungkin perlu penyiapan lebih matang di atas buminya sendiri. Bukan cuma di atas awan. Sebab hujan deras, keras dan dingin seperti itu, yang mirip seperti hujan es yang sering juga turun di musim salju, sama sekali. tak lumrah di Indonesia. Selain itu, tanah yang tandus, kering dan rapuh seperti di Wonogiri - di mana setiap tahun hujan dan banjir yang alamiah saja mengupas bermilimeter lapisan tanah atas setiap tahun -- bisa lebih ganas erosinya akibat hujan buatan itu. Sehingga mau tak mau, hujan buatan yang paling hebat pun tak membatalkan kemutlakan perlunya penghijauan besar-besaran di tanah kritis itu. Akhirnya, kalau tanah kritis di Jawa. Nusa Tenggara dan Sulawesi berhasil dihijaukan kembali - dengan dirangsang hujan buatan di mana perlu -- hujan alamiah akan mampir kembali di tanah kritis itu. Sebab pepohonan dan tanarnan lainnya akan membuyarkan sebagian arus udara panas yang tadinya mengusir awan hujan dari kawasan tandus itu. Dan humus yang dibentuk oleh daun yang rontok ke tanah, akan kembali menjadi spons penyimpan air yang berlebih di musim hujan. Juga, terlalu banyak bermain-main dengan zat kimia seperti C02 di angkasa, tak begitu sehat bagi pernafasan dan komposisi atmosfr kita sendiri. Sama halnya seperti gas asam arang buangan dari cerobong pabrik, knalpot mobil dan motor serta paru-paru manusia di daerah yang kelewat padat penduduknya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Kekejaman dimana-mana

Seni Rupa

Mata seorang imigran

Orang bali milih jawa

Ilustrasi

Mimbar-mimbar mbah roestam

Suka Duka

Bila kamu disakiti balaslah, ...

TEMPO|interaktif

Para Ahli yang Identifikasi Korban Sukhoi

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif