• Home
  • 22 Oktober 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 22 Oktober 1977

    Menolak Ke Panas Bumi

    KRISIS enerji yang mengharu-biru dunia di tahun 1973 ternyata telah tidak mendoron orang supaya berhemat. Pemakaian minyak malah makin meningkat di mana-mana. Presiden Carter dalam konperensi persnya minggu lalu gusar sekali melihat fakta Amerika Serikat mengimpor minyak sebanyak enam kali jumlah produksi dalam negerinya, atau melebihi impor semua negara Eropah. Kegusaran itu menggema pula di Jakarta ketika berlangsung konperensi ASCOPE (lihat box). Usaha mencari sumber enerji non minyak, yang dulu disepelekan, kelihatan mendapat prioritas ASCOPE (Dewan Perminyakan ASEAN). Terutama Indonesia makin keras menyuarakan bagaimana pentingnya supaya produksi minyak bisa terus diekspor. Tapi ekspor minyak Indonesia, yang tahun ini akan mencapai $ 6,35 milyar, dibayangkan akan terancam pada tahun 1980-an berhubung makin meningkatnya konsumsi dalam negeri (kini 11-13% setiap tahun). Indonesia kini sudah terpaksa mengimpor bahan bakar tertentu, seperti Avtur, premium, oli diesel industri, minyak tanah (kerosene) dan solar yang dikilang di luar negeri, supaya menghemat minyak mentah kita guna keperluan ekspor. Bahkan kini ada pula rencana mendesak untuk membangun kilang minyak baru di pulau Batam, dengan a.l. investasi Kuwait, yang bertujuan melayani kebutuhan bahan bakar yang meningkat di dalam negeri terutama sekali. Dengan besarnya ekspor minyak, Indonesia mampu mencicil hutang. Menteri EKUIN Widjojo Nitisastro pernah mengingatkan bahwa Indonesia masih perlu meningkatkan ekspor non-minyak supaya perbandingan 1:20 (perimbangan cicilan hutang dan jumlah ekspor) jangan dilampaui. Bisakah itu, mengingat besarnya cicilan makin tinggi? Paling Rendah Produksi minyak Indonesia selama semester pertama tahun anggaran ini 1,69 juta barrel/hari, dibanding 1,5 juta barrel/hari dalam periode sama tahun lalu. Naik sedikit saja dan kenaikannya akan pelan sekali, terutama mengingat usaha eksplorasi mandeg tahun lalu. Namun ada sedikit menggembirakan, menurut Dir-Ut Pertamina Piet Harjono minggu lalu, karena usaha eksplorasi itu mulai berjalan lagi sehingga jumlah sumur yang dibor sekarang mencapai 80, dibanding cuma 40 tahun lalu. Dibanding negara ASEAN lainnya, konsumsi enerji per kapita di Indonesia per tahun paling rendah: 0,8 barrel. Bandingkan, berdasar laporan Bank Dunia tahun 1973, dengan: Singapura 11 barrel Malaysia Barat 2,7 Pilipina 1,8 dan Muangthai 1,6. Dengan derap pembangunan ini, Indonesia tidak akan mengekang, melainkan sebaliknya harus mempertinggi konsumsi enerji itu. Pemerintah RI, dengan mempertahankan subsidinya, nampak membiarkan konsumsi meningkat. Tapi sementara itu mulai sungguh-sungguh menggali sumber enerji non-minyak. Maka kini ada pemikiran supaya batubara dipakai lagi sebagai pengganti minyak untuk mesin pembangkit tenaga listrik. Apalagi tambang batubara di Sumatera Selatan sedang digalakkan dengan investasi perusahaan minyak Shell. Tapi lebih serius lagi ialah usaha pemerintah membangun tenaga geothermal (sumber panas bumi). Pertamina sekarang membor di Kemojang (Jawa Barat yan diharap akan menghasilkan tenaga listrik sebesar 150 MW di akhir 1980, dan di Sikidang (Dieng, Jawa Tengah) yang diharapkan membangkitkan sekitar 100 MW dalam 5-7 tahun lagi. Betapa besarnya tenaga geothermal, coba bayangkan waduk Jatiluhur yang besar itu menghasilkan 125 MW. "Jika sumber panas bumi ini bisa dimanfaatkan," kata Dir-Ut Piet Harjono, "lebih banyak minyak yang dapat dijual Indonesia ke luar negeri." Soalnya apakah Pertamina, yang baru mulai sembuh dari kejutan hutang dan salah-urus itu, mempunyai modal? "Kita mengundang partisipasi modal asing," kata Dir-Ut Pertamina itu. Rupanya kontrak bagihasil sedang ditawarkan Pertamina pula untuk tenaga geothermal ini sebagaimana halnya untuk mencari minyak. Tapi PLN tetap akan diikutsertakannya untuk mendistribusi tenaga itu. Di kalangan ASEAN, Indonesia memang paling maju di bidang minyak. Tapi di bidang geothermal, Indonesia telah jauh ditinggalkan oleh Pilipina. Dari 25 pusat vulkanis yang ditemukan di Pilipina, lima telah dikembangkannya dan mulai tahun depan tenaga geothermalnya akan menghasilkan 168 MW, yang diharap meningkat lagi ke 500 MW pada tahun 1979. Kemiskinan Pilipina akan minyak telah mendorong negeri itu cepat-cepat memanfaatkan sumber panas bumi ini. Indonesia juga, seperti Pilipina, terletak di atas apa yang disebut geothermal belt, kaya dengan panas bumi karena barisan gunung berapinya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Kendaraan dpr

Keterangan foto

Catatan Pinggir

Jalan yang mana?

Suka Duka

Bila Anda Mengisap Rokok, ...

Seni Rupa

Yang Damai Dan Sunyi

Zaini Sehari-hari

Zaini diminta nashar zaini dimata anshar

Ilustrasi

Tiada mutiara kulitnyapun jadi

TEMPO|interaktif

Para Ahli yang Identifikasi Korban Sukhoi

Teknologi

ITB Bikin 4 Robot Baru

Satpol PP Bingung Bedakan Sosialisasi dan Kampanye

Pengaturan Kampanye Pilkada DKI Dibahas Besok

Tim Asuransi Rusia Tinjau Lokasi Sukhoi Hari Ini

Nasional

Aliansi Intelektual Kutuk Penembakan Paniai

Seni & Hiburan

Bagaimana Aksi Koboi Dahlan Iskan Terbentuk

Seni & Hiburan

Dahlan 'Ditegur' Mahasiswa Karena Tak Mikirin Kampungnya  

Seni & Hiburan

Ivan Gunawan: Kostum Lady Gaga Seksi, Bukan Jorok

Orang Tua Pilot Sukhoi Kena Serangan Jantung

Nasional

Hari Ini, 9 Kantong Jenazah Korban Sukhoi Dievakuasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif